Pemerintahan
Home » Berita » Penulis Sastra Lokal di NTB Keluhkan Minim Dukungan Pemerintah

Penulis Sastra Lokal di NTB Keluhkan Minim Dukungan Pemerintah

Keterangan foto: Penulis Kumcer Iblis Tanah Suci, Arianto Adipurwanto dan penulis buku kumpulan puisi Topeng Labuapi, Lamuh Syamsuar (Warta Satu/nto)

Mataram – Keluhan tentang sulitnya memasarkan buku sastra terus bergaung di NTB. Para penulis di daerah yang sudah menerbitkan karya dari kumpulan puisi sampai cerpen mengaku buku mereka kerap berhenti di tumpukan kardus, dan gagal menemukan pembaca di daerah sendiri.

Lamuh Syamsuar, peneliti budaya lokal dan penulis kumpulan puisi Topeng Labuapi ini turut mengungkapkan keluhannya terhadap sempitnya ruang pemasaran buku karya sastra para penulis di daerah.

“Ya, memang salah satu keluhan terbesar para penulis sastra di daerah kita ini kan bagaimana memasarkan karya buku yang sudah dibuat,” ujarnya, Selasa (9/12/2025).

Pemasaran buku sastrawan NTB, sering menjadi tembok tak terlihat yang tampak kokoh, tetapi tak pernah benar-benar dibicarakan dengan serius. Sementara kegiatan literasi makin marak, penjualan buku lokal justru tersendat.

Para penulis yang mencetak bukunya secara swadaya sering kali berjuang mengantarnya ke toko buku, menawarkan lewat media sosial, atau menitipkannya ke komunitas literasi. Tetapi jalur itu sempit, tidak stabil, dan selalu bergantung pada energi pribadi.

Tim Ahli Gubernur NTB Bantu Percepat Program Strategis di Seluruh OPD

Di tengah situasi itu, Arianto Adipurwanto muncul dengan pengalaman konkret. Penulis kumpulan cerpen Iblis Tanah Suci, yang masuk daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, merasakan betul bagaimana intervensi kebijakan Pemda bisa mengubah arah peredaran buku lokal.

“Kongkritnya, untuk membantu menghidupkan ekosistem sastra di daerah ini, mesti ada instruksi yang mewajibkan perpustakaan daerah dan perpustakaan sekolah untuk membeli buku para penulis lokal,” katanya lugas.

Ari bukan sedang berteori. Ia membawa contoh dari wilayahnya, Lombok Utara. Beberapa tahun terakhir, karya-karya lokal mulai dibeli oleh sejumlah sekolah.

Pemicunya bukan kampanye literasi yang rumit, tetapi instruksi sederhana dari kepala daerah. “Beberapa eksemplar buku saya dibeli oleh perpustakaan sekolah dan perpustakaan daerah,” ungkapnya.

Fakta kecil itu menyodorkan pertanyaan besar: benarkah ekosistem sastra lokal hanya menunggu sebuah “kemauan politik”? Dalam banyak diskusi kebudayaan, jawabannya cenderung mengarah ke sana.

Tak Miliki Sertifikat Budidaya, KKP Segel Tambak Udang Milik Warga Asing di Lombok Timur

Tanpa kebijakan yang membuka pintu, buku-buku lokal tak akan pernah masuk ke perpustakaan formal. Dan tanpa perpustakaan, mustahil karya penulis daerah bertemu pembaca baru.

Usulan Ari sebangun dengan gagasan para akademisi dan aktivis literasi: sastra modern memang tidak masuk dalam daftar Objek Pemajuan Kebudayaan yang fokus pada unsur tradisional, tetapi ia tetap bagian dari ekspresi budaya yang wajib dirawat.

Di NTB, yang sedang menyiapkan pembentukan Dinas Kebudayaan, momentumnya terasa lebih nyata.
Ekosistem sastra akan tetap hidup selama ada ruang bagi para penulis untuk ditemukan.

Instruksi sederhana, belanja buku lokal secara berkala, dan komitmen lembaga pendidikan bisa menjadi fondasi awal. Dalam kerja sunyi para sastrawan daerah, langkah kecil seperti itu bisa terasa seperti membuka jendela yang sudah lama tertutup. (nto)

Dirut SEG Sakit, Batal Diperiksa Soal Dugaan Korupsi Sponsorship MXGP

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan