Mataram – Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal meninjau langsung lokasi terdampak banjir rob di tepi Pantai Ampenan di Lingkungan Bugis, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kamis malam (22/1/2026). Banjir rob tersebut menyebabkan 18 rumah warga di kawasan pesisir rusak.parah.
Iqbal menyatakan telah berkoordinasi dengan Walikota Mataram sejak malam sebelumnya untuk merespon kondisi darurat yang terjadi. Ia menegaskan dukungan penuh Pemerintah Provinsi NTB terhadap langkah-langkah penanganan jangka pendek yang saat ini dilakukan Pemerintah Kota Mataram.
“Saya sejak kemarin malam sudah komunikasi dengan Pak Wali Kota terkait kondisi di sini. Tadi pagi beliau langsung turun, dan saya yang baru kembali dari Sumbawa juga langsung hadir. Yang jelas, saya mendukung Pak Wali Kota untuk menyelesaikan situasi darurat ini terlebih dahulu,” ujar Iqbal pada Kamis malam, (22/1/2026).
Menurutnya, penanganan jangka pendek seperti distribusi logistik dan penguatan tanggul sementara telah disiapkan. Namun, Iqbal menekankan bahwa tantangan utama justru terletak pada solusi jangka panjang, mengingat banjir rob dan abrasi berpotensi terus berulang.
Iqbal juga menyinggung soal opsi merelokasi warga secara permanen, terutama warga yang selalu terdampak saat banjir rob menerjang wilayah pesisir sekitar Pantai Ampenan.
“Kita sepakat harus duduk bersama membahas penyelesaian jangka panjang. Kalau tidak ada kebijakan jangka panjang, kondisi ini akan terus berulang. Termasuk kemungkinan relokasi permanen, tapi itu harus dibahas serius, terutama menyangkut status kepemilikan tanah warga,” tegasnya.
Ia juga menyinggung peran perusahaan-perusahaan yang berada di sekitar kawasan pesisir untuk ikut berkontribusi dalam penanganan abrasi. Dalam waktu dekat, pemerintah bersama warga akan melakukan gotong royong memasang geobag sebagai langkah sementara menahan hempasan ombak.
“Besok kita akan gotong royong mengisi dan memasang geobag. Tapi itu hanya solusi jangka pendek. Yang lebih penting adalah mencari penyelesaian jangka panjangnya,” imbuhnya.
Terkait pengungsian, Iqbal memastikan posko darurat telah disiapkan oleh BPBD Kota Mataram dan Pemerintah Provinsi siap memberikan dukungan tambahan. Ia juga menegaskan status bencana telah ditetapkan di tingkat provinsi.
“Kalau di kota sudah ditetapkan, di provinsi juga sudah kami tetapkan sejak hari Senin lalu untuk seluruh NTB, karena sudah beberapa kabupaten terdampak,” katanya.
Sementara itu, Kepala Lingkungan Bugis, Suherman, mengungkapkan gelombang tinggi mulai terjadi sejak malam hari sekitar pukul 20.00 Wita hingga 01.00 dini hari. Tinggi gelombang diperkirakan mencapai 1,5 meter dan jauh lebih besar dibanding hari-hari sebelumnya.
“Malam-malam kami berjaga, dari jam delapan sampai jam satu. Gelombangnya besar sekali, tidak seperti hari-hari sebelumnya,” ujar Suherman.
Ia menambahkan, dampak terparah dialami enam rumah warga. Tiga rumah dilaporkan hanyut sepenuhnya, sementara tiga rumah lainnya mengalami kerusakan berat dan tidak lagi layak huni.
“Tiga rumah sudah hanyut sama sekali, tiga lainnya rusak parah. Rumah lain ada yang terdampak, tapi masih bisa digunakan. Yang paling parah itu enam rumah,” jelasnya.
Suherman menyampaikan, warganya berharap adanya kepastian penanganan, khususnya terkait tempat evakuasi dan rencana relokasi. Rencana relokasi ke rumah susun sebenarnya telah disiapkan, namun keterbatasan kapasitas membuat belum seluruh warga terdampak dapat tertampung. (ril)


Komentar