Mataram – Sebuah video menampilkan sejumlah siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Lombok Tengah mengaku belum pernah menerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sontak video itu saat ini viral di sosial media facebook.
Video tersebut diunggah oleh akun bernama Paul Fadila dan telah ditonton sekitar 180 ribu kali, mendapat 224 komentar, serta dibagikan sebanyak 527 kali. Dalam unggahan itu terdapat dua video berbeda yang memperlihatkan siswa SD menyampaikan keluhan mereka.
Video pertama menampilkan siswa SDN Gerintuk, Dusun Pemoles, Desa Batujangkih, Lombok Tengah. Dalam rekaman itu, para siswa menyebut belum pernah mendapatkan MBG sejak program tersebut berjalan. Anak-anak itu pun kompak menyuarakan keadilan atas hak yang seharusnya mereka terima.
“Kami dari SDN Gerintuk belum mendapatkan MBG. Bapak Presiden Prabowo yang saya cinta, hormati dan banggakan, satu tahun MBG berjalan tapi hanya cerita yang kami dapatkan. Saya belum mendapat MBG, mohon keadilannya Pak Prabowo,” ucap para siswa dalam video tersebut.
Kemudian video kedua berasal dari SDN Bunpetung, Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Para siswa juga menyampaikan hal serupa, sejak awal program MBG hingga satu tahun pelaksanaannya, mereka mengaku sedih lantaran hanya bisa melihat teman mereka atau dari sekolah lain yang bisa menyantap MBG.
“Kami belum mendapatkan MBG. Kami hanya bisa menonton teman yang sudah satu tahun mendapatkan MBG. Mohon keadilannya Bapak Prabowo,” kata para siswa SDN Bunpetung dalam video itu.
Unggahan tersebut pun memicu beragam komentar dari warganet, mulai dari kritikan kepada pemrograman hingga dukungan untuk pemerataan program MBG di NTB.
Menanggapi hal itu, Koordinator Regional Program MBG Provinsi NTB, Eko Prasetyo menegaskan pihaknya berkomitmen agar seluruh anak mendapatkan haknya.
Ia mengatakan akan berkoordinasi dengan koordinator kabupaten dan koordinator kecamatan untuk segara merampungkan data terkait sekolah mana saja yang belum terjangkau oleh program MBG ini.
“Kita sih intinya semua, semua harus dapat. Bagaimanapun kita komitmen di Provinsi NTB karena memang udah haknya anak-anak gitu kan. Itu kan kampanye kita makan bergizi gratis hak anak Indonesia,” ujarnya, pada Sabtu (14/2/2026).
Ia menjelaskan, belum terjangkaunya sejumlah sekolah kemungkinan disebabkan oleh faktor teknis di lapangan, terutama terkait keterbatasan kapasitas atau kemampuan distribusi oleh setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ada di daerah tersebut.
“Satu SPPG tidak boleh melayani lebih dari 3.000 penerima manfaat. Radiusnya juga maksimal enam kilometer. Bisa jadi SPPG terdekat masih dalam proses pembangunan atau belum tersedia di sekitar sekolah tersebut,” tuturnya.
Eko mengatakan pihaknya sudah menerima informasi terkait adanya sejumlah sekolah yang belum sama sekali tersentuh program MBG. Ia menegaskan pihaknya mendorong percepatan agar sekolah-sekolah yang belum terlayani segera masuk dalam jangkauan distribusi.
“Kemarin kita dapet informasinya sih, komitmen kami di Provinsi NTB adalah melakukan percepatan-percepatan supaya semua anak bisa segera menerima MBG,” tandasnya. (ril)


Komentar