Mataram – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus mempercepat transisi energi melalui pengembangan sektor energi baru terbarukan (EBT). Salah satu langkah strategisnya yakni dengan menggandeng investor untuk membangun tiga pembangkit listrik berbasis EBT dengan total kapasitas mencapai 130 Megawatt (MW).
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, Samsudin, menyampaikan bahwa rencana pembangunan tiga pembangkit tersebut merupakan hasil kerja sama antara PT Berkah Energi Lombok (BEL) dengan PT Shine Green Energy Indonesia (SGEI) serta PT PLN. Gubernur NTB turut menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kerja sama tersebut.
Rencananya, pembangunan tiga pembangkit listrik berbasiskan EBT itu mulai dilakukan pada 2026 hingga 2027.
“Investor sudah melakukan diskusi dengan Dinas ESDM, dan kemarin Bapak Gubernur menyaksikan langsung MoU antara PT Berkah Energi Lombok dan PT SGEI bersama PLN. Rencananya pembangunan dilakukan pada 2026-2027,” ujarnya pada Senin, (10/11/2025).
Pembangkit listrik EBT yang akan dibangun terdiri atas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Lokasinya tersebar di tiga wilayah, yakni PLTS berkapasitas 20 MW di Desa Anyar, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. PLTS berkapasitas 50 MW di wilayah Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima.
PLTB berkapasitas 2×30 MW di Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.
Menurut Samsudin, saat ini investor tengah melakukan studi potensi dan akan melanjutkan ke tahap studi kelayakan atau feasibility study (FS). Untuk rencana pembangunan PLTB di Sekotong, pihak investor juga sedang melakukan kajian kekuatan angin dengan pemasangan menara pengukuran.
“Tahun ini mereka mengurus perizinan ke Kementerian Kehutanan, karena sebagian lokasi berada di kawasan hutan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Samsudin menegaskan bahwa posisi NTB sangat strategis dalam kerja sama antar provinsi bersama Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam skema tersebut, NTB berperan sebagai pusat konektivitas energi terbarukan di kawasan timur Indonesia.
“Kami, Dinas ESDM memastikan NTB menjadi salah satu lokasi terkoneksinya pemanfaatan EBT. Makanya harus terkoneksi dengan Bali. Karena dia pasti membutuhkan pasokan listrik. Malah dengan EBT ini, kita bisa menjual carbon trade,” ungkapnya.
Berdasarkan data Dinas ESDM NTB, potensi energi terbarukan di provinsi ini mencapai 13.563 MW. Rinciannya meliputi potensi bioenergi sebesar 298 MW, sampah kota 32 MW, tenaga angin 2.605 MW, dan tenaga surya 10.628 MW.
Saat ini, kontribusi energi terbarukan dalam bauran energi daerah baru mencapai 22,43 persen, yang terdiri dari pemanfaatan bio solar (B35), PLTS On Grid sebesar 21,6 MW, PLTS Off Grid PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) sebesar 28 MW, PLTMH 18,59 MW, serta cofiring PLTU menggunakan biomassa dan biogas skala rumah tangga.
“Pemanfaatan energi terbarukan terus kita dorong untuk menekan emisi karbon dan memperkuat kemandirian energi daerah,” pungkasnya. (ril)


Komentar