Sumbawa — Diskusi Publik Solidaritas Banjir Sumatera digelar oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Sumbawa di Museum Bala Datu Ranga, Kelurahan Pekat, Sabtu (20/12/2025) malam. Kegiatan ini menjadi wujud solidaritas masyarakat Sumbawa atas bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.
Diskusi mengangkat tema Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana dalam Perspektif Religi dan Budaya Tau ke Tana Samawa. Tema ini menegaskan pentingnya pendekatan kebencanaan yang tidak semata teknokratis, tetapi juga berakar pada nilai budaya dan spiritual masyarakat.
Ketua BAZNAS Kabupaten Sumbawa, Dea Guru Syukri Rahmat, memaparkan peran lembaganya dalam penanggulangan bencana melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah. Ia mencontohkan program bantuan kekeringan yang dirancang tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga berkelanjutan.
“Penanggulangan bencana membutuhkan kolaborasi lintas sektor, pendekatan budaya, serta keberpihakan pada kelestarian lingkungan,” kata Syukri kepada Warta Satu, Selasa (23/12/2025).
Menurut Dea Guru Syukri Rahmat, tanpa kesadaran ekologis, risiko bencana akan terus berulang.
Dari unsur pemerintah daerah, Rusdianto AR dari BPBD Kabupaten Sumbawa menjelaskan bahwa Sumbawa menghadapi ancaman multi-bencana. Karena itu, peningkatan kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana harus terintegrasi dalam perencanaan pembangunan.
Rusdianto menilai, pengelolaan ruang dan lingkungan menjadi kunci penting. Kesalahan tata ruang akan memperbesar dampak ketika bencana terjadi.
Sementara itu, Koordinator LINGKARA Sumbawa, Devira Bunga Ayudya, menekankan peran komunitas dan generasi muda. Ia berbagi pengalaman penguatan komunitas dan praktik pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari mitigasi bencana berbasis warga.
Dari perspektif keahlian, Disaster Architecture Specialist Priyo A. Sancoyo menyoroti kecenderungan masyarakat yang semakin bermukim dan beraktivitas di kawasan rawan bencana. Pola ini, menurutnya, memperbesar risiko kerugian jiwa dan material.
Selain diskusi, kegiatan ini juga diramaikan dengan pementasan seni tari, puisi, dan teatrikal berjudul Pationgong Sang Penjaga Hutan Sumbawa. Pentas seni ini mengangkat pesan hubungan manusia dengan alam sebagai sumber kehidupan sekaligus potensi bencana.
Pemutaran film bertema lingkungan oleh Komunitas Film Sumbawa Cinema Society turut memperkaya refleksi publik. Medium seni dipilih sebagai cara alternatif untuk menyampaikan pesan kebencanaan kepada masyarakat luas.
Anton Susilo dari Sumbawa Cinema Society menyebut kegiatan ini murni gerakan solidaritas sosial. “Kami mendoakan korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, serta membangun kesadaran lingkungan,” ujarnya.
Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama dan pembagian bibit pohon kepada pengunjung. Kegiatan ini menjadi simbol komitmen menjaga lingkungan sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana jangka panjang.
NTB dalam Lanskap Risiko Bencana
Data kebencanaan dari Pusdalops BPBD Provinsi NTB menunjukkan bahwa NTB masih berada dalam lanskap risiko bencana yang tinggi. Sepanjang periode 1 Januari hingga 22 Desember 2025, tercatat 207 kejadian bencana melanda berbagai wilayah di NTB.
Banjir menjadi bencana paling dominan dengan 101 kejadian, disusul cuaca ekstrem sebanyak 60 kejadian dan tanah longsor 15 kejadian.
Selain itu, kebakaran hutan dan lahan terjadi 12 kali, kekeringan sembilan kali, gempa bumi tujuh kali, serta gelombang pasang dan abrasi tiga kali.
Rangkaian kejadian tersebut berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat, dengan total 169.704 jiwa terdampak, 16 orang meninggal dunia, enam orang luka-luka, dan puluhan ribu lainnya harus mengungsi.
Dampak fisik juga signifikan, tercermin dari 697 rumah yang mengalami kerusakan, mulai dari rusak ringan hingga rusak berat serta 44.098 rumah terendam banjir.
Tidak hanya permukiman, bencana turut mengganggu layanan dasar dan infrastruktur, seperti rusaknya ratusan ruas jalan, jembatan, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, hingga sarana air bersih.
Pada sektor lingkungan dan ekonomi, bencana menyebabkan puluhan ribu hektare lahan pertanian terdampak serta gangguan pada kawasan hutan dan perkebunan.
Gambaran ini menegaskan bahwa solidaritas terhadap korban banjir di Sumatera yang disuarakan komunitas di Sumbawa berangkat dari kesadaran yang dekat dan nyata.
Provinsi NTB sendiri hidup berdampingan dengan ancaman multi-bencana, sehingga mitigasi, kesiapsiagaan, dan kepedulian lintas wilayah menjadi kebutuhan bersama, bukan sekadar empati sesaat. (nto)


Komentar