Nasional Pendidikan
Home » Berita » SPPG Senteluk I Tetap Jaga Kualitas Higiene Saat 302 Dapur Ditutup BGN

SPPG Senteluk I Tetap Jaga Kualitas Higiene Saat 302 Dapur Ditutup BGN

Mataram – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Senteluk I di Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat, tetap beroperasi dan menyalurkan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) meski ratusan SPPG di NTB tengah disuspend atau diberhentikan sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Dari total 302 SPPG yang disuspend di NTB, sebanyak 29 unit berada di Kabupaten Lombok Barat. Penghentian operasional sementara ini dilakukan karena sejumlah dapur MBG belum memenuhi standar, khususnya terkait Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan ketersediaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Namun, SPPG Senteluk I tidak termasuk dalam daftar tersebut karena telah memenuhi seluruh persyaratan administrasi maupun infrastruktur sesuai dengan standar yang ditetapkan BGN.

Dapur MBG ini pun tetap melayani ribuan penerima manfaat setiap hari, dengan total distribusi mencapai 2.687 porsi.

Kepala SPPG Senteluk I, Fahrirrahman, menegaskan pihaknya konsisten menjalankan operasional sesuai pedoman resmi yang diinstruksikan BGN, termasuk menjaga kualitas menu MBG yang dibagikan kepada penerima manfaat.

Perkuat Kontribusi Bangun Daerah, Ikatan Alumni UIN Jakarta di NTB 2026 Gelar Halal Bihalal

“Sebagai kepala SPPG, kami senantiasa mengindahkan arahan dan pedoman pada juknis serta standar operasional dari Badan Gizi Nasional. Tetap menjaga kualitas menu dan tingkat kepuasan penerima manfaat,” ujarnya kepada WartaOne, Sabtu (4/4/2026).

Sementara itu, ahli gizi SPPG Senteluk I, Dian Septiana menegaskan dari sisi kualitas makanan, pengawasan dilakukan secara ketat melalui uji organoleptik setiap hari sebelum makanan didistribusikan.

“Saat ini, setiap harinya kami lakukan uji organoleptik pada makanan MBG, bertujuan untuk menjamin keamanan, kelayakan konsumsi, dan kualitas rasa sebelum didistribusikan kepada penerima. Pengujian ini meliputi aroma, rasa, warna, dan tekstur makanan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa proses tersebut menjadi langkah awal untuk memastikan makanan dalam kondisi layak untuk dikonsumsi.

Proses pengecekan makanan ini juga kerap melibatkan guru di sekolah penerima manfaat dan kader posyandu untuk memastikan makanan tidak basi dan tidak menimbulkan bau yang kurang sedap.

PWNU NTB Bersurat ke Presiden Usul Muktamar NU ke-35 Digelar di Lombok

“Ini merupakan langkah skrining untuk memastikan makanan tidak basi, berbau tidak sedap, atau terkontaminasi. Pengujian dilakukan di SPPG sebelum pengantaran, dan juga oleh guru atau kader posyandu sebelum diberikan kepada penerima manfaat,” lanjut Dian.

Keberlanjutan operasional SPPG Senteluk I pun disambut positif oleh salah satu sekolah yang menjadi sasaran dapur ini. Kepala Sekolah SDN 3 Meninting, Abdul Ahyar, mengaku program MBG memberikan dampak bagi aktivitas belajar siswa.

Musababnya, ia mengaku dapat menambah fokus belajar siswa setalah makan dan membuat mereka semakin antusias untuk bersekolah. Tak hanya itu, program ini juga mulai menyasar guru-guru sebagai penerima manfaat juga.

“Kami sangat berterima kasih dan bersyukur dengan adanya program MBG. Anak-anak bisa memulai aktivitas belajar dalam keadaan perut kenyang sehingga lebih fokus, antusias, dan aktif bertanya, yang nantinya berdampak pada hasil akademik yang lebih baik,” ungkapnya.

Maka dari itu, dengan tetap beroperasinya SPPG Senteluk I, Abdul Ahyar mengatakan ini menjadi kabar baik bagi sekolah-sekolah yang dilayani. Pelayanan yang diberikan oleh dapur MBG ini juga disebutkan sangat bagus.

Terkait Titik Baru Dapur MBG, Satgas Sebut Sudah Overload

“Alhamdulillah, SPPG Senteluk 1 yang menaungi kami tidak kena suspend. Artinya pihak SPPG sudah amanah dalam menjalankan program pemerintah dan memenuhi standar kelayakan yang telah ditetapkan, sehingga kami bisa tetap menerima manfaat dari program MBG ini,” tandasnya. (ril)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan