Mataram – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengandalkan program optimalisasi lahan (oplah) sebagai strategi menghadapi potensi musim kemarau panjang pada 2026.
Program ini dinilai mulai menunjukkan hasil, terutama dalam meningkatkan produksi pangan sektor pertanian di wilayah rawan kekeringan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi musim kemarau 2026 datang lebih awal di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk NTB. Musim kemarau bahkan diperkirakan berlangsung lebih panjang dari biasanya.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, mengatakan pemerintah daerah telah melakukan berbagai langkah antisipasi sejak jauh hari, salah satunya memaksimalkan penyediaan sumber air seperti sumur bor.
“BPBD sudah bersiap dari berbulan-bulan lalu, terutama untuk sumur bor dan kendaraan tangki yang akan kita deploy. Mudah-mudahan dugaan kemarau panjang ini tidak terjadi,” ujarnya usai acara halal bihalal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTB, Rabu (15/4/2026).
Program oplah menjadi cara pemerintah untuk meredam dampak kekeringan. Melalui oplah ini lahan-lahan yang sebelumnya hanya bisa ditanami sekali dalam setahun, kini dapat meningkat menjadi dua kali dalam setahun.
Iqbal menyebutkan, pada tahun 2025 program oplah telah mampu meningkatkan produktivitas 14 ribu hektare lahan pertanian.
“Oplah yang 14 ribu hektare pada 2025 itu paling banyak kita alokasikan di daerah-daerah yang tidak hujan. Yang tadinya hanya IP 100 (indeks pertanaman) atau panen satu kali setahun, sekarang sudah bisa dua kali,” kata Iqbal.
Ia menegaskan, peningkatan jumlah masa tanam tersebut sangat bergantung pada keberfungsian sistem irigasi. Selama pasokan air tetap terjaga, setidaknya petani masih memiliki peluang untuk memulai musim tanam meski diprediksi akan terjadi kemarau panjang.
“Mungkin tidak berlimpah, tetapi cukup untuk memulai musim tanam, sehingga kita bisa memitigasi agar tidak terjadi kelangkaan suplai air untuk pertanian,” tuturnya.
Selain itu, Iqbal mengatakan Pemprov NTB juga melibatkan penyuluh pertanian hingga organisasi petani dalam mengatur distribusi air dan mengedukasi pola tanam kepada petani.
“Kita sudah briefing dengan para penyuluh dan juga asosiasi pekasi, karena mereka yang mengatur saluran air. Alhamdulillah sejauh ini masih berjalan baik,” tandasnya. (ril)


Komentar