Mataram – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, meminta seluruh pelajar SMA dan SMK tidak terlibat dalam aksi demonstrasi yang berujung pada anarkis. Bahkan, pihaknya akan merubah jam belajar sekolah yang semula mulai pukul 07.00 Wita menjadi 10.00 Wita hingga sore hari.
Hal itu dilakukan sebagai langkah antisipasi agar siswa tidak dimanfaatkan dalam aksi-aksi unjuk rasa.
“Kita tidak ingin ada anak SMA dan SMK yang diperalat terlibat. Mereka tidak paham apa-apa, hanya dimanfaatkan. Karena itu jam belajar kita ubah mulai pukul 10.00 hingga sore,” kata Iqbal dalam arahannya, Minggu (31/8/2025).
Iqbal menekankan agar sekolah melakukan absensi ketat. Siswa yang tidak hadir tanpa alasan jelas akan dipanggil bersama orang tuanya.
“Kecuali yang sakit atau ada hal sangat penting, kita minta semua datang. Kalau tidak, kita asumsikan ikut aksi,” ujarnya.
Gubernur juga mengingatkan seruan Presiden RI bahwa aparat akan menindak tegas setiap bentuk kekerasan dalam aksi.
“Kita tidak ingin anak-anak menjadi korban. Karena itu, pastikan mereka berada di kelas saat jam-jam rawan,” tegasnya.
Selain itu, Iqbal meminta sekolah dan guru memberi nasihat kepada para siswa untuk menolak kekerasan dan menjaga stabilitas daerah. Ia menekankan, aksi yang dilakukan dengan kerusuhan hanya akan merugikan masyarakat luas.
“NTB baru mulai membangun, dan setiap ketidakstabilan politik maupun aksi dengan kerusuhan akan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Karena itu kita menolak kekerasan,” ujarnya.
Menindaklanjuti arahan tersebut, sejumlah sekolah termasuk SMAN 8 Mataram telah mengeluarkan surat edaran resmi.
Dalam edaran yang ditandatangani Kepala SMAN 8 Mataram, Suharto, disebutkan kegiatan belajar mengajar (KBM) akan dimulai pukul 10.00 hingga 17.00 WITA mulai Senin (1/9/2025).
“Seluruh siswa diwajibkan hadir tepat waktu dengan mengenakan seragam sesuai jadwal,” ujar suharto dalam seurat edaran tersebut.
Sekolah juga mewajibkan absensi ketat saat kedatangan dan kepulangan. Siswa yang tidak hadir tanpa keterangan akan dicatat dan ditindaklanjuti. Selain itu, pembelajaran akan disertai doa bersama bertajuk ‘NTB Menolak Kekerasan’.
Pihak sekolah meminta orang tua memastikan anak tidak terlibat dalam aksi demonstrasi. Jika ada siswa yang terbukti ikut serta, sekolah menegaskan akan menjatuhkan sanksi tegas hingga tindakan langsung di tempat.
“Guru dan wali kelas bekerja sama dengan orang tua/wali murid untuk memastikan anak-anak tidak terlibat aksi demonstrasi.” Ucapnya. (cw-buk)


Komentar