Mataram – Kawasan mangrove kini tak lagi sekadar dipandang sebagai benteng alami penghalau abrasi pesisir. Di tangan akademisi Universitas Mataram (UNRAM), hutan bakau di Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, bertransformasi menjadi pusat ekowisata berkelanjutan yang mengawinkan konservasi lingkungan, promosi digital, hingga pemberdayaan ekonomi warga lokal.
Lewat program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Optimalisasi Potensi Ekowisata Mangrove Melalui Penguatan Manajemen Usaha Lokal”, UNRAM hadir menjawab berbagai persoalan krusial warga pesisir. Mulai dari keterbatasan pengelolaan usaha, minimnya literasi digital, hingga terbatasnya variasi produk wisata.
Sekretaris LPPM Universitas Mataram, I Wayan Sudiarta, menegaskan bahwa program ini membawa misi penting untuk mengubah paradigma peran perguruan tinggi di tengah masyarakat.
“Kampus tidak boleh hanya menjadi menara gading penghasil teori. UNRAM harus hadir sebagai mitra strategis pembangunan wilayah. Lewat pendekatan partisipatif ini, kami ingin memastikan masyarakat pesisir menjadi aktor utama pengelola ekowisata, bukan sekadar penonton atau penerima manfaat,” ujar Sudiarta, Kamis (17/9/2026).
Sudiarta menjelaskan, pendekatan yang diusung UNRAM membuktikan bahwa menjaga kelestarian alam bisa berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan warga.
Guna memulihkan ekosistem pesisir Jerowaru, sebanyak 62.250 bibit mangrove ditanam dan 896 substrat terumbu karang ditransplantasikan di area seluas 105,8 hektar. Hasilnya luar biasa, tingkat kelangsungan hidup (survival rate) bibit mangrove tersebut mencapai angka 82 persen.
“Konservasi ini menjadi fondasi utama. Kalau alamnya rusak, nilai jual wisatanya tentu hilang. Keberhasilan tumbuh hingga 82 persen ini menunjukkan bahwa pendampingan berbasis masyarakat yang kami lakukan berjalan sangat efektif,” jelasnya.
Tak sebatas menanam pohon, UNRAM mendampingi 35 warga lokal dalam pelatihan manajemen usaha hingga mampu menyusun tiga rencana bisnis (business plan) mandiri, strategi pemasaran, dan pencatatan keuangan sederhana.
Menariknya, sentuhan teknologi digital juga disuntikkan. Tim UNRAM menggembleng pemuda setempat untuk mengelola akun promosi digital. Hasilnya, akun resmi ekowisata Jerowaru di platform TikTok melesat hingga menembus lebih dari 144 ribu pengikut dengan jangkauan konten mencapai 4.200 akun per bulan.
Guna memperluas rantai ekonomi, kelompok perempuan dan pemuda desa juga diajarkan menciptakan olahan produk turunan unik. Kini, kawasan tersebut memiliki ragam produk khas seperti kopi mangrove, sirup mangrove, hingga aneka suvenir.
Langkah komprehensif ini selaras dengan capaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan kriteria Times Higher Education (THE) Impact Rankings. Program ini mencakup kontribusi pada pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8), penanganan perubahan iklim (SDG 13), kelestarian ekosistem laut (SDG 14), serta kemitraan mencapai tujuan (SDG 17).
Sudiarta berharap, keberhasilan di Jerowaru ini bisa direplikasi di kawasan pesisir lainnya.
“Ke depan, fondasi keberlanjutan ini akan terus kami perkuat melalui penguatan kelembagaan lokal dan perluasan kolaborasi. Mangrove tidak hanya kita jaga, tapi kita hidupkan sebagai pilar pendidikan, ekonomi, dan masa depan warga pesisir,” pungkasnya.


Komentar