Uncategorized
Home » Berita » Bahasa Indonesia, Jantung yang Memompa Darah bagi Pertumbuhan STEM

Bahasa Indonesia, Jantung yang Memompa Darah bagi Pertumbuhan STEM

Sumber foto: Detik News

Oleh: Lalu Muammar Qadafi

Setiap lompatan peradaban STEM selalu didahului oleh revolusi dalam bahasa. Ketika Isaac Newton merumuskan hukum gravitasi, ia tidak hanya menemukan fenomena fisika, ia menciptakan bahasa matematis baru untuk menjelaskannya.

Ketika Albert Einstein mengubah pemahaman kita tentang alam semesta, ia melakukannya dengan menempa kata “relativitas” menjadi konsep yang mengubah segalanya.
Coba bayangkan memahami teori relativitas tanpa kata “relativitas”, atau menjelaskan algoritma tanpa kata “algoritma”. Mustahil.

Bahasa adalah wadah bagi konsep untuk hidup, bernafas, dan berkembang.
Namun di Indonesia, kita tengah menghadapi paradoks yang membahayakan, kita ingin maju dalam Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM), tetapi kita mengabaikan fondasi yang membuatnya mungkin Bahasa Indonesia.

Kita membangun gedung pencakar langit riset di atas pasir yang rapuh. Tanpa penguatan peran bahasa sebagai jantung yang memompa darah bagi pertumbuhan STEM, semua investasi laboratorium dan beasiswa akan sia-sia.

Satu Abad NU, Saatnya Fokus ke Pengabdian dan Kedepankan Integritas

Ini bukan sekadar soal kebanggan nasional. Ini soal kemandirian intelektual dan kemampuan kita untuk menjadi produsen, bukan sekadar konsumen pengetahuan ilmiah.

Simbiosis Mutualisme yang Terlupakan

Hubungan antara bahasa dan STEM adalah simbiosis mutualisme yang indah, namun sayangnya terlupakan. Bahasa membutuhkan STEM, dan STEM membutuhkan bahasa, keduanya saling membentuk dan menguatkan.

Bahasa untuk STEM berfungsi sebagai alat berpikir kritis yang membuat konsep abstrak menjadi konkret. Tanpa bahasa yang presisi, konsep ilmiah akan kabur dan tidak bisa ditransfer lintas generasi. Bagaimana seorang guru menjelaskan “fotosintesis” jika kata itu tidak ada?

Bagaimana mahasiswa memahami “komputasi awan” jika konsep tersebut hanya dipahami sebagai “cloud computing” yang asing di telinga? Bahasa adalah infrastruktur kognitif yang memungkinkan kita membangun pengetahuan secara kolektif dan sistematis.

Polisi Tangkap 2 Pencuri Motor Milik Anak Kost di Mataram

Sebaliknya, STEM untuk Bahasa adalah mesin evolusi yang memaksa bahasa untuk terus berkembang, menciptakan kosakata baru, dan menjadi lebih kaya serta modern.

Lihatlah bagaimana perkembangan teknologi memaksa Bahasa Indonesia untuk beradaptasi, dari “realitas tertambah” (augmented reality), “kecerdasan buatan” (artificial intelligence), “pembelajaran mesin” (machine learning), hingga “komputasi kuantum” (quantum computing).

Bahasa kita juga melahirkan istilah-istilah seperti “surel” (surat elektronik), “daring” (dalam jaringan), “luring” (luar jaringan), “pranala” (pranata sambungan), dan “unduh/unggah” (download/upload).

Dalam bidang medis, kita memiliki “asam deoksiribonukleat” (DNA), “tekanan darah”, “jantung koroner”. Dalam matematika dan sains “persamaan”, “algoritma”, “probabilitas”, “hipotesis”. Semua ini adalah bukti bahwa Bahasa Indonesia mampu menjadi medium presisi untuk konsep-konsep kompleks jika kita memberinya kesempatan dan komitmen.
Kilas Balik Kejayaan dan Potensi Bawaan
Sejarah membuktikan bahwa Bahasa Indonesia memiliki DNA untuk menjadi bahasa ilmu pengetahuan.

Sejak era kolonial, buku-buku teknik dan kedokteran telah ditulis dalam Bahasa Melayu dan Indonesia. Upaya standardisasi istilah sains dimulai sejak awal kemerdekaan, menunjukkan kesadaran para pendiri bangsa bahwa kemandirian ilmu pengetahuan dimulai dari kemandirian bahasa.

Pemprov NTB Tunggu Pusat Soal Potensi Kenaikan Gaji PPK Paruh Waktu

Yang lebih penting, Bahasa Indonesia adalah bahasa yang dirancang untuk menjadi modern, fleksibel, dan adaptif. Tidak seperti bahasa-bahasa tradisional yang terbebani struktur kuno, Bahasa Indonesia lahir dalam semangat pembaruan. Ia punya sistem pembentukan kata yang produktif, afiksasi (ber-, me-, -kan, -an) yang memungkinkan penciptaan istilah baru dengan logika yang konsisten. Ia punya kapasitas penyerapan yang luar biasa dari bahasa-bahasa lain tanpa kehilangan identitasnya. Ini adalah keunggulan kompetitif yang seharusnya kita manfaatkan, bukan sia-siakan.

“Pencipta” Menjadi “Penerjemah”

Namun realitasnya getir.
Dominasi Bahasa Inggris telah menempatkan Bahasa Indonesia di posisi yang memalukan, bukan sebagai bahasa pencipta ilmu, melainkan sekadar bahasa penerjemah, atau lebih buruk lagi, bahasa yang diabaikan sama sekali dalam diskursus ilmiah.

Pertanyaan ini harus kita jawab dengan jujur, Apakah Bahasa Indonesia berkembang bersama STEM atau justru hanya mengimpor istilah tanpa membangun konsep pengetahuan sendiri?

Lihatlah di ruang-ruang kuliah dan laboratorium kita. Mahasiswa lebih fasih menjelaskan machine learning daripada “pembelajaran mesin”.

Mereka bicara tentang server, cloud, coding, framework, database tanpa pernah berusaha mencari atau menciptakan padanannya dalam Bahasa Indonesia. Bukan karena padanan itu tidak ada, tetapi karena ekosistem pendidikan dan industri kita tidak menghargainya.
Ironisnya, ketika istilah seperti “pembelajaran mesin” sudah dirumuskan dengan baik, kita tetap lebih nyaman dengan machine learning.

Ketika “pembelajaran mendalam” (deep learning) sudah ada, kita tetap menggunakan istilah Inggris. Ini bukan soal praktikalitas, ini soal mentalitas kolonial intelektual yang menganggap bahasa asing lebih “ilmiah” daripada bahasa sendiri.

Akibatnya? Generasi muda kita menjadi pemikir hibrid yang pincang, mereka berpikir dalam Bahasa Inggris untuk hal-hal “serius” dan Bahasa Indonesia untuk hal-hal “informal”.

Konsep-konsep ilmiah tidak terinternalisasi dengan mendalam karena tidak pernah benar-benar “dimiliki” dalam bahasa ibu mereka. Kita mencetak lulusan teknik dan sains yang pandai mengoperasikan teknologi, tetapi lemah dalam memahami dan mengembangkan konsep dasarnya, karena konsep itu tidak pernah “berbicara” dalam bahasa yang mereka kuasai dengan sempurna.

Bahasa Konsumen ke Bahasa Produsen Ilmu

Ini bukan tentang nasionalisme sempit atau penolakan terhadap Bahasa Inggris. Penguasaan Bahasa Inggris tetap penting dalam era globalisasi. Namun ini tentang mendudukkan Bahasa Indonesia setara sebagai bahasa yang mampu menjadi medium penciptaan, bukan sekadar konsumsi pengetahuan.

Transformasi ini membutuhkan tiga aksi konkret.

Pertama, kebijakan yang konsisten dan tegas. Pemerintah, universitas, dan industri teknologi harus berkomitmen menggunakan istilah Indonesia dalam pengajaran, publikasi, dan dokumentasi teknis. Bukan sebagai beban, tetapi sebagai investasi jangka panjang.

