Pendidikan
Home » Berita » Kiat Peneliti FKIP Unram Sulap Gunung Rinjani Jadi ‘Laboratorium’ Matematika Anak SD

Kiat Peneliti FKIP Unram Sulap Gunung Rinjani Jadi ‘Laboratorium’ Matematika Anak SD

Lombok Timur – Pembelajaran matematika bagi siswa sekolah dasar (SD) kini tidak lagi sebatas hafalan angka dan rumus di atas kertas. Kelompok Peneliti Bidang Ilmu Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram (Unram) menghadirkan inovasi pembelajaran numerasi kontekstual yang memanfaatkan kearifan lokal kawasan Geopark Rinjani.

Ketua Tim Peneliti FKIP Unram, Ni Made Intan Kertiyani, mengungkapkan bahwa program pelatihan dan pendampingan ini difokuskan bagi 18 guru kelas di Gugus Suela, Kabupaten Lombok Timur. Langkah ini diambil guna mengatasi tantangan kemampuan numerasi siswa berdasarkan evaluasi Rapor Pendidikan di SDN 2 Suela.

“Kami melihat pembelajaran numerasi di tingkat sekolah dasar masih membutuhkan penguatan. Banyak guru yang merasa belum sepenuhnya siap mengajar secara kontekstual karena keterbatasan acuan untuk menghubungkan materi matematika dengan lingkungan terdekat siswa,” ujar Intan kepada wartawan, Kamis (17/9/2026).

Dalam program pendampingan tersebut, Intan bersama timnya Dr. Nyoman Sridana, Nurul Hikmah, Gilang Primajati, Nourma Pramestie Wulandari, serta mahasiswa Septyani Nanda Dewi. Mereka mengajak para pendidik memanfaatkan kondisi geografis Gunung Rinjani sebagai “laboratorium” pembelajaran matematika.

Intan menjelaskan, salah satu materi yang diterapkan adalah simulasi pemetaan sebaran abu vulkanik Gunung Rinjani sejauh 13 kilometer. Melalui media peta Kabupaten Lombok Timur, para guru diajak menyusun soal numerasi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

UNRAM Perkuat Kompetensi Guru SD di Mataram, Dorong Pembelajaran Berbasis Bukti

“Guru menggunakan peta untuk mengajarkan konsep skala dan lingkaran. Kawah Rinjani dijadikan titik pusat, sementara jangka dan peta digunakan untuk memetakan radius wilayah terdampak. Dengan begitu, konsep matematika yang abstrak seperti jarak dan luas menjadi jauh lebih konkret bagi siswa,” jelas Intan.

Selain metode simulasi, tim FKIP Unram juga menyusun dan membagikan modul pembelajaran numerasi setebal 102 halaman. Modul tersebut memuat aneka konteks lokal, mulai dari kebudayaan Sasak, isu lingkungan, hingga konsep pencampuran warna.

“Modul ini tak hanya berisi soal, tetapi dilengkapi skenario pembelajaran, potensi kendala di kelas, hingga alternatif solusinya. Kami ingin guru memiliki panduan yang matang dan praktis,” tambahnya.

Dorong Literasi Bencana Sejak Dini
Pendekatan numerasi berbasis lingkungan ini juga diharapkan mampu membangun literasi kebencanaan dan kesadaran lingkungan pada siswa sejak dini.

Menurut Intan, integrasi materi erupsi dan ekosistem Geopark Rinjani selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), serta SDG 15 (Ekosistem Daratan).

Unram Bekali Guru di Lombok Utara Manfaatkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi

Program pelatihan ini dilaksanakan menggunakan metode blended learning, di mana peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga mempraktikkan pembuatan media pembelajaran hingga simulasi mengajar (peer teaching).

Respon positif ditunjukkan oleh pihak sekolah dan Gugus Suela. Ketua Gugus Suela, Abdul Gani Arsyadi, secara resmi menandatangani Surat Pernyataan Pemanfaatan Karya Dosen sebagai komitmen keberlanjutan program.

“Ke depan, Tim Peneliti FKIP Unram berencana mereplikasi program pendampingan serupa ke gugus-gugus SD lainnya di sepanjang kawasan lereng Gunung Rinjani,” tandasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan