Religi
Home » Berita » NU dan Ekoteologi Petani

NU dan Ekoteologi Petani

Opini
Oleh: Mohamad Baihaqi Alkawy
Peneliti dan Aktivis NU

Kultur agraris memiliki keterhubungan kuat dengan kehadiran NU sebagai jam’iyah. Dengan kata lain, kultur yang dikristalisasi dalam wadah NU adalah kultur agraris di mana ulama diposisikan sebagai pucuk dalam struktur sosial masyarakat. Pada titik ini, ulama dan kaum petani lah yang menjadi tulang punggung dari jam’iyah NU.

Ulama dalam kultur agraris sangat mempengaruhi struktur sosial. Para muassis NU tentu menyadari ini sejak awal. Itu sebabnya para ulama betul-betul berjuang untuk kepentingan kaum petani sebagai basis utama dari kaum santri di desa-desa. Karenanya, para petani sangat menghormati ulama, bahkan menggantungkan kehidupan sosialnya di tangan para ulama.

Bagi petani, apa yang dikatakan ulama adalah amanat yang tak boleh diabaikan. Sebaliknya, NU memposisikan kaum petani sebagai bagian penting dari perjuangan untuk kehidupan yang layak secara ekonomi sehingga para petani dapat menjalankan perintah agama secara nyaman.

Bilamana ditanya, siapa sebetulnya jama’ah awal NU, maka jawabannya adalah santri yang berlatar belakang para petani yang bekerja banting tulang di bawah terik matahari. Jamaah yang bergulat di pinggir berupaya bekerja secara optimal untuk terus bertahan hidup, salah satunya dengan menggarap lahannya untuk kemandirian pangan.

Tuding SK Muzihir Belum Sah, Akri : Tak Ada Tanda Tangan Sekjen DPP PPP

Sementara itu, para petani punya dimensi spritualitas yang bekerja sebagai suluh; menerangi kompleksitas kehidupan. Dan spritualitas tak sepenuhnya dapat dipisahkan dari dimensi duniawi. Berkat keterhubungan itulah, NU sebagai jembatan yang menautkan antara spritualitas dengan kompleksitas duniawi.

Dengan kata lain, ekonomi warga berbasis spritualitas dan spritualitas tak bisa berdiri sendiri tanpa adanya kemandirian ekonomi. NU sebagai jam’iyah hadir sebagai penghubung keduanya.

Ekoteologi Petani Menyonsong Abad Kedua

Sulit membayangkan kemunculan organisasi sosial-keagaamaan baru sebesar Nahdlatul Ulama (NU) di abad 21 ini. Kompleksitas abad ini berhasil memecah kehidupan dalam dua dimensi; dimensi virtual dan dimensi faktual. Keduanya bertaut satu sama lain. Virtualitas mempengaruhi faktualitas, juga sebaliknya.

Menyongsong abad kedua ini, NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia telah teruji secara kultural-politik berhasil tegak hingga seratus tahun. Perjalanan panjang itu tak mudah; penuh kelokan dan tanjakan. Tapi semua itu bisa diatasi berkat keteguhan para muassis dan jama’ah yang bergulat dari pinggir.

Jaksa Kembali Terima Berkas Kasus Masker Pemprov NTB

Keteguhan jama’ah di pinggir seperti para petani tak diraghukan lagi dalam perjalanan panjang 100 tahun NU ini. NU bagi petani adalah ruang spiritual yang tak terpisah dari martabat dirinya. Begitu NU misalnya ‘diganggu’, mereka lah yang pertama kali tegak membela NU yang telah mandarah daging dalam hidupnya.

Kondisi semacam ini semua muncul ketika ulama-ulama NU menjadikan petani sebagai basis perjuangan. Di Lombok misalnya, Datok Lopan sebagai ikon ekoteologi telah berhasil merancang bangun sistem irigasi yang digunakan oleh petani hingga hari ini. Upaya konkret semacam itu ternyata mampu menyedot simpati jama’ah. Aksi nyata semacam itu tak sekadar konsep, melainkan bergerak nyata di tengah masyarakat secara intens.

Apa yang dilakukan Datok Lopan sebagai contoh yang patut ditiru di tengah munculnya narasi ekoteologi yang telah mandarah dagiong dalam tubuh dan batin kaum petani. Bagi petani, ekoteologi bukan lah sekadar narasi, bukan omon-omon, bukan gagasan, melainkan sebuah pengetahuan yang berbasis kearifan yang telah diturunkan secara turun temurun.

Kaum petani telah berhasil menaut-padankan nilai-nilai keagamaan-spiritual lewat aktivitas bertani sekaligus sebagai bagian dari komunitas keagamaan. Kehidupan petani telah menekankan relasi timbal balik yang harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam.

Sebagai bagian dari jama’ah NU, para petani percaya, bahwa aktivitas bertani bukan sekadar untuk kepentingan ekonomi, melainkan ibadah untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mencapai kedaulatan pangan. Hal inilah yang ditekankana sejak lama oleh para muassis NU.

Pemprov NTB Ungkap Jabatan Kadis Kebudayaan Banyak Diminati Akademisi

Dari itu, di abad kedua NU, ekoteologi petani mesti berkelanjutan dan dipertahankan sebagai basis pokok dari gerakan NU menuju kemandirian ekonomi, pelestarian lingkungan dan spritualitas yang penuh kasih terhadap sesama manusia. Kaum petani sebagai detak nadi yang menghidupkan NU sejak lama.

Dari kaum petani kita belajar tentang ekoteologi yang menekankan bahwa manusia, binatang, tanah, tanaman, pohon adalah kesatuan yang saling mengisi satu sama lain. Girrah seorang petani mengajarkan kita bagaimana seharusnya spritualitas, ekonomi dan alam menjadi kesatuan yang tak bisa dipisahkan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan