Mataram – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi NTB melaksanakan kegiatan Pendidikan Pemilih Pemula bertajuk ‘Speak Up: Berani Bersuara, Berani Memilih’ di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Mataram, Senin (24/11/2025). Kegiatan ini digelar bekerja sama dengan RRI Mataram.
Hadir sebagai pemateri yakni Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan SDM KPU NTB, Agus Hilman. Turut hadir Kepala MAN 2 Mataram, H. Lalu Syauki, serta perwakilan Kanwil Kemenag NTB, Karya Gunawan.
Dalam penyampaiannya, Agus Hilman menjelaskan peran penting pemilih pemula baik sebelum maupun setelah pelaksanaan Pemilu dan Pilkada. Ia mengajak generasi Z agar berani menyuarakan pendapat dan berani menentukan pilihan politiknya.
“Jangan takut berbicara politik. Memilih pada pemilu maupun pilkada itu sangat dekat dengan kehidupan para siswa. Faktanya pada Pilkada 2024 yang lalu pemilih muda millenial dan Gen Z itu sampai 60 persen presentasenya”, ujarnya pada Senin, (25/11/2025).
Agus menekankan bahwa pilihan politik harus dilakukan dengan cara yang benar, bukan sekadar ikut-ikutan. Ia mengingatkan agar pemilih pemula tidak terjebak pada hoaks, tekanan, atau tindakan perundungan, dan bahkan pada pada praktek politik pragmatis.
Menanggapi pertanyaan siswi terkait fenomena Fear of Missing Out (Fomo) atau fenomena hanya sekedar mengikuti tren di kalangan Gen Z saat menentukan pilihan, Agus menyebut bahwa hal itu bisa memiliki sisi positif, salah satunya meningkatkan partisipasi pemilih, kendati hal tersebut memiliki sisi negatifnya dalam menentukan pilihan.
“Fomo itu sisi lain ada yang positif juga, seperti meningkatkan Partisipasi, dengan Fomo minimal ada semangatnya untuk memilih. Yang paling penting adalah bagaimana kita memilih karena melihat visi dan misi kandidat,” terangnya.
Sementara itu Kepala MAN 2 Mataram, H. Lalu Syauki, menegaskan pentingnya literasi politik bagi siswa. Ia menjelaskan bahwa sekolahnya telah mengadopsi mekanisme ala KPU dalam pemilihan Ketua Organisasi Intra Madrasah (ORSIMA), mulai dari debat, kampanye, hingga pencoblosan.
“Hal ini harus kita biasakan,” katanya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada KPU NTB karena melalui pendidikan pemilih ini, sekolah dapat membentuk siswa-siswi yang siap berpartisipasi aktif dan menjadi warga negara yang baik.
Perwakilan Kanwil Kemenag NTB, Karya Gunawan, dalam kesempatan itu menekankan pentingnya etika dalam menyampaikan pendapat. Ia mengatakan regulasi terkait bagaimana menyampaikan pendapat harus dijunjung untuk menegakkan prinsip-prinsip berdemokrasi.
“Etika harus diutamakan, dan ada tahapan-tahapan dalam penyampaian pendapat,” tukasnya.
Ia juga memaparkan upaya Kemenag dalam mencegah paham radikal di lingkungan pendidikan. Menurutnya, Kemenag telah menerapkan kurikulum cinta sebagai bagian dari strategi membangun karakter moderat di sekolah.
“Di Kemenag sendiri telah menerapkan kurikulum cinta, ini salah satu program untuk mengantisipasi sikap-sikap radikal di sekolah,” pungkasnya. (ril)


Komentar