Mataram – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Aminurlah yang merupakan putra asli kelahiran Bima, menyambut penuh syukur atas penetapan Sultan Bima XIV, Almarhum Muhammad Salahuddin, sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2025.
Menurut Maman sapaan akrabnya, penganugerahan ini merupakan hasil dari perjuangan panjang yang akhirnya membuahkan hasil membanggakan, tidak hanya bagi masyarakat Bima, tetapi juga bagi seluruh warga NTB.
“Perjuangan ini sudah melelahkan, begitu lama diperjuangkan. Alhamdulillah, kita harus bersyukur ada pahlawan dari Bima yang sudah ditetapkan oleh negara. Ini akan mengangkat harkat masyarakat Bima khususnya, dan masyarakat NTB pada umumnya,” katanya, Minggu, (9/11/2025).
Ia menilai, penetapan ini juga memiliki makna strategis bagi daerah. Dengan pengakuan negara terhadap sosok Sultan Muhammad Salahuddin, kata Maman, Bima dan NTB memiliki posisi yang lebih kuat dalam peta sejarah nasional.
“Ini memberikan bargaining tersendiri bagi daerah, sehingga Bima dan NTB tidak lagi dipandang sebelah mata. Daerah kita juga punya kontribusi besar dalam perjuangan memperoleh kemerdekaan Indonesia,” tegasnya.
Maman menambahkan, Sultan Muhammad Salahuddin bukan hanya dikenal sebagai pemimpin besar dalam urusan duniawi, tetapi juga sosok yang religius dan menjadi teladan bagi umat Islam.
“Beliau itu pemimpin yang kaffah, tidak hanya memikirkan urusan dunia, tapi juga urusan akhirat. Itu harus menjadi panutan dan kebanggaan bagi masyarakat Bima,” tuturnya.
Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini menilai, gelar Pahlawan Nasional yang dianugerahkan kepada Sultan Salahuddin sangat layak dan sesuai dengan keteladanan serta perjuangan beliau.
“Kalau saya lihat dari sejarahnya, luar biasa. Gelar Pahlawan Nasional itu pantas dan sangat cocok. Sultan Muhammad Salahuddin itu kebanggaan orang Bima, bahkan diagungkan karena keteladanannya,” tuturnya.
Bagi masyarakat Bima, lanjut Maman, Sultan Muhammad Salahuddin bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi simbol kehormatan dan kebanggaan yang diwariskan lintas generasi.
“Pada masa beliau, nama Kesultanan Bima benar-benar harum. Itu menjadi panutan kita semua, bukan hanya dalam perjuangan dunia, tapi juga dalam meneladani nilai-nilai keislaman dan keadilan,” pungkasnya.
Diketahui, Sultan Muhammad Salahuddin memerintah Kesultanan Bima antara tahun 1915 hingga 1951. Ia dikenal sebagai sosok pemimpin yang visioner, berwawasan kebangsaan, dan memiliki komitmen kuat terhadap pendidikan serta perjuangan kemerdekaan.
Dalam masa kepemimpinannya, Sultan Salahuddin berperan besar mempertahankan kedaulatan rakyat Bima di tengah tekanan kolonial, sekaligus mendorong kemajuan sosial dan pendidikan di wilayahnya.
Gelar kehormatan ini akan dianugerahkan secara resmi oleh Presiden Prabowo Subianto dalam upacara kenegaraan di Istana Negara pada 10 November 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.
Penobatan Sultan Muhammad Salahuddin sebagai Pahlawan Nasional tak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Bima, tetapi juga seluruh warga NTB, yang kini menambah satu lagi putra terbaiknya di antara deretan tokoh besar bangsa. (ril)


Komentar