Mataram – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat kinerja positif pada perdagangan luar negeri sepanjang tahun 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) NTB melaporkan neraca perdagangan daerah pada September 2025 mengalami surplus sebesar US$ 161,77 juta. Secara kumulatif, surplus perdagangan NTB dari Januari hingga September 2025 mencapai US$ 400,31 juta.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, menjelaskan bahwa nilai ekspor NTB pada September 2025 mencapai US$ 173,7 juta. Ekspor terbesar berasal dari komoditas perhiasan dan permata yang menyumbang 64,55 persen dari total ekspor, diikuti oleh tembaga sebesar 32,17 persen, serta ikan dan udang 2,85 persen.
Sementara itu, nilai impor tercatat hanya sebesar US$ 11,93 juta, dengan komoditas utama berupa karet dan barang dari karet sebesar 63,67 persen, mesin dan pesawat mekanik 29,01 persen, serta besi baja 4,19 persen.
”Pada sektor perdagangan terus mengalami peningkatan, neraca perdagangan NTB sepanjang tahun 2025 mencapai US$ 400,31 juta,” ujar Wahyudin saat menyampaikan rilis tujuh indikator utama perekonomian daerah pada Senin, (03/11/2025).
Surplus perdagangan yang cukup besar ini menunjukkan daya saing ekspor NTB masih kuat, terutama pada sektor pertambangan dan pengolahan hasil bumi. Namun, Wahyudin juga menyoroti adanya perlambatan di beberapa sektor ekonomi lain yang turut memengaruhi pergerakan ekonomi daerah.
Inflasi NTB pada Oktober 2025 tercatat sebesar 0,35 persen (month to month), sedikit lebih tinggi dibanding inflasi nasional sebesar 0,28 persen. Kenaikan harga terutama terjadi pada kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya, serta beberapa komoditas utama seperti emas perhiasan, cabai merah, ikan layang, ikan bandeng, dan udang basah.
Dari sisi kesejahteraan petani, Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami peningkatan 0,65 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh naiknya harga sejumlah komoditas di subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan, seperti jagung, tembakau, cabai merah, gabah, dan wortel.
Sementara itu, sektor pariwisata masih menunjukkan pelemahan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada September 2025 turun 3,13 poin menjadi 45,67 persen, sedangkan hotel nonbintang turun 4,36 poin menjadi 33,86 persen. Penurunan ini diikuti dengan berkurangnya jumlah penumpang laut dan udara, baik domestik maupun internasional.
”Penurunan di sektor pariwisata dan transportasi ini memang menjadi perhatian, namun tidak sepenuhnya mencerminkan menurunnya kunjungan wisatawan. Aktivitas ekonomi di sektor lain, seperti perdagangan dan pertanian, justru menunjukkan tren positif,” jelasnya.
Dari sektor pertanian, kinerja produksi juga mengalami peningkatan signifikan. Total luas panen padi tahun 2025 diperkirakan mencapai 322,50 ribu hektar, naik 14,48 persen dibanding tahun sebelumnya. Produksi padi diproyeksikan mencapai 1,70 juta ton, meningkat 16,65 persen dibanding tahun 2024.
Untuk komoditas jagung, luas panen tahun 2025 diperkirakan mencapai 176,05 ribu hektar atau naik 1,32 persen dari tahun sebelumnya. Namun, produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen sedikit menurun 0,66 persen menjadi 1,20 juta ton.
Dengan kondisi tersebut, Wahyudin menilai perekonomian NTB masih berada pada jalur yang positif meski ada beberapa sektor yang perlu diperkuat kedepannya.
”Surplus perdagangan yang tinggi dan peningkatan produksi pertanian menunjukkan ketahanan ekonomi daerah cukup baik, meskipun masih ada sektor-sektor yang perlu diperkuat,” pungkasnya. (Ril)


Komentar