Pariwisata
Home » Berita » Penolakan Glamping, Seaplane, dan Jejak Kosmologi Sasak di Rinjani

Penolakan Glamping, Seaplane, dan Jejak Kosmologi Sasak di Rinjani

Oleh: Harianto Bahagia

Tidak ada gunung yang sepenuhnya diam. Rinjani, bagi orang Sasak, selalu berbicara lewat kabutnya, lewat desir angin yang memantul dari dinding kaldera, lewat mata air yang tak pernah berhenti mengalir dari tubuhnya.

Karena itu, ketika wacana pembangunan glamping dan seaplane tiba-tiba muncul di ruang publik, banyak orang merasa seperti mendengar denting yang sumbang: bunyi yang memutus kesinambungan rasa antara manusia dan gunung.

Penolakan yang kemudian menguat bukan sekadar reaksi atas proyek wisata modern, melainkan suara lama yang terus bergema bahwa Rinjani bukan sekadar destinasi, tetapi ruang batin, tempat generasi tumbuh menata hubungan dengan alam.

Lewat pemberitaan beberapa media online, Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, ikut menyatakan apapun yang akan dikerjakan di Gunung Rinjani mesti mengedepankan konservasi ketika dirinya ditanya tentang rencana pembangunan glamping dan seaplane itu. Sikapnya terasa selaras dengan keyakinan masyarakat adat yang telah menjaga gunung ini jauh sebelum berbagai regulasi konservasi formal dibentuk.

Polda NTB Amankan Kasat Resnarkoba Polres Bima Kota

Bulan Juli 2025 lalu, dia juga terlihat hadir dalam prosesi adat Ngayu-ayu di Sembalun, sebuah ritus yang hanya digelar sekali dalam tiga tahun. Kehadiran itu lebih dari sekadar seremoni. Ritus itu seperti penegasan bahwa menjaga Rinjani menuntut kehadiran tubuh, telinga, dan kesediaan untuk mendengarkan bahasa spiritual masyarakat lokal.

Ngayu-ayu mengingatkan kita bahwa gunung bukan ruang ekonomi semata, melainkan simpul kosmologi, ialah ruang tempat manusia meneguhkan hubungan timbal balik dengan semesta.

Jejak Ritus dan Bahasa Alam

Di Sajang, masyarakat adat juga melakukan ritus Ngasuh Gunung. Ada keheningan yang tak mudah dijelaskan ketika para tetua berkumpul, membaca tanda-tanda, lalu memanjatkan doa agar gunung tetap seimbang. Ngasuh berarti merawat; sebuah kata yang membuat kita memahami bahwa menjaga Rinjani adalah tindakan sehari-hari, bukan hanya ritual besar.

Rinjani dirawat dengan kesabaran: dengan tidak mengganggu jalur airnya, tidak menambah beban yang tak dapat ditanggung hutan, tidak memutus napas satwa yang berdiam di lereng-lereng sunyinya.

Pemprov NTB Proses Surat Pengajuan Pensiun Dini Pejabat Kena Demosi

Di berbagai pelosok di Pulau Lombok, bahasa ekologis ini menemukan variannya sendiri. Masyarakat Aikdewa misalnya menggelar Ngalun Aik, memelihara mata air sebagai denyut kehidupan yang mengalir dari kaki Rinjani.

Warga Tetebatu menghidupi Roros Reban Ngansor Gadang. Sementara di desa lain dan di Kecamatan Pringgasela juga berlangsung Selamatan Mata Air Tibu Bunter.

Semua ritus lokal itu mengajarkan hal serupa: air bukan hanya materi, tetapi ingatan. Setiap ritus adalah cara menagih kesadaran bersama bahwa kelestarian bukan konsep abstrak, melainkan hubungan konkret antara tanah, air, pohon, dan manusia.

Jauh hari, lewat penggalan syair yang diciptakan oleh Pahlawan Nasional, Maulanasyaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid juga mengingatkan betapa pentingnya kita memahami keberadaan dan fungsi Rinjani sebagai pasak bumi (kosmologi dan ekologi) masyarakat di Pulau Lombok.

“Pulau Sasak kecil sekali
Tapi gunungnya besar dan tinggi
Kalau-lah orang pandai mengkaji
Pastilah sujud seribu kali”.

Pemprov NTB Dorong Pelibatan Pelaku Usaha pada Kerjasama Bali, NTB, NTT

Ekologi yang Memanggil Pulang

Dalam lanskap semacam ini, rencana glamping dan seaplane terasa seperti ketergesaan. Pembangunan yang merusak ritme ekologis bukan hanya mengancam vegetasi dan ketenangan Segara Anak, tetapi juga merusak urat nadi spiritual yang telah lama membuat masyarakat Sasak menyatu dengan gunung.

Mewujudkan wisata yang nyaman tidak salah, tetapi memaksakan infrastruktur modern di ruang sakral seperti kaldera adalah bentuk lupa terhadap ingatan kolektif yang telah lama diwariskan secara turun-temurun.

Karena itu penolakan publik kemarin terasa seperti benang yang menyambung dua dunia: dunia kebijakan formal dan dunia kosmologi lokal.

Ketika pemerintah daerah menegaskan pentingnya menjaga ekologi Rinjani, warga melihat bahwa suara mereka tidak hilang ditelan jargon pembangunan. Di tengah ketidakpastian iklim dan tekanan ekonomi, kehati-hatian semacam ini terasa sebagai bentuk keberanian.

Rinjani, pada akhirnya, bukan hanya urusan alam. Ia adalah penjaga arah. Selama ritual-ritual itu terus digelar, selama pemerintah melihat nilai di balik narasi masyarakat adat, kita masih memiliki harapan bahwa gunung tidak akan diperlakukan sebagai halaman belakang yang boleh dirapikan sesuka hati.

Penolakan terhadap glamping dan seaplane adalah pengingat bahwa masa depan Lombok tidak boleh mengabaikan bisikan alam dan jejak ritual yang selama ini menjaga keseimbangan pulau.

Rinjani memanggil kita pulang untuk merefleksi diri dengan caranya sendiri: lewat kabut, air, dan keyakinan bahwa gunung yang dirawat adalah gunung yang memberi kehidupan.***

Penulis adalah etnografer di kolektif Nusa Artivisme

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan