Lombok Timur — Di bawah kaki Gunung Rinjani, tepatnya di Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, suara benturan gasing yang saling beradu masih kerap terdengar saban sore. Permainan tradisional ini bukan sekedar lomba adu kekuatan gasing, melainkan ruang temu warga tempat silaturahmi tumbuh dan penat dilepas usai berladang.
Bagi masyarakat Sembalun, gasing bukan hanya permainan “mangkek” istilah lokal untuk adu pantok antar-gasing melainkan bagian dari kehidupan sosial yang terus dijaga hingga kini. Selepas aktivitas di ladang dan pekerjaan lainnya, warga berkumpul di satu arena sederhana, bercengkrama sembari menunggu giliran mengadu gasing.
Melalui permainan ini, mereka saling bertukar kabar, membicarakan kondisi ladang, hasil panen, hingga sekadar melepas lelah dengan tawa. Arena gasing pun menjelma menjadi ruang publik yang hidup tanpa sekat, tanpa hirarki.
Parman, salah seorang warga yang akrab disapa “Man” oleh rekan-rekannya, menuturkan bahwa permainan gasing ini tidak dimaksudkan untuk kompetisi atau latihan serius. Lebih dari itu, gasing adalah alasan untuk berkumpul.
“Bukan untuk latihan, bukan untuk lomba. Hanya untuk berkumpul bareng,” ujar Parman kepada WartaSatu, sembari melilitkan tali gasing, Jumat (26/12/2025).
Permainan ini pun tak membutuhkan peralatan rumit. Setiap pemain hanya membawa gasing buatan sendiri dari kayu keras yang bagian bawahnya dan pinggir dilapisi besi, serta tali sepanjang kurang lebih satu meter yang dirangkai sebagai alat pemutar.
Di arena beralaskan tanah dan beratapkan seng, riuh sorak dan tawa menyatu sejak pukul 14.00 WITA hingga azan Magrib berkumandang penanda berakhirnya permainan hari ini. Esok hari, permainan kembali berlanjut dengan kelompok berbeda.
“Setiap hari, dari jam dua sampai Magrib. Tapi beda-beda klub,” kata Parman.
Dalam satu permainan, gasing dimainkan secara berkelompok. Setiap klub biasanya terdiri dari 15 hingga 18 orang yang bergantian mengadu gasing di tengah arena.
“Satu klub itu isinya sekitar 15 sampai 18 orang,” jelasnya.

Foto 2
Salah satu pemain yang sedang “makek” memantokan gansing dengan gansing lawan. (Dok:WartaSatu/zal)
Menariknya, permainan tradisional ini juga menjadi daya tarik wisata. Tak sedikit wisatawan lokal maupun mancanegara yang berhenti untuk menonton dari dekat, bahkan tanpa rasa khawatir terkena gasing yang beradu kencang.
Seorang wisatawan asing tampak antusias mengabadikan momen permainan tersebut. Ia mendekat ke arena, meminta izin untuk memotret salah satu gasing, lalu merekam jalannya permainan dengan kamera ponselnya.
“I need take a picture,” ucapnya singkat, sembari tersenyum.

Foto 3:
Wisatawan mancanegara merekam permainan gasing warga Sembalun Lawang dengan antusias saat pertandingan berlangsung.
(Dok: WartaSatu/Zal)
Lebih dari sekadar permainan, gasing bagi warga Sembalun menyimpan nilai kebersamaan, gotong royong, dan pelestarian budaya. Dari aktivitas sederhana inilah, tradisi diwariskan, relasi sosial dirawat, dan Sembalun perlahan dikenalkan ke dunia bukan hanya lewat alamnya, tetapi juga melalui denyut kehidupan warganya.


Komentar