Mataram – Deni Apriadi Rahman, penata rias pengantin (MUA) asal Desa Mujur, Lombok Tengah yang kini viral di media sosial lantaran parasnya yang anggun, harus mengalami beban mental dan fisik akibat dihujat habis-habisan oleh watganet.
Namun dibalik kegaduhan yang timbul akibat pria yang terkenal dengan sapaan Dea Lipa itu, sejak kecil ternyata telah mengidap ganguan pada pendengaran. Hal itu pun diperparah dengan kecelakaan yang dialaminya ketika berusia 10 tahun. Hingga membuat Deni sering mengalami perundungan oleh lingkungannya.
“Sejak kecil saya hidup sebagai seorang penyintas disabilitas dengan keterbatasan pendengaran, yang semakin memburuk setelah saya mengalami kecelakaan ketika berusia sekitar 10 tahun,” katanya saat memberikan keterangan pada Sabtu, (15/11/2025).
Sosoknya ternyata lahir dan besar di keluarga yang sederhana. Deni kecil hanya tinggal bersama neneknya, kedua orang tuanya pergi merantau ke luar negeri. Hal itu menabah luka batin baginya. Lantaran terkendala biaya, Deni hanya mampu menamatkan pendidikan jenjang sekolah dasar (SD). Terlebih ketika neneknya wafat ketika duduk di bangku kelas IV SD, Deni harus berjuang sendirian untuk melanjutkan hidup.
“Sejak kecil saya tinggal bersama nenek dari pihak ibu, karena kedua orang tua saya bekerja sebagai tenaga migran. Saya hanya menamatkan pendidikan sampai Sekolah Dasar karena pada masa itu saya mengalami perundungan dan tidak memiliki cukup dukungan untuk melanjutkan sekolah. Setelah nenek saya wafat ketika saya kelas VI SD, saya banyak belajar bertahan hidup secara mandiri,” tuturnya.
Dengan segala kepedihan dan keterbatasan, Deni terus melanjutkan hidup, hingga ia menemukan jalannya sendiri. Melalui skill merias yang ia pelajari dari Youtube dan platform sosial media lainnya, Deni mampu menatap hidup dengan penuh percaya diri.
“Melalui pekerjaan inilah saya merasa bisa berdiri di atas kaki saya sendiri, memenuhi kebutuhan hidup, dan perlahan memperoleh rasa percaya diri,” sebutnya.
Deni dewasa yang kemudian memilih mengenakan jilbab pada beberapa kesempatan, mengatakan jilbab adalah simbol kecantikan dan kehormatan perempuan Muslim yang sejak lama ia kagumi. Ia pun menyebut itu adalah cara dia mengekspresikan diri dari segala kekecewaan yang dialaminya semasa hidup.
“Saya sama sekali tidak berniat menjadikan busana itu sebagai alat untuk menipu atau melecehkan siapapun. Itu adalah bentuk ekspresi diri saya yang lahir dari kekaguman dan keinginan melindungi diri dari pelecehan,” tukasnya.
Seketika semua perjuangan itu terasa sia-sia, hujatan, intimidasi, hingga teror dari warganet membuat Deni tidak bisa bekerja dengan tenang. Akibatnya, ia harus mengalami kerugian yang bukan hanya secara pribadi, tetapi menimpa seluruh rekan kerjanya.
“Karena kondisi itu, saya harus menghentikan sejumlah pekerjaan rias pengantin yang sudah dijadwalkan. Pembatalan ini menimbulkan kerugian bukan hanya bagi saya, tetapi juga bagi asisten dan rekan kerja saya (henna artist dan fotografer). Kami semua kehilangan pemasukan,” jelasnya.
Pria 23 tahun itu menegaskan bahwa dirinya hanyalah manusia yang sedang berproses. Ia menyadari setiap orang memiliki kekurangan dan perjalanan hidup yang berbeda, termasuk dirinya yang tumbuh sebagai penyintas disabilitas dengan minim bimbingan sejak kecil. Ia berharap masyarakat memahami bahwa dirinya terus berusaha memperbaiki diri dan menjalani hidup dengan cara yang lebih baik.
“Saya percaya bahwa setiap manusia punya kekurangan, kesalahan, dan perjalanan hidup masing-masing. Termasuk saya. Saya adalah orang yang sedang berproses-sebagai penyintas disabilitas, sebagai anak muda yang tumbuh tanpa banyak bimbingan, dan sebagai seseorang yang sedang berusaha memperbaiki diri,” pintanya.
Menghadapi situasi ini, Deni memilih tetap fokus pada masa depan. Ia ingin melanjutkan profesinya sebagai penata rias, menabung untuk membangun galeri rias sederhana, serta berbagi keterampilan dengan orang lain. Ia juga memiliki keinginan kuat untuk kembali menempuh pendidikan formal yang sempat terhenti akibat kondisi hidup yang rumit pada masa kecil.
“Ke depan, saya ingin terus bekerja sebagai MUA, menabung untuk membangun galeri rias sederhana, dan berbagi keterampilan dengan orang lain. Saya juga ingin melanjutkan pendidikan formal yang sempat tertunda, karena saya percaya bahwa pendidikan adalah jalan agar saya bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat,” harapnya.
Deni berharap apa yang dialaminya bisa menjadi pelajaran bersama. Menurutnya, ada cara yang lebih bijak untuk menegur, menasihati, atau mengingatkan seseorang tanpa harus melakukan perundungan, fitnah, dan penghakiman di ruang publik
“Saya berharap kejadian ini menjadi pelajaran untuk kita semua. Ada cara yang lebih baik dan lebih bijak untuk mengingatkan, membimbing, atau menegur seseorang-bukan dengan fitnah, cacian, atau penghakiman di ruang publik,” pungkasnya. (ril)


Komentar