Mataram – Anggota DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Rifki Farabi, memastikan kondisi Hilda, dalam keadaan aman usai perempuan asal Lombok Timur menjadi korban dalam polemik dugaan rasisme di Bali.
Kepastian itu disampaikan Farabi setelah menghubungi Hilda melalui video call yang diunggah di media sosial pribadinya, Jumat (14/8/2026).
Dalam percakapan tersebut, Senator Farabi menanyakan kondisi Hilda sekaligus memastikan perempuan tersebut tetap aman selama bekerja di Bali.
Sebelumnya, Farabi juga menyatakan siap memberikan dukungan moral, pendampingan, serta bantuan keuangan kepada Hilda.
“Yang paling penting, korban harus merasa aman dan tidak sendirian. Kami akan memberikan dukungan moral dan pendampingan,” kata Farabi dalam keterangannya, Sabtu (14/8/2026).
Farabi memberikan perhatian setelah kasus yang melibatkan Hilda dan seorang penjahit di Bali tersebut viral di media sosial. Polemik semakin melebar setelah muncul rekaman proses mediasi yang melibatkan seorang senator asal Bali, Arya Weda Karna atau AWK .
Dalam rekaman tersebut, proses mediasi justru menuai kritik dari publik. Langkah membawa-bawa pihak tempat Hilda bekerja di Indomaret dinilai warganet berpotensi memberikan tekanan kepada korban.
Atas hal itu, Farabi menilai mediasi semestinya menjadi ruang untuk mencari jalan keluar secara adil dan bermartabat. Ia meminta proses penyelesaian persoalan tidak dilakukan dengan cara yang dapat membuat salah satu pihak merasa tertekan.
“Kalau niatnya untuk mendamaikan, maka caranya juga harus baik,” jelasnya.
Menurut putra mantan Gubernur NTB Zainul Majdi itu, persoalan tersebut tidak seharusnya berkembang menjadi pertarungan antara siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang lebih penting, kata dia, adalah memastikan korban mendapatkan rasa aman dan penyelesaian yang adil.
Ia menegaskan perhatiannya terhadap Hilda bukan untuk memperkeruh persoalan, melainkan memastikan warga NTB yang berada di luar daerah tetap mendapatkan perlindungan moral ketika menghadapi persoalan.
“Yang kita butuhkan bukan siapa yang menang atau kalah, tetapi penyelesaian yang adil dan bermartabat,” tegasnya.
Farabi juga mengapresiasi Hilda yang tetap menjalankan aktivitas pekerjaannya di Bali. Ia memastikan akan terus berkomunikasi dengan Hilda untuk memantau kondisi dan kebutuhannya selama berada di sana.
Sebagai informasi, kasus tersebut sebelumnya menjadi sorotan setelah video seorang perempuan penjahit di Bali yang diduga melontarkan cacian dan hinaan bernuansa rasis terhadap Hilda beredar luas di media sosial.
Polemik kemudian berkembang setelah proses mediasi yang melibatkan AWK. Alih-alih meredakan persoalan, rekaman mediasi justru memunculkan kritik baru karena pihak tempat Hilda bekerja turut disebut dalam proses tersebut. (ril)


Komentar