Mataram — Malam Rabu (18/3/2026), Pelabuhan Gili Mas, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), tak seperti hari-hari biasanya. Ribuan pemudik hilir mudik mencetak tiket, bersahutan dengan deru mesin kendaraan yang satu per satu memasuki lambung Kapal Motor (KM) Dharma Kartika V tujuan Surabaya, Jawa Timur. Perjalanan panjang melalui jalur laut dan rel pun dimulai dari titik ini.
Tak lama kemudian, pintu kapal terbuka. Para penumpang dengan beragam logat memperlihatkan tiket dan kartu tanda penduduk (KTP) kepada petugas sebelum masuk dan mencari tempat masing-masing.
Suasana di dalam kapal perlahan tenang. Sebagian penumpang memilih duduk di kursi, sementara lainnya berkumpul di kafe kapal, menikmati kopi sebelum beristirahat di kamar.
Di tengah perjalanan, seorang penumpang bernama Yanto bercerita. Ia hendak mudik ke Malang setelah bekerja di Lombok.
“Saya bawa fuso muatan semen dan bahan bangunan, tapi saya tinggal di Lombok karena tidak bisa muat,” katanya.
Ia mengaku telah menunggu beberapa hari agar muatannya bisa dibongkar di gudang. Namun karena tak kunjung selesai, ia memutuskan pulang lebih dulu.
“Saya tinggal dulu. Mungkin seminggu setelah Lebaran saya balik lagi ambil,” ucap pria yang telah memiliki dua anak itu.
Sekitar 18 jam mengarungi lautan, kapal akhirnya merapat di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Suara gerbang kapal yang terbuka membangunkan penumpang, seolah menjadi penanda perjalanan laut telah usai.
Dengan wajah lelah bercampur hangatnya rindu, para pemudik bergegas turun. Sebagian langsung melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Pasar Turi, mengejar kereta menuju kampung halaman.
Suasana tak jauh berbeda terasa di stasiun. Keramaian semakin memuncak menjelang H-1 Lebaran, Kamis (20/3/2026). Anak-anak berlarian, sementara orang dewasa sibuk menelpon keluarga, memastikan kepulangan mereka.
Di antara kerumunan itu, seorang pria bernama Toni tampak tak sabar. Ia hendak menuju Bandung, Jawa Barat, tempat istri dan anaknya yang baru lahir menunggu.
Selama ini, Toni belum sempat pulang sejak kelahiran anak pertamanya karena pekerjaan di Surabaya.
“Saya mudik ke Bandung. Di sana rumah mertua, tempat istri saya melahirkan,” ujarnya.
Kerinduan yang lama ia pendam kini akan terbayar dalam perjalanan panjang itu.
Di dalam kereta, suasana hangat terasa di antara para pemudik. Percakapan ringan, tawa, hingga saling berbagi cerita membuat perjalanan panjang terasa singkat. Rasa lelah seakan terbayar oleh satu tujuan yang sama: pulang.


Komentar