Ekonomi
Home » Berita » Nilai Tukar Petani NTB Naik 4,50 Persen

Nilai Tukar Petani NTB Naik 4,50 Persen

Seorang petani sedang membersihkan rumput yang tumbuh disekitar padi yang ia tanam. (Dok: Rill)

Mataram – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Desember 2025 sebesar 134,14, atau naik 4,50 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan menguatnya daya beli petani di perdesaan.

Kepala BPS NTB, Wahyudin, mengatakan peningkatan NTP terjadi karena kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib).

“NTP Desember 2025 naik karena Indeks Harga yang diterima petani meningkat sebesar 5,76 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 1,21 persen,” kata Wahyudin saat menyampaikan rilis resmi BPS, Senin (5/1/2025).

Ia menjelaskan, NTP NTB tercatat berada di atas angka 100 pada seluruh subsektor utama pertanian. Subsektor tanaman pangan mencatat NTP sebesar 125,53, hortikultura sebesar 255,85, tanaman perkebunan rakyat sebesar 102,59, peternakan sebesar 112,94, dan perikanan sebesar 106,82.

Selain NTP, BPS NTB juga mencatat Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) pada Desember 2025 sebesar 139,66, atau meningkat 5,84 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan NTUP ini menunjukkan kondisi usaha rumah tangga pertanian yang semakin membaik.

Tuding SK Muzihir Belum Sah, Akri : Tak Ada Tanda Tangan Sekjen DPP PPP

Wahyudin menambahkan, pada Desember 2025 terjadi kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 1,85 persen. Kenaikan IKRT tersebut dipengaruhi oleh naiknya indeks pada sejumlah kelompok pengeluaran, di antaranya makanan, minuman, dan tembakau.

Kemudian pakaian dan alas kaki, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Selanjutnya transportasi dan perawatan pribadi.

Lebih jauh nenurut Wahyudin, menjelang akhir tahun, sejumlah komoditas pertanian mengalami kenaikan harga, terutama pada subsektor hortikultura. Bawang merah, cabai rawit, dan tomat menjadi komoditas utama yang mendorong perubahan harga, baik dari sisi harga yang diterima maupun yang dibayar petani.

“Kenaikan harga bawang merah disebabkan permintaan dari luar daerah yang cukup tinggi, sementara stok lokal berkurang karena telah melewati musim panen. Sementara cabai rawit dan tomat mengalami kenaikan harga akibat faktor cuaca yang menurunkan produksi petani lokal,” jelasnya.

Ia menambahkan, di beberapa wilayah bahkan telah memasuki akhir musim panen, sehingga sebagian hasil produksi rusak atau busuk akibat cuaca, yang turut memengaruhi harga di tingkat petani.

Jaksa Kembali Terima Berkas Kasus Masker Pemprov NTB

“Produksi yang dihasilkan petani lokal berkurang karena faktor cuaca sehingga banyak cabai rawit maupun tomat yang rusak/busuk, bahkan dibeberapa wilayah sudah berakhir musim panen,” tandasnya. (ril)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan