Lombok Tengah – Sebuah video yang memperlihatkan warga Dusun Gerintuk Pemoles, Desa Batu Jangkih, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), bergotong royong menandu seorang warga yang meninggal dunia sejauh sekitar 1,5 kilometer (km) viral di media sosial.
Aksi tersebut dilakukan lantaran kondisi jalan rusak parah dan tidak dapat dilalui kendaraan, termasuk ambulans.
Video yang diunggah akun Facebook Paul Fadila pada Selasa (15/12/2025) malam itu memperlihatkan warga mengangkat jenazah secara manual di tengah kondisi jalan berlumpur. Dalam unggahannya, Paul menuliskan keprihatinan atas kejadian tersebut.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, karena tidak bisa masuk mobil, terpaksa digotong sejauh 1,5 km,” tulisnya dikutip WartaSatu, Selasa (16/12/2025).
Unggahan tersebut menuai beragam reaksi warganet. Salah satunya datang dari Raffi Candra Widiaguna yang mempertanyakan peran pemerintah dalam kondisi darurat masyarakat.
“Seharusnya ada tindakan darurat dari pemerintah karena kondisi ini sangat menyulitkan masyarakat. Kenapa harus menunggu laporan baru bertindak? Sampai kapan kita harus seperti ini,” tulisnya di kolom komentar.
Ia juga menyoroti ketimpangan pembangunan infrastruktur antara wilayah perkotaan dan desa terpencil.
“Wilayah dekat kota sudah berulang kali diperbaiki dan diperhatikan. Kami di sini kapan?” lanjutnya.
Sementara itu, pihak keluarga almarhum membenarkan peristiwa tersebut. Abdurrahman, perwakilan keluarga, mengatakan jenazah yang ditandu merupakan Fadilah/Amaq Jumali (60), warga Dusun Gerintuk Pemoles.
Menurutnya, almarhum sebelumnya menjalani perawatan di Rumah Sakit Gerung dan meninggal dunia di rumah sakit tersebut. Namun, ambulans tidak dapat masuk ke dusun akibat kondisi jalan yang rusak berat.
“Almarhum meninggal di Gerung. Karena ambulans tidak bisa masuk ke jalan yang rusak ini, akhirnya jenazah kami bopong bersama-sama untuk dibawa pulang ke rumah,” jelas Abdurrahman saat dikonfirmasi.
Ia menambahkan, jalan tersebut sebenarnya sedang dalam tahap perbaikan, namun pengerjaannya terhenti karena musim hujan.
“Proyeknya sedang berjalan, tapi mungkin karena hujan jadi mandek,” katanya.
Abdurrahman juga mengungkapkan bahwa kejadian serupa bukan kali pertama terjadi di wilayah tersebut.
“Sebelumnya juga pernah ada warga sakit yang harus digotong ramai-ramai untuk dibawa berobat,” ujarnya.
Ia menyebut jarak dari titik ambulans parkir ke rumah duka sekitar 1,5 kilometer dan sama sekali tidak bisa dilewati kendaraan.
“Semua pelayat juga parkir di tempat ambulans semalam, lalu berjalan kaki ke rumah almarhum,” pungkasnya.
Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan akses infrastruktur dasar di wilayah pedesaan Lombok Tengah, khususnya dalam situasi darurat yang menyangkut keselamatan dan kemanusiaan. Hingga berita ini diterbitkan, pemerintah Lombok Tengah belum memberikan tanggapan terkait hal tersebut. (buk)


Komentar