Mataram — Kepolisian Resor Kota (Polresta) Mataram, mencatat sebanyak 827 perkara kriminal terjadi di wilayah hukumnya sepanjang tahun 2025. Angka ini menunjukkan penurunan dibanding tahun sebelumnya dengan total 984 kasus.
Nampaknya, pola kejahatan konvensional seperti pencurian kendaraan bermotor hingga kekerasan seksual masih menjadi tantangan serius aparat penegak hukum di Ibu Kota Provinsi NTB ini. Data tersebut mencakup wilayah Kota Mataram serta tiga kecamatan di Kabupaten Lombok Barat, yakni Gunung Sari, Lingsar, dan Narmada.
Kapolresta Mataram Kombes Pol Hendro Purwoko mengatakan, dari ratusan kasus tersebut, kejahatan jalanan dan pencurian masih mendominasi laporan masyarakat. Pola yang paling sering muncul adalah pencurian kendaraan bermotor, pencurian dengan pemberatan, dan pencurian dengan kekerasan.
“Masih ada 225 kasus yang masuk kategori menonjol dan menjadi perhatian karena berdampak langsung pada rasa aman masyarakat,” kata Hendro, Senin (29/12/2025).
Menurutnya, waktu rawan kejahatan cenderung terjadi pada pagi hingga siang hari, dengan lokasi berbeda sesuai jenis perkara. Ia menyebut, pusat perbelanjaan kerap menjadi sasaran pencurian dengan pemberatan, kawasan permukiman rawan curanmor, sementara aksi kekerasan jalanan sering terjadi di ruas-ruas tertentu.
“Modusnya beragam, mulai dari perusakan pintu dan jendela, penggunaan kunci palsu, sampai penjambretan di jalan,” jelasnya.
Selain kasus pencurian, Polresta Mataram juga menyoroti sejumlah perkara yang menyita perhatian publik sepanjang tahun ini. Di antaranya perusakan Gedung DPRD NTB saat aksi unjuk rasa Agustus lalu, kasus penganiayaan berat yang berujung kematian, serta dua laporan dugaan kekerasan seksual terhadap anak.
Sementara di bidang pemberantasan narkoba, aparat mencatat 105 kasus penyalahgunaan dan peredaran narkotika. Dari pengungkapan tersebut, polisi menyita 693 gram sabu, 1,3 kilogram ganja, serta 36 butir ekstasi. Selain narkotika, ratusan botol minuman keras, baik tradisional maupun pabrikan, turut dimusnahkan.
Hendro menegaskan, meski tren kriminalitas menurun, pihaknya tidak akan mengendurkan pengawasan. Evaluasi pola kejahatan dan pemetaan wilayah rawan akan terus dilakukan untuk menekan angka kriminalitas ke depan.
“Penurunan ini harus dijaga, bukan justru membuat lengah,” pungkasnya.(Zal)


Komentar