Mataram – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan NTB, Rachmat Hidayat, memberi sinyal kuat bahwa akan melepas kepemimpinannya di partai berlambang banteng itu pada periode mendatang.
Isyarat tersebut disampaikan saat menghadiri Musyawarah Anak Cabang (Musancab) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Lombok Timur di Gedung Wanita Selong, Sabtu (14/2/2026).
Di hadapan kader, Rachmat secara terbuka menyebut periode kepemimpinannya saat ini sebagai yang terakhir. Ia menegaskan ingin memanfaatkan sisa waktu menjabat untuk turun langsung ke lapangan, menyambangi masyarakat dan menguatkan struktur partai hingga ke akar rumput.
“Ini periode terakhir saya. Saya akan keliling kecamatan di seluruh Lombok Timur dan juga Pulau Lombok. Saya ingin memastikan PAC dan ranting hidup, bergerak, dan benar-benar bersama rakyat,” ujarnya, pada Sabtu (14/2/2026).
Pernyataan itu menjadi penanda penting, mengingat Rachmat telah memimpin PDIP NTB tanpa jeda sejak tahun 2000 silam. Dengan periode kepengurusan yang akan berakhir pada 2030, ia berarti menutup lebih dari dua dekade kepemimpinan di tingkat DPD.
Dalam arena Musancab tersebut, Rachmat menaruh perhatian besar pada regenerasi kader. Ia mengaku bangga melihat peserta Musancab didominasi kader muda, khususnya dari Lombok Timur.
Bagi Rachmat, kehadiran kader muda adalah sinyal bahwa proses kaderisasi berjalan, namun tetap harus diperkuat dengan kerja nyata.
“Kader muda tidak cukup hanya hadir secara jumlah. Mereka harus ditempa melalui aktivitas di PAC dan ranting, dengan prinsip utama selalu menempel pada rakyat. Mendengar, hadir, dan bekerja bersama masyarakat itu kuncinya,” tegasnya.
Politikus berambut putih ini menegaskan pentingnya transisi kepemimpinan yang peka terhadap situasi generasi saat ini. Ia menilai estafet kepemimpinan di partai harus disiapkan sejak dini agar tidak kehilangan arah saat pergantian pemimpin.
Di sisi lain, dalam momentum itu, ia sengaja menghadirkan kader-kader senior sebagai upaya menjaga memori kolektif partai.
Rachmat mengingatkan bahwa regenerasi tanpa pemahaman sejarah dan nilai ideologis, akan berisiko terhadap kesinambungan perjuangan partai kedepan.
Ia mengenang masa-masa kejayaan PDI Perjuangan di Lombok Timur, ketika partai pernah memiliki enam kursi di legislatif sebelum turun menjadi tiga kursi saat ini.
“Partai besar tidak boleh tercerabut dari sejarahnya. Dari daerah inilah perlawanan itu dibangun. Kita pernah enam kursi, di masa yang tidak mudah. Sekarang tinggal tiga, tapi jangan pernah merasa kecil. Dari tiga kita bisa kembali ke enam,” ucapnya.
Namun demikian, Anggota DPR RI itu menekankan kejayaan masa lalu bukan untuk diratapi, melainkan dijadikan bahan bakar untuk bangkit. Menurutnya, kebangkitan partai hanya bisa dicapai jika kader konsisten turun ke masyarakat.
“Jangan hanya pandai bicara di forum. Temui rakyat, dengarkan keluhan mereka. Partai ini hidup kalau kadernya hidup di tengah rakyat,” tukasnya.
Lebih jauh, Rachmat juga menyoroti peran generasi muda dalam menghadapi Pemilu 2029. Ia menyebut pemilu mendatang sebagai momentum kebangkitan anak muda di PDI Perjuangan.
“Pemilu mendatang itu zamannya anak muda. Mereka independen, cerdas, dan kritis. Kalau kita tidak mendekati mereka dari sekarang, kita akan tertinggal,” tandasnya. (ril)


Komentar