Mataram – Dea Lipa alias Deni Apriadi Rahman, penata rias pengantin (MUA) cantik asal Lombok Tengah jenis kelamin laki-laki, mengalami tekanan mental hingga fisik akibat ribuan komentar negatif dan serangan yang diterimanya sejak unggahan tentang dirinya viral di media sosial.
“Saya menerima ribuan komentar berisi cacian, hinaan, ancaman, serta teror melalui pesan langsung. Saya sangat terpukul secara mental, spiritual, dan fisik. Bahkan beberapa kali saya sempat kehilangan kendali atas diri saya,” ujarnya saat memberikan klarifikasi di salah satu cafe di Kota Mataram pada, Sabtu (15/11/2025).
Deni mengungkapkan bahwa postingan viral yang menampilkan foto-foto dirinya disertai narasi tidak benar telah menyebar luas di berbagai platform, mulai dari Facebook, Instagram, hingga TikTok.
Kendati demikian, Ia menegaskan bahwa tidak mengenal pemilik akun yang mengunggah foto-foto tersebut dan tidak pernah memberikan izin atas penggunaan gambar dirinya.
“Beberapa hari terakhir, saya mengalami ujian yang sangat berat. Sebuah akun media sosial memposting foto-foto saya beserta narasi yang tidak benar, penuh fitnah, dan sangat melukai perasaan saya, keluarga, serta teman-teman yang selama ini mendukung saya. Postingan tersebut tersebar luas di Facebook, Instagram, hingga TikTok,” bebernya.
Deni menyebut sejumlah tuduhan yang dilemparkan publik tidak sesuai dengan kenyataan. Ia bahkan difitnah sebagai penista agama, kaum sodom, bahkan dijuluki Sister Hong dari Lombok, yang menurutnya sangat melukai dirinya sendiri, keluarga, dan orang-orang yang selama ini mendukungnya.
“Banyak narasi yang disebarkan tidak sesuai dengan kenyataan, bahkan menuduh saya sebagai penista agama, kaum sodom,”
Sister Hong dari Lombok, serta menuduh saya melakukan hal-hal yang tidak saya lakukan,” ungkapnya.
Terkait tuduhan yang menyebut dirinya pernah memasuki masjid dengan mengenakan mukena dan beribadah di saf perempuan, Deni menegaskan hal itu tidak benar. Ia mengatakan tetap menghormati kesucian rumah ibadah dan mematuhi norma-norma dalam beragama.
“Tuduhan bahwa saya memakai mukena, masuk ke masjid, dan beribadah di saf perempuan adalah tidak benar. Saya menghormati agama, rumah ibadah, tata cara ibadah, dan memahami adab-adab,” katanya.
Ia juga memberi penjelasan mengenai pilihannya mengenakan jilbab pada beberapa kesempatan. Menurutnya, jilbab adalah simbol kecantikan dan kehormatan perempuan Muslim yang sejak lama ia kagumi.
“Saya sama sekali tidak berniat menjadikan busana itu sebagai alat untuk menipu atau melecehkan siapapun. Itu adalah bentuk ekspresi diri saya yang lahir dari kekaguman dan keinginan melindungi diri dari pelecehan,” pungkasnya. (ril)


Komentar