Lombok Utara – Maulid Adat Bayan setiap tahunnya menjadi momentum sakral yang selalu dinantikan masyarakat. Perayaan yang digelar dua hari setelah Maulid Nabi ini bukan hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga menghadirkan kultural yang mendorong warga perantau untuk pulang dan berkumpul kembali di kampung halaman.
Tahun ini, maulid adat berlangsung pada 7–8 September 2025 di Bayan, Lombok Utara. Selama dua hari, masyarakat adat melaksanakan berbagai rangkaian prosesi, mulai dari Menutuq atau menumbuk padi, pementasan peresean, hingga puncak acara praja mulud di Masjid Kuno Bayan Beleq.
Di puncak acara, pemuda adat diarak layaknya pengantin yang melambangkan Adam dan Hawa, kemudian ditutup dengan doa bersama serta makan bersama sebagai wujud syukur.
Tradisi yang hanya ada di Bayan ini telah diwariskan turun-temurun sejak berabad lalu. Ia menjadi simbol akulturasi Islam dengan kearifan lokal masyarakat Sasak, sekaligus meneguhkan peran Masjid Kuno Bayan Beleq sebagai pusat kegiatan adat dan spiritual.
Bagi masyarakat perantau, maulid adat menjadi alasan kuat untuk kembali.
Dicky Adriana Bimantara, warga Bayan yang kini tinggal di Bandung, mengaku kepulangannya bukan semata untuk bersilaturahmi dengan keluarga, tetapi juga karena dorongan batin untuk hadir dalam ritual adat.
“Pulang karena maulid juga, sama sekalian hadir di maulid adat,” ujarnya. Kepada WartaSatu, Senin (8/8/2025)
Hal serupa dirasakan Resma Trilia, mahasiswa asal Bayan yang menempuh studi di Mataram. Ia pulang beberapa hari sebelum acara dimulai agar bisa ikut menyembeq, bagian dari rangkaian adat yang dipercaya membawa berkah.
“Kemarin saya balik dari Mataram sebelum acara, mau disembeq soalnya,” kata Resma.
Fenomena arus balik ini tidak hanya melibatkan masyarakat Bayan yang merantau. Perayaan maulid adat juga menarik perhatian warga luar daerah hingga wisatawan mancanegara.
Sejumlah turis asing tampak hadir di Bayan untuk menyaksikan langsung prosesi di Masjid Kuno Bayan Beleq, menambah semarak suasana.
Dari awal hingga akhir, seluruh rangkaian maulid adat menyatukan dimensi keagamaan, budaya, dan sosial. Bagi masyarakat Bayan, perayaan ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan panggilan pulang yang memperkuat kekerabatan, meneguhkan identitas, sekaligus menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup lintas generasi.(cw-zal)


Komentar