Mataram – Suasana kawasan Makam Loang Baloq di Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, tampak dipadati peziarah pada Sabtu (28/3/2026).
Momentum ini bertepatan dengan perayaan Lebaran Topat, tradisi khas masyarakat Lombok yang dilaksanakan pada 8 Syawal usai menjalankan puasa sunah enam hari di bulan Syawal, setelah Idul Fitri.
Ribuan warga berdatangan ke kawasan pesisir tersebut untuk melakukan ziarah makam yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran Topat.
Sejak pagi hari, silih berganti peziarah yang berdatangan untuk memenuhi area makam hingga ke pelataran sekitar.
Lebaran Topat sendiri dikenal sebagai tradisi syukuran masyarakat Lombok setelah menunaikan puasa Syawal. Perayaan ini identik dengan hidangan ketupat, lontong, serta aneka lauk pendamping seperti opor ayam, opor telur, dan hidangan khas lainnya yang disantap bersama keluarga maupun tetangga sekitar.
Di Kota Mataram sendiri, tradisi tersebut juga diwarnai dengan ziarah makam, khususnya ke Makam Loang Baloq yang diyakini sebagai salah satu situs penyebaran Islam di Pulau Lombok.

Makam yang diziarahi di Loang Baloq (dok. WartaOne/Ril)
Salah seorang peziarah, Eka Fitria (34), mengaku rutin datang ke Makam Loang Baloq setiap Lebaran Topat sebagai bagian dari tradisi keluarga.
“Ini sudah dari orang tua kami dulu. Setiap Lebaran Topat pasti ke sini. Kami ziarah, berdoa, berzikir, meminta keberkahan,” katanya saat diwawancarai, Sabtu (28/3/2026).
Ia menegaskan bahwa doa yang dipanjatkan tetap ditujukan kepada Allah SWT, sementara makam menjadi perantara untuk mengingat jasa para ulama penyebar Islam.
“Kami tetap berdoa kepada Allah. Di sini hanya sebagai tempat untuk mendekatkan diri, mengenang, dan berharap kebaikan. Ada juga yang percaya bisa jadi wasilah untuk kesembuhan,” ujarnya.
Sementara itu, penjaga Makam Loang Baloq, Mujemal (50), menjelaskan bahwa makam tersebut telah menjadi tujuan ziarah sejak ratusan tahun lalu dan dihormati oleh masyarakat dari berbagai daerah.
“Ini sudah lebih dari 200 tahun. Dihormati semua, dari luar juga datang, dari Sulawesi, Kalimantan, Jawa,” ungkapnya saat ditemui disela-sela keramain ziarah makam.
Disebutkan, beberapa situs sakral atau keramat di tempat tersebut adalah makam Maulana Syekh Abdurrazak dan makam Datoq Laut.
Ia menjelaskan jumlah pengunjung saat Lebaran Topat bisa mencapai puluhan ribu orang dalam sehari. Tugas utamanya sebagai juru kunci adalah menjaga kebersihan dan keamanan kawasan makam.
“Yang penting itu keamanan, kebersihan, dan melayani pengunjung. Insya Allah tetap ramai setiap tahun,” tuturnya.
Jejak Penyebaran Islam di Loang Baloq
Camat Sekarbela, Arif Satriawan, menambahkan bahwa kawasan Loang Baloq tidak hanya menjadi pusat perayaan tradisi, tetapi juga memiliki nilai historis penting dalam perjalanan masuknya Islam di Pulau Lombok.
Ia menyebut, penyebaran Islam di wilayah tersebut berlangsung secara damai melalui pendekatan budaya dan kekeluargaan.
“Masuknya Islam di sini dengan cara yang damai, dengan akulturasi budaya. Cara penyebarannya juga mengedepankan kekeluargaan,” ujarnya saat ditemui di Kawasan Wisata Pantai Loang Baloq, Sabtu (28/3/2026).
Menurut Arif, nilai-nilai yang diwariskan para tokoh agama atau tuan guru menjadi landasan utama yang terus dijaga hingga kini, terutama dalam hal pendidikan dan pembentukan akhlak masyarakat.
“Tuan guru memberikan kita warisan yang perlu kita pegang, yaitu pendidikan. Kita diminta untuk terus menuntut ilmu dan tetap mengutamakan adab. Dengan adab dan ilmu itu yang menjadi warisan yang harus kita pelihara,” katanya.
Ia menekankan pentingnya pendidikan sejak usia dini, mulai dari taman pendidikan Al-Qur’an hingga pembinaan akhlak generasi muda.
Nilai hormat kepada orang tua dan etika dalam kehidupan sehari-hari, lanjutnya, menjadi bagian dari tradisi yang terus dijaga di tengah masyarakat.
“Pendidikan itu dimulai dari yang paling kecil, dari TPQ, kemudian pendidikan akhlak. Remaja harus tetap hormat kepada orang tua, dan orang tua juga memberikan teladan,” ucapnya.
Lebih jauh, Arif melihat potensi Loang Baloq tidak hanya sebagai destinasi wisata religi, tetapi juga sebagai daya tarik wisata yang lebih luas.
Selain nilai sejarah dan spiritual, kawasan ini juga menawarkan panorama alam yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
“Ini bisa menjadi wisata yang bukan hanya tempat yang indah untuk dikunjungi, tapi juga punya nilai sejarah dan religi. Apalagi di sini kita bisa menikmati sunset, dan itu salah satu yang terbaik,” pungkasnya. (ril)


Komentar