Mataram – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat sebanyak 88 bencana alam melanda wilayah NTB sepanjang Februari 2026. Bencana hidrometeorologi mendominasi, dengan banjir menjadi kejadian paling banyak.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB, Sadimin menyebutkan dari total 88 kejadian, banjir terjadi sebanyak 49 kali. Selain itu, cuaca ekstrem terjadi 29 kali, tanah longsor 8 kali, serta 2 kejadian gelombang pasang atau abrasi.
“Kabupaten dan kota lainnya juga turut mencatat sejumlah kejadian bencana dengan variasi jumlah yang berbeda. Misal, Dompu dan Lombok Timur masing-masing 7 kejadian, Lombok Utara 6 kejadian, Kota Mataram dan Sumbawa Barat masing-masing 3 kejadian, dan Kota Bima hanya 1 kejadian” ujarnya pada Selasa, (3/3/2026).
Berdasarkan sebaran wilayah, Kabupaten Bima menjadi daerah dengan jumlah bencana tertinggi, yakni 24 kali. Disusul Lombok Barat 16 kali bencana, Lombok Tengah sebanyak 13 bencana , dan Sumbawa 8 kali bencana.
Selain itu, Dompu dan Lombok Timur masing-masing mencatat 7 kali diterjang bencana. Lombok Utara 6 kali, Kota Mataram dan Sumbawa Barat masing-masing 3 kali, serta Kota Bima 1 kali diterjang bencana.
Dari sisi dampak, sebanyak 69.918 jiwa terdampak akibat rangkaian bencana alam tersebut. Tercatat 5 orang meninggal dunia dan 9 orang mengalami luka-luka, namun tidak ada korban hilang dalam periode ini.
“Kalau untuk orang yang hilang sepanjang periode tersebut tidak ada” katanya.
Kendati demikian, kerusakan infrastruktur cukup signifikan. Sebanyak 444 unit rumah mengalami kerusakan, terdiri atas 25 rusak berat, 40 rusak sedang, dan 379 rusak ringan. Selain itu, 19.561 unit rumah dilaporkan terendam banjir.
Bencana yang terjadi selama Februari juga berdampak pada fasilitas pelayanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, perkantoran, pasar, dan tempat ibadah.
“Dari sisi dampaknya terhadap sektor pertanian itu, lahan pertanian itu sekitar 1.406 hektar sawah terendam,” ucapnya.
BPBD NTB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang masih berpeluang terjadi, mengingat kondisi cuaca ekstrem diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Sebelumnya, Pemprov NTB telah menyiapkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp16 miliar untuk penanganan bencana yang melanda sejumlah wilayah di NTB.
Sadimin mengatakan anggaran tersebut disiapkan atas arahan langsung Gubernur NTB dan akan difokuskan untuk kebutuhan mendesak yang tidak mampu ditangani pemerintah kabupaten/kota.
“Sesuai arahan Pak Gubernur kan ada 16 miliar. Itu untuk kebutuhan logistik, untuk kebutuhan infrastruktur, terutama jembatan-jembatan putus, yang jalan satu-satunya kan harus kita prioritaskan,” ujarnya saat ditemui di Kantor Gubernur NTB, Kamis sore, (15/1/2026).
Menurutnya, dana Rp16 miliar itu akan diprioritaskan untuk kebutuhan logistik yang mendesak dan perbaikan infrastruktur vital, seperti jembatan putus dan akses jalan yang menghubungkan wilayah terdampak.
Sadimin menegaskan, anggaran tersebut tidak hanya dialokasikan untuk satu wilayah, melainkan mencakup semha daerah yang saat ini terdampak bencana.
“Semua, kan sekarang yang terjadi bencana kan Dompu, Bima, kemudian Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Lombok Barat. Lima kabupaten kota,” jelasnya.
Ia menambahkan, penanganan rumah rusak nantinya akan dilakukan secara bersama-sama sesuai kewenangan, baik oleh pemerintah kabupaten/kota, Pemprov NTB, pemerintah pusat melalui BNPB, maupun Balai Wilayah Sungai (BWS).
“Itu nanti bisa dari BTT juga, makanya kita lihat kemampuan anggarannya. Nanti coba kita hitung, coba kita ajukan apa kebutuhannya. Nanti sama-sama kita, dari BNPB pusat, dari kabupaten kota, provinsi, maupun dari BWS. Sesuai kewenangannya,” tuturnya.
Sadimin juga menyoroti banjir berulang kali di wilayah Sekotong yang dalam beberapa tahun terakhir semakin sering terjadi. Menurutnya, salah satu penyebab utamanya adalah alih fungsi lahan di kawasan hulu.
“Kalau kita lihat ke atas, tutupan lahannya sudah jadi jagung semua. Dulu tidak pernah banjir, tapi empat sampai lima tahun terakhir ini kejadian terus. Ini akibat alih fungsi lahan,” terangnya.
Ia menekankan perlunya perubahan perilaku dan kesadaran bersama, terutama dari warga setempat dalam menjaga lingkungan agar bencana serupa tidak terus berulang.
“Kalau hanya memikirkan kepentingan sesaat, banjir akan terus jadi langganan. Ini yang harus sama-sama kita sadari dan ubah,” pungkasnya. (ril)


Komentar