Pemerintahan
Home » Berita » Menteri KKP Marah Usai Liat Kualitas Bangunan KNMP di Lombok Timur

Menteri KKP Marah Usai Liat Kualitas Bangunan KNMP di Lombok Timur

Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono (tengah, topi hitam) saat kunjungan ke kawasan Kampung Nelayan Merah Putih di Desa Ekas Buana, Kabupaten Lombok Timur. (dok: Pemprov NTB/WartaOne)

Mataram – Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono, marah besar saat meninjau infrastruktur Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Ekas Buana, Lombok Timur, Jumat (27/2/2026). Ia menilai kualitas sejumlah bangunan tersebut tidak layak dan jauh dari standar profesional.

“Saya minta semua dibenahi, dikoreksi semua finishing-nya. Nggak benar ini!” tegas Trenggono di sela-sela kunjungannya.

Dalam kunjungan itu, Sakti Wahyu menegur langsung pihak pelaksana proyek yang bertanggung jawab atas pembangunan fasilitas bertajuk Kampung Nelayan itu. Sejumlah kejanggalan fisik bangunan menjadi sorotannya, terutama pada fasilitas gudang pendingin (cold storage) portabel.

Ia menilai akses keluar-masuk gudang itu terlalu sempit dan terdapat celah yang berpotensi mengganggu kelancaran operasional nelayan.

Kemarahan Sakti Wayu memuncak ketika menemukan lantai semen di samping gudang pendingin itu sudah mengalami keretakan.

Kemenhub Beri Diskon Tiket Pesawat 18 Persen Saat Mudik Lebaran 2026

Sambil menunjuk retakan tersebut dengan kakinya, ia mempertanyakan komitmen pelaksana proyek dalam menjalankan kontrak kerja yang didanai anggaran negara tersebut.

“Kamu bikin bangunan kayak gini, kenapa? Bagus nggak bangunannya? Coba kamu bikin yang benar dong, masa bangunannya kayak gini? Yang benar saja!” ujarnya kepada pihak pelaksana di lokasi.

Menurutnya, proyek KNMP dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan sehingga setiap rupiah uang negara harus diwujudkan dalam bangunan yang berkualitas. Infrastruktur yang dikerjakan asal jadi, kata dia, justru akan menyulitkan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

Selain gudang pendingin, Sakti Wahyu juga meninjau fasilitas lain seperti pabrik es portabel, bengkel nelayan, kios pemasaran ikan, balai pelatihan, hingga toilet umum.

Ia menginstruksikan seluruh fasilitas tersebut segera diperbaiki sebelum diresmikan dan diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat yang akan mengelola.

Arus Mudik Lebaran 2026, Menhub Dudy Sebut Cuaca Ekstrem Jadi Tantangan

Usai meninjau fisik bangunan, Menteri Sakti Wahyu berdialog dengan nelayan di Desa Ekas Buana untuk memastikan program KNMP benar-benar menjawab kebutuhan riil di kawasan pesisir tersebut. Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti potensi perikanan daerah itu, khususnya komoditas lobster.

Ia mendorong nelayan agar tidak lagi menjual benih lobster, melainkan mengembangkannya melalui budidaya guna memperoleh nilai tambah yang lebih tinggi. Pemerintah, lanjutnya, siap memberikan dukungan fasilitas untuk meningkatkan produksi.

“Di sini juga akan dibantu 10 unit kapal nelayan dan juga mesin. Kalau saudara-saudara yang menangkap benih lobster, jangan lagi dijual benihnya, tetapi dibudidayakan. Kalau tidak punya keramba, minta ke Pak Dirjen, langsung akan kita bagi,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin, menyambut dukungan pemerintah pusat tersebut. Ia menilai keberadaan KNMP sangat strategis dalam mendukung pengembangan wisata bahari dan kuliner terapung di kawasan Ekas Buana.

Meski demikian, ia menyampaikan masih terdapat kebutuhan yang mendesak bagi nelayan, antara lain pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) serta peremajaan mesin kapal.

Empat PMI Asal NTB Mengaku Disiksa di Libya, Nangis Minta Dipulangkan

“Keberadaan Kampung Nelayan Merah Putih ini sangat mendukung wisata kami. Tapi masih ada kekurangan, pertama adalah SPBUN dan mesin-mesin kapal yang hancur,” tutur Politisi Partai Gerindra itu.

Ia berharap dengan adanya gudang pendingin untuk menyimpan hasil tangkapan nelayan, yang berkapasitas 10 itu dapat dimanfaatkan untuk mengelola bisnis sendiri tanpa menjual langsung ke pengepul dengan harga yang murah.

“Mudah-mudahan kami bisa dibantu, apalagi dengan adanya fasilitas penyimpanan 10 ton ini, tangkapan nelayan tidak perlu langsung dijual murah dan harganya akan dikendalikan melalui tata niaga koperasi,” tandasnya. (ril)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan