Pemerintahan Pendidikan
Home » Berita » Dinilai Cepat Basi, BGN Ingatkan Menu MBG Jangan Berkuah

Dinilai Cepat Basi, BGN Ingatkan Menu MBG Jangan Berkuah

Koordinator Regional Program MBG Provinsi NTB, Eko Prasetyo saat ditemui usai rapat koordinasi pelaksanaan MBG di Kantor Gubernur NTB, Jumat (13/2/2026). (dok: ril)

Mataram – Badan Gizi Nasional (BGN) mengingatkan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tidak menyajikan menu yang berkuah dan bersantan lantaran berisiko cepat basi dan menjadi tempat pertumbuhan bakteri.

Imbauan ini disampaikan menyusul sejumlah kasus dugaan keracunan makanan di NTB, termasuk insiden terbaru di Desa Malaka, Lombok Utara, yang membuat 30 siswa dilarikan ke puskesmas usai menyantap MBG.

Selain di Lombok Utara, temuan serupa juga terjadi di sejumlah daerah lain di NTB. Atas rentetan kejadian tersebut, sebanyak 21 dapur MBG atau SPPG dihentikan sementara operasionalnya untuk dievaluasi dan investigasi.

Koordinator Regional Program MBG Provinsi NTB, Eko Prasetyo mengatakan hasil uji laboratorium dari kasus-kasus keracunan sebelumnya, umumnya disebabkan oleh adanya kontaminasi bakteri di dalam menu yang disajikan.

“Biasanya karena bakteri, seringkali dari air. Makanya kami sudah melarang makanan berkuah seperti bakso, mie ayam, atau yang bersantan,” ujarnya saat ditemui usai rapat koordinasi pelaksanaan MBG di Kantor Gubernur NTB, Jumat (13/2/2026).

Viral di Sosmed, Murid Dua SD di Lombok Tengah Mengaku Belum Terima MBG

Menurut Eko, makanan berkuah dan bersantan lebih berisiko cepat basi dan menjadi tempat pertumbuhan bakteri jika proses produksi dan distribusinya tidak benar-benar terkontrol.

Karena itu Eko berujar, BGN telah menginstruksikan pengawas gizi dan pengelola SPPG agar memilih menu yang lebih aman dan sederhana.

“Kalau bisa jangan pakai bahan berkuah atau bersantan. Keamanan lebih penting. Jangan yang ribet-ribet, karena kalau prosesnya sulit, potensi rusaknya juga lebih besar,” tegasnya.

Ia menegaskan, meskipun ada keinginan untuk memperkenalkan menu berbasis budaya lokal, aspek keamanan pangan tetap menjadi prioritas utama.

Terkait dapur yang bermasalah dalam menu yang disajikan, seperti terdapat ulat dan sebagainya itu kini dalam proses investigasi.

Kemenko PM Uji Kolaborasi Kementerian dan Lembaga Teken Angka Kemiskinan

Sampel makanan telah diuji di laboratorium dan hasilnya diperkirakan keluar dalam satu hingga dua pekan ke depan melalui Dinas Kesehatan.

Kendati demikian, Eko mengatakan pihaknya menyampaikan keprihatinan dan permohonan maaf atas kasus-kasus keracunan yang menimpa para siswa.

“Kami merasa simpati dan prihatin. Kami juga menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada para korban,” katanya.

Ia menegaskan, setiap insiden tersebut akan langsung direspon dengan penghentian sementara operasional dapur.

“Iya, langsung diberhentikan sementara untuk investigasi. Kita lihat dulu apakah terkait prosedur, SDM, atau bahan baku. Semua kemungkinan diperiksa,” ungkapnya.

Bermasalah, 21 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara

Lebih jauh, BGN juga menekankan pentingnya pendataan kondisi khusus siswa, seperti jika terdapat alergi makanan atau pantangan tertentu, agar tidak terjadi reaksi yang membahayakan.

“Kalau ada alergi bahan makanan tertentu, itu harus tercatat. Supaya bisa dihindari,” tandasnya. (ril)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan