Mataram – Senat Universitas Mataram (Unram) resmi mengusulkan tiga nama Calon Rektor Unram Periode 2026-2030 kepada Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek). Tiga nama tersebut lolos setelah menyisihkan dua bakal calon rektor lainnya dalam proses penjaringan.
Berdasarkan hasil pemungutan suara Senat Unram, Prof Sukardi meraih 34 suara, Prof Muhamad Ali memperoleh 16 suara, dan Prof Kurniawan mengantongi enam suara. Sementara Prof Dedy Suhendra memperoleh satu suara dan Prof Yusron Saadi dua suara.
Salah satu calon rektor yang diusulkan, Prof Muhamad Ali, mengaku perolehan 16 suara yang diraihnya berada di luar perkiraannya. Ia menilai lonjakan dukungan tersebut mencerminkan harapan para guru besar dan sivitas akademika agar capaian dan prestasi Unram saat ini dapat terus dipertahankan.
“Saya enggak menyangka suara saya melebihi suara Pak Rektor saat pencalonan sebelumnya. Ini bentuk, harapan dan kemajuan agar prestasi Unram saat ini bisa dipertahakan oleh figur yang tepat,” ujarnya pada Selasa, (23/12/2025).
Dekan Fakultas Peternakan Unram itu menegaskan, berbagai kebijakan dan capaian positif yang telah dibangun pimpinan Unram saat ini akan dilanjutkan dan ditingkatkan. Ia juga optimistis Mendiktisaintek Brian Yuliarto akan menentukan pilihan berdasarkan data, rekam jejak, serta kapasitas para calon rektor.
“Mewujudkan visi Pak Mendiktisaintek, maka Unram harus banyak berkolaborasi meningkatan risetnya. Insya Allah, semua kekuatan Unram akan kita satukan bersama dengan pola kepemimpinan yang kolektif kolegial. Saya yakin dan optimis, Pak Menteri akan memilih berdasarkan pertimbangan pengalaman dan kapasitasnya,” ungkapnya.
Ia menilai, transformasi menuju daya saing global merupakan keniscayaan agar perguruan tinggi mampu berperan aktif dalam pergaulan akademik internasional. Menurutnya, kolaborasi lintas negara “beyond national interests” harus diperkuat melalui kemitraan dengan universitas kelas dunia. Sejumlah capaian internasional Unram disebutnya menjadi modal penting untuk melangkah lebih jauh.
“Saat ini kita berada di peringkat 19 nasional PTN BLU versi QS Ranking dan peringkat 28 versi Times Higher Education Indonesia,” jelasnya.
Pengalaman akademik internasional Prof Ali, termasuk menempuh pendidikan doktoral di Nagoya University serta menjalani program postdoctoral di luar negeri, diyakini menjadi bekal strategis untuk memperluas jejaring global Unram.
Selama berkarier, ia juga dipercaya memegang sejumlah posisi strategis, seperti Ketua LPPM dua periode, Dekan Fakultas Peternakan, hingga Ketua Indikator Kinerja Utama (IKU).
Capaian IKU Unram di bawah kepemimpinannya menunjukkan lonjakan signifikan, dari peringkat 27 nasional pada 2022 menjadi peringkat 3 nasional Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Badan Layanan Umum (BLU) pada 2024. Pada periode yang sama, anggaran Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) Unram meningkat dari Rp17 miliar menjadi Rp57 miliar.
“Capaian itu menjadi bukti bahwa kerja keras kolektif bisa mengubah peta daya saing kampus,” tegasnya.
Ke depan, Prof Ali menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memberikan dampak nyata bagi masyarakat, dunia usaha, dan industri. Ia menargetkan riset Unram lebih berorientasi pada solusi atas isu-isu strategis NTB, seperti kemiskinan, ketahanan pangan, dan pariwisata.
“Unram harus menjadi motor inovasi yang mengawal visi NTB Makmur Mendunia,” tukasnya.
Untuk memperluas akses pendidikan, Prof Ali menggagas transformasi digital melalui penerapan blended learning atau pembelajaran bauran serta pembangunan kampus satelit di Lombok Utara dan Sumbawa.
“Sistem pembelajaran akan mengadopsi model blended learning yang memadukan teori di Mataram dengan praktik lapangan (on farm) di daerah. UNESCO menuntut universitas tidak hanya mengajarkan how to know, tetapi juga how to do,” paparnya.
Ia juga berencana membuka fakultas dan program studi baru yang relevan dengan karakter NTB sebagai provinsi kepulauan, seperti fakultas kelautan dan perikanan serta manajemen sumber daya air, termasuk untuk mendukung mitigasi bencana.
Terkait infrastruktur, Prof Ali menyoroti keterbatasan luas kampus Unram yang hanya sekitar 47 hektare. Solusinya, pemanfaatan lahan luar kampus untuk kegiatan praktik dan pengembangan University Farm atau pertanian Universitas, sementara kampus utama diarahkan menjadi Science Techno Park atau kawasan terpadu penelitian dengan Unram Square sebagai wadah inovasi daerah.
“Industri udang, mutiara, lobster, hingga madu akan berkembang. Unram harus mengambil peran utama,” kata Prof Ali.
Sebagai bagian dari komitmen kampus hijau, ia juga menggagas sistem parkir terpusat di pinggir kampus dan penggunaan sepeda listrik sebagai moda transportasi ramah lingkungan di area dalam kampus.
Dengan rekam jejak akademik, pengalaman manajerial, serta jejaring internasional yang luas, Prof Ali optimistis Unram mampu tampil sebagai perguruan tinggi yanh berdaya saing global.
“Letak geografis Unram sangat strategis sebagai Southeast Gateway Indonesia. Sinergi global ini akan mempercepat terwujudnya Unram berdaya saing dunia,” tandasnya. (ril)


Komentar