Jika Korea Selatan bisa membangun industri teknologi kelas dunia dengan tetap mempertahankan bahasa Korea dalam pendidikan dan riset mereka, mengapa kita tidak? Kewajiban penggunaan Bahasa Indonesia dalam jurnal nasional, tugas akhir, dan dokumentasi proyek pemerintah harus ditegakkan, bukan sekadar formalitas, tetapi dengan kontrol kualitas yang ketat.

Kedua, inovasi dalam perumusan istilah. Perumusan istilah tidak boleh sekadar menerjemahkan kata demi kata, tetapi harus membangun konsep yang utuh dan mudah dipahami. Kita butuh tim ahli STEM dan linguistik yang bekerja bersama untuk menciptakan istilah-istilah yang tidak hanya akurat secara ilmiah, tetapi juga intuitif bagi penutur Bahasa Indonesia.

Lebih penting lagi, kita harus mengembangkan infrastruktur AI berbahasa Indonesia, Natural Language Processing (NLP) yang canggih, korpus ilmiah yang besar, dan model bahasa yang terlatih dengan baik. Jika kita tidak melakukan ini, Bahasa Indonesia akan tertinggal di era kecerdasan buatan dan itu akan menjadi kematian intelektual generasi mendatang.

Ketiga, aksi kolektif dari komunitas ilmiah. Peneliti, dosen, insinyur, dan praktisi STEM harus bangga menulis dan mempublikasikan dalam Bahasa Indonesia.

Bukan hanya untuk jurnal lokal, tetapi jurnal berkualitas tinggi yang diakui internasional. Kita butuh lebih banyak buku teks STEM berbahasa Indonesia yang berkualitas, bukan sekadar terjemahan yang kaku.

Kita butuh platform berbagi pengetahuan (YouTube, blog, siniar) dalam Bahasa Indonesia yang tidak kalah mutunya dengan konten berbahasa Inggris. Ini adalah revolusi dari bawah yang akan mengubah ekosistem pengetahuan kita.

Pilihan di Tangan Kita

Masa depan Bahasa Indonesia dalam dunia STEM ada di tangan kita.
Jalan pertama adalah jalan kemunduran, di mana Bahasa Indonesia perlahan-lahan menjadi bahasa informal yang terpinggirkan dalam percakapan sains tingkat tinggi.

Anak-anak kita akan fasih berbicara tentang teknologi dalam Bahasa Inggris, tetapi bisu ketika harus menjelaskannya dalam bahasa ibu mereka. Bahasa Indonesia akan menjadi bahasa pasar dan hiburan, sementara bahasa ilmu pengetahuan adalah bahasa asing. Ini bukan hanya kemunduran bahasa, ini adalah kemunduran peradaban.

Jalan kedua adalah jalan pencerahan, di mana Bahasa Indonesia bertransformasi menjadi bahasa pengetahuan yang presisi, kaya, dan menjadi medium penciptaan STEM asli Indonesia. Bayangkan generasi mendatang yang tidak hanya mengonsumsi teknologi, tetapi menciptakan inovasi dengan berpikir, berdiskusi, dan mendokumentasikan dalam Bahasa Indonesia.

Bayangkan Indonesia tidak hanya sebagai pasar teknologi, tetapi sebagai laboratorium ide yang mengekspor konsep dan inovasi ke dunia dalam bahasa kita sendiri, yang kemudian diterjemahkan ke bahasa lain.

Pilihannya jelas. Masa depan STEM Indonesia tidak hanya ditentukan di laboratorium dan bengkel, tidak hanya di ruang server dan kode program. Ia ditentukan di ruang-ruang di mana kita para ilmuwan, pendidik, mahasiswa, dan praktisi memutuskan untuk dengan bangga dan tekun berpikir, mencipta, dan berbagi pengetahuan dalam Bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia adalah jantung yang memompa darah bagi pertumbuhan STEM kita. Jika jantung ini berhenti berdetak, seluruh tubuh peradaban ilmiah kita akan mati. Saatnya kita merawat jantung ini dengan serius, bukan dengan retorika kosong, tetapi dengan aksi nyata dan komitmen jangka panjang. Karena pada akhirnya, bangsa yang tidak mampu berpikir dan mencipta dalam bahasanya sendiri adalah bangsa yang tidak pernah benar-benar merdeka.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan