Ekonomi Hukum & Kriminal
Home » Berita » Tanggung Hutang MXGP, Pegawai Sukma Rasa Beban Mental dan Alami Trauma Pesanan Makanan

Tanggung Hutang MXGP, Pegawai Sukma Rasa Beban Mental dan Alami Trauma Pesanan Makanan

Manajer Rumah Makan Sukma Rasa Hamdani Akbar menyampaikan curahan hatinya terkait hutang makanan dari penyelenggara MXGP.

KESUNGGUHAN pegawai-pegawai Rumah Makan Sukma Rasa mendukung Motocross Grand Prix (MXGP) berbuah petaka. Belum semua hutang makanan itu terbayar hingga saat ini.

Berbagai cara yang dilakukan untuk menuntaskan pembayaran belum ada titik terang. Sampai saat ini mereka masih mencari tahu bagaimana cara menagih ke PT Samota Enduro Gemilang (SEG) sebagai penyelenggara.

Manager Sukma Rasa, Hamdani Akbar (HA) menumpahkan segala keluh kesah kepada jurnalis Warta Satu Muhammad Haeril Anwar (WS) terkait hutang piutang yang timbul dari event internasional ini. Berikut ini petikan wawancaranya.

WS :,Sebagai salah satu vendor penyedia konsumsi selama pelaksanaan MXGP, infonya pihak Bapak belum dibayar?

HA : Kami di sukma rasa bisa dibilang sebagai korban karena sudah hampir satu tahun setengah mau masuk ke dua tahun ini, kita belum diberikan pelunasan untuk acara MXGP itu. Sebelumnya kita hanya diberikan janji-janji dengan mengiming-imingkan akan diberikan setiap bulan secara dicicil, tapi sampai sekarang belum diberikan.

Dirut SEG Sakit, Batal Diperiksa Soal Dugaan Korupsi Sponsorship MXGP

Di awalnya kami akan dijanjikan pembayaran pertama itu sebelum melakukan pengiriman itu 25 persen, dari total nasi kotak yang kita siapkan dan prasmanan. Di pertengahan kita akan diberikan 50 persen dan satu minggu setelah acara selesai akan dilunaskan 25 persen. Akan tetapi itu semua melenceng dari kesepakatan yang sudah kita buat bersama.

WS : Kenapa kok hal itu sampai terjadi, biasa rumah makan ketat untuk pembayaran, karena ini konsumsi?

HA : Dulu kami sangat bersemangat untuk membantu mensukseskan acara dari NTB, supaya NTB lebih mendunia itu juga bagian daripada visi kami sebenarnya, akan tetapi kami sangat menyesal sekali dengan hal ini. Banyak sekali yang kami rasakan terutama kami beban mental pada atasan kami.

Kita juga sangat kecewa dengan para promotor ataupun penyelenggara dari MXGP tersebut, sehingga ada beban mental yang kami rasakan para pengusaha terkait dengan event-event besar, bahkan dampaknya masih saya rasakan sampai sekarang, bahkan seterusnya mungkin saya rasakan beban mental tersebut.

WS : Nilai yang belum dibayarkan itu berapa?

Tuding SK Muzihir Belum Sah, Akri : Tak Ada Tanda Tangan Sekjen DPP PPP

HA : Nilainya cukup banyak, yang awalnya itu kami siapkan dua Minggu, dua kali pertemuan, dengan total nominal kurang lebih Rp 400 juta. Masih ada beban Rp 180 juta belum dibayarkan dan itu sampai sekarang belum ada kabar bahkan nomor saya pribadi di blokir sama ketua penyelenggara dibagian konsumsi.

Kami sayangkan itu tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan hal ini, kami juga bersama-sama vendor lain itu akan tetap berusaha mengambil hak kami para UMKM dan mudah-mudahan ini tidak terjadi pada UMKM lain.

Mohon maaf, ini bukan perkara nominal saja, tetapi ini juga bisa menjadi dampak bagi NTB nanti kalau tidak ada lagi UMKM yang akan membantu itu akan berdampak besar juga, tidak ada yang mensupport acara-acara seperti ini kembali.

Saya sendiri sangat menyesali dengan para promotor, sikapnya tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan bahkan kami berikan kelonggaran di setiap pertemuan untuk bisa menyelesaikannya.

