Peristiwa
Home » Berita » Waria Tukang Cukur di Loteng Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur

Waria Tukang Cukur di Loteng Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur

Tempat cukur sederhana di wilayah pedesaan Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, yang diduga menjadi lokasi pencabulan belasan anak laki-laki di bawah umur oleh pemiliknya berinisial Z. Saat ini tempat tersebut tengah diselidiki Polres Lombok Tengah setelah laporan dari Kepala Desa Selebung dan pengakuan korban. (Dok:WartaSatu/ilustasi Grok.)

Lombok Tengah — Kepolisian Resor (Polres) Lombok Tengah (Loteng), sedang menyelidiki laporan dugaan pencabulan yang dilakukan seorang waria pemilik tempat cukur berinisial Z di wilayah Kecamatan Batukliang. Kasus ini mulai mencuat setelah aparat desa menerima informasi dari masyarakat tentang adanya anak-anak yang diduga menjadi korban perbuatan tidak senonoh.

‎Kasi Humas Polres Lombok Tengah, Iptu Lalu Brata Kusnadi, membenarkan bahwa laporan resmi sudah diterima dan langsung ditangani penyidik unit PPA Satreskrim.

‎“Benar, laporannya telah kami terima. Sedang ditangani di Polres,” kata Brata kepada wartawan, Jumat (5/12/2025).

‎Ia menjelaskan, laporan pertama kali disampaikan oleh Kepala Desa Selebung, Agus, yang melaporkan terduga pelaku berinisial Z. Laporan itu muncul setelah Kades mendapat pengakuan langsung dari seorang anak yang terpaksa putus sekolah akibat perlakuan tidak pantas.

‎Saat melakukan pendataan anak putus sekolah di wilayahnya, Agus bertemu dengan seorang anak berinisial O. Anak tersebut mengaku tidak lagi melanjutkan pendidikan karena sering mengalami tindakan tidak senonoh di rumah sekaligus tempat usaha cukur milik Z.

‎“Setelah mendapatkan keterangan dari O, Pak Kades kemudian menelusuri lebih lanjut,” jelas Brata.

‎Dari hasil penelusuran itu, anak berinisial O menyebutkan ada temannya berinisial N yang juga mengalami kejadian serupa di tempat yang sama.

‎“Setelah tahu korbannya lebih dari satu, Pak Kades langsung melaporkan kejadian tersebut,” tambah Brata.

‎Polisi hingga kini masih terus mendalami penyelidikan untuk memastikan jumlah korban yang sebenarnya. Dari informasi awal yang berkembang di masyarakat, jumlah anak yang menjadi korban diduga mencapai belasan orang.

‎Sampai saat ini, penyidik sudah memeriksa empat orang yang terkait langsung dengan laporan tersebut, yaitu pelapor (Kades Agus), dua anak yang mengaku menjadi korban (O dan N), serta satu orang saksi lainnya.

‎“Pemeriksaan terus berjalan dan semua keterangan sedang kami dalami,” tandas Brata.(zal)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan