Oleh: St. Nurwahidah, Mahasiswa S2 Pengembangan Kurikulum, Universitas Negeri Semarang
Di tengah derasnya arus transformasi digital, cara siswa belajar telah berubah jauh lebih cepat daripada cara sekolah mengajar. Jika dulu siswa bergelut mencari jawaban, hari ini mereka justru dihadapkan pada kelimpahan jawaban yang datang tanpa diminta. Kehadiran kecerdasan buatan seperti ChatGPT bukan sekadar alat bantu, tetapi telah menggeser cara pengetahuan diproduksi, diakses, dan dipahami.
Namun di titik inilah muncul kegelisahan yang sulit diabaikan: apakah sekolah masih berjalan seiring dengan perubahan tersebut, atau justru tertinggal dalam pola lama yang semakin kehilangan relevansi?
Secara konseptual, literasi abad ke-21 tidak lagi berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. UNESCO menegaskan bahwa literasi modern mencakup kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi sebagai fondasi utama pembelajaran (UNESCO, 2018). Dengan kata lain, literasi bukan sekadar memahami teks, tetapi kemampuan untuk menafsirkan, mengevaluasi, dan memproduksi pengetahuan secara reflektif.
Dalam kerangka berpikir kritis, Richard Paul dan Linda Elder menegaskan bahwa kualitas pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas cara berpikir yang digunakan (Paul & Elder, 2006). Sayangnya, dalam praktik pendidikan kita, sering kali yang dihargai bukan proses berpikirnya, melainkan seberapa cepat siswa sampai pada “jawaban benar” meskipun tidak selalu benar-benar dipahami.
Di banyak ruang kelas, pembelajaran masih bergerak dalam ritme lama: guru menjelaskan, siswa mencatat, lalu menghafal untuk ujian. Tidak sedikit yang diam-diam mengakui, yang penting nilai aman, urusan paham atau tidak, bisa menyusul atau tidak sama sekali. Ironisnya, pola seperti ini justru semakin tidak relevan di era ketika jawaban bisa dihasilkan dalam hitungan detik oleh teknologi.
Fenomena ini sejalan dengan konsep surface learning yang dikemukakan oleh John Biggs, yaitu pembelajaran dangkal yang berorientasi pada hasil cepat, bukan pada kedalaman makna (Biggs, 1999). Dalam konteks hari ini, bisa jadi bukan karena siswa tidak mampu berpikir dalam, tetapi karena sistemnya memang tidak cukup memberi ruang untuk itu. Ketika waktu habis untuk mengejar target kurikulum dan administrasi, berpikir mendalam sering kali menjadi “kemewahan” yang sulit diakses.
Di sisi lain, kehadiran ChatGPT dan teknologi sejenisnya sering kali langsung dicurigai sebagai biang kemalasan siswa. Padahal, seperti diingatkan oleh Neil Selwyn, teknologi dalam pendidikan tidak bersifat netral, melainkan sangat bergantung pada bagaimana ia digunakan dalam praktik pedagogis (Selwyn, 2016). Menyalahkan teknologi tanpa merefleksikan praktik pembelajaran sendiri mungkin terasa lebih mudah, tetapi jelas bukan solusi.
Maka, persoalan pendidikan hari ini bukan sekadar “bagaimana menggunakan AI”, tetapi lebih mendasar: apakah kita masih memberi ruang bagi siswa untuk benar-benar berpikir?
Di sinilah pentingnya reposisi peran guru. Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan pengarah proses berpikir. Paulo Freire sejak lama mengkritik model pendidikan “gaya bank”, di mana siswa hanya menjadi tempat penyimpanan informasi (Freire, 1970). Jika pola ini masih dipertahankan, maka kehadiran teknologi hanya akan membuatnya semakin cepat, bukan semakin bermakna.
Secara kebijakan, Kurikulum Merdeka sebenarnya telah membuka jalan perubahan. Namun dalam praktiknya, tidak jarang perubahan itu berhenti pada dokumen, sementara di kelas, pola lama tetap berjalan dengan wajah baru. Istilahnya berubah, formatnya diperbarui, tetapi esensinya belum tentu bergeser.
Di sisi lain, kebutuhan akan literasi AI semakin mendesak. UNESCO juga menekankan pentingnya kesiapan sistem pendidikan dalam menghadapi kecerdasan buatan, termasuk aspek etika, bias algoritma, dan tanggung jawab penggunaan teknologi (UNESCO, 2021). Tanpa itu, siswa hanya akan menjadi pengguna yang patuh, bukan pemikir yang merdeka.
Menariknya, kondisi ini sebenarnya memberi peluang besar bagi pendidikan untuk berbenah. Sekolah tidak lagi harus bersaing dengan teknologi dalam hal kecepatan memberi jawaban karena jelas akan kalah. Yang bisa dilakukan adalah mengambil peran yang tidak bisa digantikan mesin: membentuk cara berpikir, membangun makna, dan menumbuhkan kesadaran.
Dengan kata lain, sekolah tidak kehilangan relevansinya, yang perlu dipertanyakan adalah, apakah ia masih berani berubah?
Jika pendidikan terus bertahan pada pola lama yang mengagungkan hafalan, menstandarkan jawaban, dan mengukur kecerdasan hanya dari angka, maka bukan tidak mungkin suatu saat siswa akan lebih percaya pada mesin daripada gurunya sendiri. Bukan karena mesin lebih bijak, tetapi karena ia lebih responsif terhadap kebutuhan mereka.
Sebaliknya, jika sekolah mampu menjadi ruang dialog, ruang bertanya, dan ruang berpikir yang jujur, maka teknologi justru akan menjadi sekutu yang kuat.
Pada akhirnya, ancaman terbesar bagi pendidikan bukanlah kecerdasan buatan, melainkan ketidakmauan untuk berubah.
Karena ketika dunia sudah bergerak ke depan, tetapi pendidikan masih berjalan di tempat, maka yang tertinggal bukan hanya sistemnya, melainkan generasi yang ada di dalamnya.
Dan jika itu terjadi, mungkin pertanyaannya tidak lagi “apakah sekolah masih relevan?”, tetapi “siapa yang sebenarnya sedang kita siapkan: masa depan, atau masa lalu yang terus diulang?”


Komentar