Pemerintahan
Home » Berita » Satu Tahun Iqbal-Dinda, Ekonomi NTB Bergerak dari Koreksi ke Arah Transformasi

Satu Tahun Iqbal-Dinda, Ekonomi NTB Bergerak dari Koreksi ke Arah Transformasi

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Damayanti Putri (Iqbal-Dinda) saat momentum perayaan HUT NTB ke-67. (dok: Diskominfotik NTB/WartaOne)

Mataram – Satu tahun kepemimpinan Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Damayanti Putri atau Iqbal-Dinda, ditandai dengan dinamika ekonomi yang cukup tajam. Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi NTB kerap menjadi perdebatan publik karena muncul dua angka berbeda, 12,49 persen dan 3,22 persen.

Kepala Dinas Kominfotik NTB yang juga Juru Bicara Gubernur, Ahsanul Khalik menjelaskan perbedaan tersebut bukanlah kontradiksi, melainkan cara baca data yang berbeda. Ia menyebut angka 12,49 persen merupakan pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan IV 2025 dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2024.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi sebesar 3,22 persen merupakan angka kumulatif sepanjang tahun 2025.

“Angka 12,49 persen itu pertumbuhan ekonomi Triwulan IV 2025 dibanding Triwulan IV 2024. Itu menunjukkan lonjakan di akhir tahun. Sedangkan 3,22 persen adalah pertumbuhan kumulatif selama 2025. Jadi yang satu momentum kebangkitan, yang satu potret perjalanan setahun penuh,” kata Ahsanul Khalik pada Rabu, (18/2/2026).

Ia menyebut, sepanjang awal 2025 ekonomi NTB sempat mengalami tekanan. Pada Triwulan I dan II, pertumbuhan terkontraksi akibat turunnya produksi pertambangan, sektor yang selama ini menjadi penyumbang besar PDRB NTB. Di sisi lain, sektor pertanian justru tumbuh tinggi karena panen raya.

Pansel 13 Jabatan Lowong, Posisi Kadis PU-Perkim NTB Dilamar 1 Orang

“Kondisi ini membuat ekonomi NTB seperti direm sementara. Bukan karena ekonomi rakyat melemah, tapi karena sektor tambang sedang dalam fase transisi,” ujarnya.

Memasuki Triwulan III, aktivitas smelter mulai berjalan dan ekspor kembali dilakukan. Dampaknya terasa signifikan pada Triwulan IV, ketika pertumbuhan ekonomi NTB melonjak hingga 12,49 persen secara tahunan. Pola ini, menurut Ahsanul, menandai pergeseran dari fase koreksi menuju pemulihan.

Ia menambahkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan gambaran menarik jika sektor tambang dikeluarkan dari perhitungan.

“Kalau tanpa tambang bijih logam, ekonomi NTB justru tumbuh 8,33 persen secara kumulatif dan 13,7 persen secara tahunan. Ini menunjukkan sektor non-tambang bekerja dengan sangat baik,” terangnya.

Sektor pertanian, perdagangan, industri pengolahan, dan konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama. Konsumsi rumah tangga tumbuh 4,51 persen, tingkat pengangguran menurun, dan jumlah pekerja formal meningkat. Menurut Ahsanul, ini menandakan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tekanan sektor tambang.

Seleksi Kepsek SMA/SMK Berbasis Merit Sistem, Dikpora Pastikan Tidak Ada Ruang Cawe-Cawe

Dalam konteks perencanaan pembangunan, capaian ini dinilai tidak sederhana. RPJMD NTB 2025 awalnya disusun dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 2024 sebesar 5,30 persen dan target 2025 di angka 6 persen. Namun realitas di awal tahun berbeda jauh.

“Ekonomi NTB sempat jatuh sampai minus 1,47 persen. Dari titik itu, kita tutup tahun dengan pertumbuhan positif 3,22 persen. Artinya ada lonjakan sekitar 4,69 poin hanya dalam satu tahun,” tuturnya.

Ia menyebut capaian tersebut menunjukkan ekonomi NTB tidak hanya bertahan, tetapi mampu membalik tekanan menjadi akselerasi. Enam kali lebih besar dari kenaikan yang direncanakan dalam dokumen awal.

Sepanjang 2025, struktur ekonomi NTB juga menunjukkan penguatan. PDRB per kapita naik menjadi sekitar Rp33,67 juta per orang. Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan mencatat pertumbuhan paling tinggi, mencapai 137,78 persen, didorong mulai beroperasinya smelter. Jasa keuangan tumbuh 28,12 persen, sementara perdagangan naik 12,29 persen.

“Ini sinyal kuat bahwa hilirisasi mulai memberi dampak. Bukan hanya tambang mentah, tapi nilai tambahnya mulai dirasakan,” sebutnya.

Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 Pada Kamis 19 Februari 2026

Di luar tambang, ekonomi rakyat juga bergerak. Produksi padi meningkat dari sekitar 152 ribu ton menjadi 200 ribu ton GKG. Sektor perdagangan ikut terdorong, pariwisata mulai pulih dengan kenaikan tamu hotel lebih dari 30 persen, dan penumpang udara naik sekitar 10 persen.

Menurut Ahsanul, semua indikator ini menunjukkan arah yang sedang dibangun oleh pemerintahan Iqbal-Dinda.

“Tahun 2025 ini memang tahun transisi. Yang sedang diletakkan adalah fondasi. Bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan jangka pendek, tapi menata struktur ekonomi yang lebih seimbang dan menyentuh rakyat,” tukasnya.

Ia menegaskan, pertumbuhan ekonomi NTB sebesar 3,22 persen adalah catatan perjalanan satu tahun penuh, sementara 12,49 persen adalah tanda kebangkitan di akhir tahun. Kedua angka itu disebut Ahsanul saling melengkapi.

“Ke depan tantangannya adalah menjaga agar momentum ini konsisten sepanjang tahun, berbasis sektor padat karya, memberi nilai tambah lokal, dan benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkasnya. (ril)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan