Mataram – Pemprov NTB, menyiapkan solusi sementara untuk mengatasi sampah yang telah menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kebon Kongok, Lombok Barat.
Dua landfill yang ada di kawasan tersebut akan digabung agar tetap bisa menampung sampah dari Kota Mataram dan Lombok Barat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) NTB, Didik Mahmud Gunawan Hadi mengatakan, penggabungan dua landfill tersebut diperkirakan hanya mampu memperpanjang usia tampung TPA sekitar dua tahun lagi atau sampai 2027.
“Kalau digabung itu bisa bertahan sampai dua tahun. Sambil kita nunggu dari ini kan apa, selanjutnya itu kita akan tidak landfill lagi, kita harus pakai teknologi,” kata Didik usai rapat koordinasi terkait penanganan sampah di TPA Kebon Kongok, Rabu (19/8/2026).
Setelah itu lanjut Didik, pemerintah menargetkan tidak lagi mengandalkan sistem landfill dan mulai mengolah sampah menggunakan teknologi.
“Harus sudah pakai teknologi. Jadi kita mendorong apa, energi apa, sampah menjadi listrik itu PLTSa. Jadi semua dimasukkan sampahnya ke sana,” tegasnya.
Landfill yang akan digabung memiliki luas sekitar 37 are. Sementara bagian landfill yang berada di tengah atau terpisah oleh jalan akan ditutup untuk kemudian area tersebut dioptimalkan menjadi satu kesatuan.
Namun, rencana tersebut belum diputuskan secara final. Pemprov NTB masih menunggu arahan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal terkait waktu pelaksanaannya, apakah dilakukan tahun ini atau tahun depan.
“Belum bisa diputuskan ya. Karena terkait dengan waktu ini. Waktu yang tinggal berapa bulan ini masih minta arahan Pak Gub. Apakah tahun ini atau tahun depan,” ujar Didik.
Didik mengatakan, kondisi kapasitas landfill yang ada saat ini diperkirakan hanya mampu bertahan hingga Desember 2026. Karena itu, pemerintah harus segera menyiapkan solusi atau langkah lanjutan agar persoalan sampah dapat teratasi.
Selain PLTSa, Pemprov NTB juga tengah menjajaki sejumlah opsi teknologi pengolahan sampah. Didik menyebut terdapat sejumlah investor yang berminat mengembangkan pengolahan sampah di NTB.
“Banyak. Nanti kita lagi garap itu dulu kan. Nanti kalau saya bocorin sekarang kan tidak deg-degan lagi,” cetusnya.
Menurut Didik, salah satu opsi yang sedang dijajaki adalah peluang mendapat proyek mesin pengolah sampah dari Danantara dengan kapasitas di bawah 1.000 ton per hari.
Di sisi lain, Pemprov NTB kata Didik juga menyiapkan rencana untuk melakukan pemulihan terhadap landfill lama di TPA Kebon Kongok. Tumpukan sampah yang selama ini menggunung akan ditambang atau diolah kembali melalui teknologi tertentu.
“Intinya sampah itu tidak dilandfill lagi, langsung masuk diolah,” ungkapnya.
Ia mengatakan, lokasi pengolahan sampah dengan teknologi baru nantinya kemungkinan berada di luar area landfill yang saat ini sudah penuh. Sementara landfill lama akan ditata kembali dengan konsep mining atau pemanenan sampah.
“Jadi besok itu rata lagi gunung yang sampah itu. Pasti ada untungnya. Untungnya itu kan tidak ada sampah. Habis sampah kita, landfill kita habis gitu kan. TPA itu sudah datar,” urai Didik.
Ia menegaskan, penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan perluasan tempat pembuangan. Pengurangan sampah dari sumbernya juga menjadi bagian penting untuk memperpanjang usia TPA.
Ia meminta masyarakat di Kota Mataram dan Lombok Barat ikut mengurangi produksi sampah dari rumah tangga.
“Saya mohon teman-teman yang di Kota Mataram, di Lombok Barat, bantu kita untuk mengurangi sampahlah dari sumbernya,” pungkasnya. (ril)


Komentar