Mataram – Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Bumi Gora telah mencapai lebih dari 4.000 secara kumulatif hingga tahun 2025. Penemuan kasus baru berada di angka 73 persen.
Kepala Dinas Kesehatan NTB, Lalu Hamzi Fikri, menjelaskan bahwa temuan kasus baru terus meningkat setiap tahunnya. Angka itu pun berpotensi untuk terus bertambah seiring dilakukannya screening dan tracking atau pengecekan.
”Lebih dari 4 ribu, tapi detailnya saya agak lupa, yang jelas semua kalangan, semua profesi, itu sudah ada sekarang. Persentase capaian penemuan kasus baru HIV per kabupaten kota sampai 2025 itu 94,8 persen. Kemudian di NTB penemuan kasus barunya di angka 73 persen,” ujarnya saat ditemui di kantor gubernur, pada Senin (1/12/2025).
Hamzi menyebut bahwa kondisi HIV di NTB harus menjadi perhatian serius meski bukan satu-satunya penyakit berbahaya seperti tuberkolosis (TBC). Ia mencontohkan risiko seperti penggunaan narkoba suntik, perilaku seksual berganti-ganti pasangan, maupun hubungan sesama jenis adalah faktor terinfeksi HIV.
”Kalau bicara soal ini, TBC lebih ngeri lagi. HIV ini kan silent, artinya sekarang butuh kesadaran untuk memeriksakan diri ketika punya faktor risiko,” katanya.
Ia juga menjelaskan sakah satu faktor yang menyebabkan meningkatnya kasus HIV di NTB adalah para pekerja migran. Kendati berangkat ke kuar negeri dengan kondisi tidak terpapar, namun ketika pulang kerap terinfeksi HIV. Hamzi juga mengatakan bahwa penyebaran HIV telah menjangkau berbagai kelompok usia dan profesi.
”Dari semua profesi itu ada. Misal TKI, ketika diperiksa di dalam negeri hasilnya bagus, kemudian di luar negeri entah apa yang terjadi dan pulang membawa HIV. Itu yang harus kita antisipasi dengan screening saat berangkat dan pulang,” tuturnya.
Untuk pencegahan penyebaran lebih awal, Hamzi menjelaskan Dinkes NTB melakukan screening di seluruh kabupaten/kota. Tercatat capaian screening HIV di NTB hingga Oktober 2025 mencapai 94,8 persen, dengan capaian terendah berada di Kabupaten Bima sebesar 61 persen.
”Yang terendah itu Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Lombok Utara,” jelasnya.
Dinkes NTB juga melakukan langkah tracking serupa dengan mekanisme saat pandemi Covid-19, dengan menanyakan lebih dalam kepada para pengidap gejala HIV. Hamzi menjamin bahwa seluruh proses konseling dan pelacakan kasus dijaga kerahasiaannya karena stigma sosial terhadap HIV masih tinggi.
”Ketika seseorang tahu statusnya, petugas puskesmas akan menanyakan secara individual kepada yang bersangkutan, dengan siapa saja dia sudah berhubungan. Ini sangat sensitif dan membutuhkan kejujuran,” tandasnya.
Hingga kini, Dinkes mencatat bahwa 83 persen dari total kasus HIV di NTB saat ini sudah menjalani pengobatan. Meski begitu, Hamzi menegaskan pentingnya pencegahan sebagai langkah utama terutama ketika melakukan hubungan badan dengan pasangan.
”Pencegahannya itu ya pakai kondom, menghindari paparan, menghindari faktor risiko tadi. Intinya setia pada pasangan,” pungkasnya. (ril)


Komentar