WS : Berarti sukma rasa dipakai dari sebelum hari pelaksanaan acara?

Jaksa Kembali Terima Berkas Kasus Masker Pemprov NTB

HA : Iya, jadi kita mensupport dari sebelum acara sampai selesai acara. Dimana walaupun kondisi dulu waktu di awal itu kita belum dapat DP, tapi karena kami juga ingin mensukseskan jangan sampai ada kekecewaan nanti. Di acara itu tidak ada konsumsinya jadi kita upayakan. Baru kami diberikan uang muka di hari kedua setelah acara itu terlaksana, itu pun nominalnya tidak sesuai dengan yang sudah disepakati yang 25 persen, waktu itu kurang lebih kita diberikan sekitar Rp 60 juta.

Untuk porsinya seingat saya satu hari itu kita hampir menyiapkan 2.000 kotak selama tiga hari pelaksanaan. Belum prasmanannya yang VIP juga waktu itu.

WS : Ada rasa trauma tadi katanya Bapak?

HA : Benar, jadi saya pribadi sebagai manager itu kayak menyaring ketika ada event-event, kayak ada rasa trauma untuk menyediakan produk atau barang kami sebelum ada uang muk ataupun pelunasan di awal.

Bahkan kemarin kami ditawarkan lima dapur MBG tapi belum berani kami terima karena beban mental yang tadi. Ada yang belum dilunaskan. Kami khawatir ini juga akan menambah beban mental kami sehingga apa yang kami.

WS : Dari pihak Bapak, seperti apa komunikasi dengan promotor untuk menagih haknya?

HA: Kami bersama teman-teman vendor yang lain itu memiliki grup kita selalu saling kabar mengabari di sana, sampai pernah dulu kita bawa beberapa tim untuk menagih para pihak promotor ini, ke rumahnya waktu itu, ke rumah pribadinya, yang saya ingat itu kebetulan ada bawahnya (menyebut nama-nama).

Kami bawa beberapa tim supaya memang segera diselesaikan dan kami dijanjikan kembali bahwa mereka sedang menjual aset di Sumbawa dan akan melunaskannya secara angsuran, tapi sampai sekarang belum ada sepeserpun kami terima bahkan WA saya diblokir, tidak bisa dihubungi. Sampai sekarang tidak ada kabar.

WS : Dampak dari belum lunasnya pembayaran terhadap rumah makan apa?

HA : Waktu itu sempat satu sisi ada dampak positif yang bisa kita rasakan ketika acara, tapi dampak negatifnya lebih banyak. Karyawan banyak kami tarik kemarin untuk membantu menyelesaikan agenda itu sehingga di outlet itu tidak maksimal pelayanan kami, kita optimalkan supaya kegiatan MXGP ini lancar tapi kenyataannya setelah kita support tidak ada feedback yang kami dapat, kami justru banyak kecewa.

WS : Bapak kan sebagai manager, tentu ada atasannya yakni owner, sikap owner seperti apa?

HA : Awalnya memang sebelum acara ini ownernya itu agak kurang setuju karena uang muka belum turun, tapi saya sebagai manager meyakinkan akan ada kabar baik. Beberapa bulan setelah penagihan-penagihan, ownernya itu sempat menyampaikan pesan kepada saya, artinya saya pribadi itu supaya jangan lagi buat saya kecewa.

Saya sudah ada perjanjian khusus sama ownernya untuk bagaimana supaya ini bisa saya selesaikan, saya diberikan kesempatan waktu untuk upayakan agar pelunasan bisa dilakukan.

Waktu itu saya diberikan kesempatan tiga bulan, tapi saya juga meyakinkan dan berusaha untuk mengembalikan uang itu dalam bentuk pesanan-pesanan yang lain, itu yang saya optimalkan. Supaya tidak terlalu berat juga, tapi saya tetap berjanji pada owner untuk mengembalikan nominal yang masih belum dibayar.

WS : Apa yang ingin Bapak sampaikan kepada pihak-pihak yang terkait MXGP?

HA : Kami berharap mudah-mudahan mereka beritikad baik untuk menyelesaikan tanggung jawabnya supaya kami juga lebih bisa untuk mendukung kegiatan pemerintah yang lain.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan