Kesehatan
Home » Berita » Dinkes Temukan Satu Kasus Super Flu di NTB, Klaim Penularan Terkendali

Dinkes Temukan Satu Kasus Super Flu di NTB, Klaim Penularan Terkendali

Kepala Dinas Kesehatan NTB, Lalu Hamzi Fikri. (dok: ril)

Mataram – Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengonfirmasi temuan satu kasus positif Influenza A(H3N2) subclade K atau yang dikenal sebagai Super Flu di wilayah NTB. Kasus tersebut ditemukan pada seorang anak perempuan berusia 12 tahun dan saat ini telah dinyatakan terkendali.

Kepala Dinas Kesehatan NTB, Lalu Hamzi Fikri, menjelaskan bahwa kasus ini terdeteksi melalui pemeriksaan laboratorium lanjutan terhadap delapan sampel spesimen yang dikirim ke Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Surabaya.

“Dari delapan sampel spesimen anak bergejala yang kami kirim pada 10 November 2025, hasil sequencing influenza yang diterima pada 5 Januari 2026 mengonfirmasi satu kasus positif Influenza A(H3N2) subclade K,” ujarnya pada Kamis, (15/1/2026).

Ia menjelaskan, setelah penemuan kasus tersebut, Dinas Kesehatan NTB langsung melakukan penyelidikan epidemiologis dan penanganan di lapangan, termasuk pemeriksaan kontak erat dan pemantauan lingkungan sekitar kasus.

“Pemantauan dilakukan selama dua kali masa inkubasi virus influenza dan hasilnya tidak ditemukan kasus tambahan. Dengan demikian, klaster ini berhasil kita kendalikan sejak November 2025,” tegasnya.

Bima, Kota Bima dan Dompu Dietapkan KLB Campak, 985 Kasus Terdeteksi

Meski klaster dinyatakan terkendali, Hamzi menegaskan bahwa kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan. Hal ini mengingat potensi penularan ulang dapat terjadi seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan kondisi musim penghujan yang biasanya diikuti peningkatan kasus flu.

“Situasi memang terkendali, tetapi belum sepenuhnya bebas risiko. Karena itu, kami terus memperkuat kewaspadaan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan,” katanya.

Ia juga mengimbau peran aktif masyarakat dalam mencegah penyebaran flu, dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menggunakan masker saat sakit, mengisolasi diri bila ada indikasi terkena gejala, memastikan istirahat dan nutrisi tercukupi, serta segera berobat apabila kondisi memburuk.

“Kepatuhan masyarakat terhadap anjuran kesehatan menjadi kunci utama agar kasus seperti ini tidak berkembang menjadi Kejadian Luar Biasa,” tukasnya.

Lebih jauh, Hamzi juga mengapresiasi peran tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan di NTB yang dinilai cepat dan sigap dalam menangani kasus tersebut, mulai dari puskesmas hingga laboratorium regional.

Telan Anggaran Rp 165 Miliar, Menkes Komitmen Percepat Proses Peningkatan RSUD Kota Bima ke Tipe C

“Koordinasi yang baik membuat kasus ini bisa terdeteksi dan dikendalikan dalam waktu singkat,” tandasnya.

Sebagai informasi, Influenza A(H3N2) merupakan flu musiman dengan tingkat keparahan relatif lebih tinggi dibandingkan A(H1N1)pdm09 dan Influenza B. Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa subclade K hingga saat ini belum menunjukkan peningkatan keparahan dibandingkan flu biasa, meski penyebarannya tergolong cepat secara global sejak Agustus 2025.

Secara nasional, Kementerian Kesehatan RI mencatat hingga akhir 2025 terdapat 62 kasus Influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi di Indonesia. (ril)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan