Lombok Barat – Universitas Mataram (Unram) ikut mendorong Kabupaten Lombok Barat membangun ekosistem inovasi daerah yang lebih terarah. Salah satu langkahnya dilakukan melalui pendampingan penyusunan Roadmap Sistem Inovasi Daerah (SIDa) Kabupaten Lombok Barat 2025–2029.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Mataram (Unram) Dr. Andi Chairil Ichsan mengatakan program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan dokumen perencanaan, tetapi menjadi upaya menyatukan berbagai potensi daerah dengan kebijakan pembangunan berbasis inovasi.
Melalui program bertajuk Pendampingan Penyusunan Roadmap Sistem Inovasi Daerah (SIDa) Kabupaten Lombok Barat 2025–2029, tim Unram melakukan sosialisasi, focus group discussion (FGD), hingga pendampingan secara berkelanjutan bersama pemangku kepentingan di Lombok Barat.
“Hasil akhirnya berupa dokumen Roadmap SIDa Kabupaten Lombok Barat 2025–2029 yang disiapkan sebagai kerangka strategis pengembangan inovasi daerah,” Andi, Kamis (17/9/2026).
Menurut Andi, SIDa sendiri menjadi instrumen untuk mempertemukan strategi, kebijakan, dan berbagai aksi inovatif dengan melibatkan pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, serta masyarakat.
Penyusunan roadmap tersebut kata Andi, berangkat dari kondisi Lombok Barat yang sebenarnya telah menghasilkan berbagai inovasi daerah pada periode 2020–2023.
Namun, kata dia, inovasi yang telah muncul masih menghadapi sejumlah persoalan, terutama dalam hal koordinasi, dokumentasi, hingga integrasi antar inovasi. Kondisi tersebut membuat berbagai inovasi yang telah dihasilkan belum sepenuhnya terhubung dalam satu arah pembangunan daerah.
Melalui roadmap, Unram membantu mendorong agar potensi-potensi tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan dapat ditempatkan dalam kerangka inovasi daerah yang lebih terintegrasi.
“Dalam prosesnya, FGD menjadi salah satu ruang untuk memetakan potensi sekaligus kebutuhan Lombok Barat,” tegasnya.
Sejumlah sektor unggulan yang mengemuka antara lain pariwisata berbasis alam dan budaya, pertanian modern, serta pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis digital.
Potensi tersebut lanjut Andi kemudian menjadi bagian dari pembahasan untuk melihat bagaimana inovasi dapat dikembangkan sesuai karakter dan kebutuhan daerah.
Andi mengatakan pendekatan yang digunakan dalam penyusunan SIDa menempatkan pemerintah bukan sebagai satu-satunya aktor. Akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat juga dilibatkan dalam proses pemetaan dan perumusan arah inovasi.
Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi penting karena pengembangan inovasi daerah tidak hanya berkaitan dengan kebijakan pemerintah, tetapi juga menyangkut kemampuan masyarakat dan dunia usaha dalam mengembangkan potensi yang dimiliki.
Dari perspektif perguruan tinggi, keterlibatan Unram menunjukkan peran kampus tidak berhenti pada kegiatan akademik, tetapi juga dapat menjadi mitra pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pembangunan berbasis pengetahuan.
Program ini juga dikaitkan dengan kontribusi perguruan tinggi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs).
Penguatan inovasi ekonomi daerah diarahkan mendukung SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Sementara pengembangan ekosistem inovasi dan digitalisasi berkaitan dengan SDG 9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur.
Perencanaan pembangunan yang mengangkat potensi lokal juga dikaitkan dengan SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan. Pada sisi tata kelola, inovasi pelayanan publik mendukung SDG 16, sedangkan kolaborasi pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat menjadi bagian dari SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan.
Dengan pendekatan tersebut, roadmap tidak hanya ditempatkan sebagai dokumen administratif, tetapi sebagai pijakan untuk membangun arah inovasi daerah secara lebih terukur.
Capaian utama program ini adalah tersusunnya Roadmap SIDa Kabupaten Lombok Barat 2025–2029. Dokumen tersebut diharapkan menjadi pedoman dalam mengintegrasikan kebijakan inovasi dengan potensi lokal dan kebutuhan pembangunan daerah.
Keberlanjutan program selanjutnya bergantung pada implementasi roadmap tersebut. Konsistensi pelaksanaan, evaluasi berkala, penguatan sumber daya manusia, serta dukungan infrastruktur menjadi sejumlah faktor yang menentukan apakah inovasi yang dirancang benar-benar menghasilkan dampak bagi masyarakat.


Komentar