Mataram – Atap salah satu gedung kelas di SMAN 7 Mataram tiba-tiba ambruk saat jam istirahat siang, Selasa (19/5/2026). Peristiwa itu mengakibatkan empat siswa mengalami luka ringan dan syok.
Beruntung, saat kejadian itu sebagian besar siswa tengah melaksanakan salat Zuhur berjamaah di musala sekolah sehingga tidak banyak siswa berada di dalam kelas.
Kepala SMAN 7 Mataram, Ridha Rosalina, mengatakan hanya beberapa siswa yang berada di ruangan saat atap bangunan runtuh. Mereka merupakan siswa yang tidak mengikuti salat berjamaah.
“Itu siswa sedang salat Zuhur berjamaah di surau. Nah, yang ada di dalam kelas itu adalah siswa yang tidak melaksanakan salat Zuhur, ya. Artinya yang beragama lain,” ujar Ridha saat ditemui di SMAN 7 Mataram, Selasa sore (19/5/2026).
Ia menyebut terdapat lima siswa di lokasi saat kejadian. Namun satu siswa lebih dulu keluar ruangan sebelum atap roboh, sementara empat lainnya berhasil menyelamatkan diri meski mengalami luka ringan.
“Yang empat ini alhamdulillah bisa keluar dengan selamat, hanya lecet saja, cedera sedikit saja,” katanya.
Kendati, tiga siswa yang mengalami luka ringan telah diperbolehkan pulang usai mendapatkan penanganan medis di puskesmas terdekat.
Sementara satu siswa lainnya dirujuk ke Rumah Sakit Umun Daerah Kota Mataram untuk menjalani pemeriksaan lanjutan karena mengalami syok.
“Ndak, dia secara itu ndak dia luka, ndak ada apa. Cuman syok mungkin ya. Jadi, katanya kepalanya pusing,” ungkapnya.
Menurutnya, bangunan yang ambruk merupakan gedung lama yang dibangun sekitar tahun 2006 melalui bantuan sumbangan orang tua siswa.
“Jadi sebenarnya gedung ini dibangun dari bantuan orang tua siswa tahun 2006,” jelasnya.
Ridha mengaku tidak menemukan tanda-tanda kerusakan mencurigakan sebelum kejadian. Bahkan saat melakukan pengecekan rutin pada pagi hari, kondisi plafon masih terlihat normal.
“Pagi tadi sebelum ini, ketika jam pertama saya seperti biasa keliling, saya lihat plafonnya itu baik, tidak ada yang mencurigakan,” tuturnya.
Ia menjelaskan bagian bangunan yang ambruk hanya pada struktur atap dan plafon, sementara dinding gedung masih berdiri kokoh.
“Bangunannya masih bagus. Atapnya saja,” katanya.
Bangunan yang terdampak terdiri dari dua ruang kelas dan satu ruang perpustakaan. Namun pihak sekolah memutuskan menutup sementara seluruh ruangan karena kondisinya dinilai mengkhawatirkan.
“Ada tiga ruangan ini. Dua kelas dan satu perpustakaan,” lanjut Ridha.
Pihak sekolah menduga kondisi bangunan yang telah berusia hampir 20 tahun menjadi salah satu faktor penyebab runtuhnya plafon dan atap gedung tersebut.
Ridha juga mengaku mulai mengkhawatirkan kondisi bangunan kelas lainnya dan menilai perlu dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap fasilitas sekolah.
“Iya, saya rasa seperti itu, perlu pemeriksaan menyeluruh terhadap bangunan sekolah,” tandasnya. (ril)


Komentar