Mataram – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat kondisi ekonomi sepanjang 2025 menunjukkan tren pemulihan yang sangat positif. Pertumbuhan ekonomi tidak hanya menguat, tetapi juga diikuti penurunan kemiskinan dan peningkatan penyerapan tenaga kerja.
Pada Triwulan IV-2025, ekonomi NTB tumbuh 3,97 persen dibanding triwulan sebelumnya (q-to-q) dan melonjak 12,49 persen dibanding periode yang sama tahun lalu (y-on-y). Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi NTB sepanjang 2025 tercatat 3,22 persen.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, menjelaskan capaian tersebut menandakan fondasi ekonomi daerah mulai semakin kokoh dan tidak hanya bergantung pada satu sektor.
“Ekonomi NTB mulai menunjukkan pemulihan yang kuat. Pertumbuhan ini tidak hanya ditopang oleh industri dan pertambangan, tetapi juga diperkuat oleh sektor pertanian dan perdagangan,” ujarnya saat rilis resmi BPS, Kamis (5/2/2026).
Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor industri pengolahan yang tumbuh sangat tinggi, mencapai 137,78 persen secara tahunan. Kondisi ini didorong oleh mulai optimalnya operasional smelter di NTB. Sementara itu, sektor pertambangan dan penggalian juga tumbuh signifikan sebesar 25,32 persen secara triwulanan, seiring meningkatnya produksi konsentrat tembaga.
“Industri pengolahan dan pertambangan memang menjadi motor utama. Namun sektor pertanian tetap berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat, terutama di perdesaan,” kata Wahyudin.
Selain itu, sektor perdagangan besar dan eceran juga ikut menguat, sejalan dengan meningkatnya aktivitas konsumsi dan distribusi barang di dalam daerah.
Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Ekspor tercatat tumbuh 64,09 persen (q-to-q) dan 103,11 persen (y-on-y). Pada Triwulan IV-2025, nilai ekspor luar negeri NTB mencapai USD 1,096 miliar, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya, sementara impor justru menurun.
“Ini menunjukkan neraca perdagangan NTB semakin sehat. Konsumsi rumah tangga juga tetap terjaga, yang menandakan daya beli masyarakat relatif stabil,” jelasnya.
Seiring dengan membaiknya ekonomi, BPS juga mencatat penurunan angka kemiskinan. Pada September 2025, persentase penduduk miskin di NTB tercatat 11,38 persen, turun 0,53 persen poin dibanding September 2024. Jumlah penduduk miskin berkurang menjadi 637,18 ribu orang, atau turun sekitar 21,42 ribu orang dalam setahun.
“Penurunan kemiskinan terjadi baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan juga membaik,” tuturnya.
BPS mencatat garis kemiskinan pada September 2025 sebesar Rp575.856 per kapita per bulan. Dengan rata-rata anggota rumah tangga miskin sebanyak 4,37 orang, maka garis kemiskinan per rumah tangga berada di kisaran Rp2,51 juta per bulan.
Di bidang ketenagakerjaan, kondisi pasar kerja NTB juga menunjukkan perbaikan. Pada November 2025, jumlah angkatan kerja mencapai 3,24 juta orang, dengan jumlah penduduk bekerja sebanyak 3,14 juta orang. Penambahan tenaga kerja terutama terjadi di sektor konstruksi, akomodasi dan makan minum, jasa lainnya, serta perdagangan.
Proporsi pekerja formal meningkat menjadi 33,45 persen, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 3,05 persen.
“Ini menunjukkan peluang kerja semakin membaik. Lebih banyak masyarakat yang terserap bekerja, dan pengangguran terus menurun,” tandasnya. (ril)


Komentar