Mataram — Di tengah cerita tentang sosok Putri Mandalika yang terus berkembang, geliat pembangunan di kawasan Kuta Mandalika, Lombok Tengah, justru seperti menemukan titik relevansinya. Kisah yang selama ini dianggap legenda turun-temurun, perlahan tampak seperti cermin bahkan ramalan atas apa yang sedang terjadi hari ini di Mandalika.
Pandangan ini disampaikan Rata Wijaya, Ketua Blok Pujut, saat diwawancarai Wartaone terkait makna mendalam tradisi Bau Nyale.
Rata menilai, kisah Putri Mandalika tidak sekadar mengandung nilai teologis atau budaya semata. Lebih dari itu, cerita tersebut menggambarkan realitas yang kini tengah berlangsung.
Ia menyebut, tak ada yang membantah keindahan Mandalika. Bentang alamnya yang memukau perbukitan yang bergelombang, garis pantai yang meliuk bahkan ia bandingkan dengan sirkuit Phillip Island Circuit di Australia.
“Kalau diibaratkan gadis, Mandalika itu seperti perempuan dengan lesung pipi, manis, kuning langsat kulitnya, dengan segala keindahannya,” ujarnya.
Keindahan itu, lanjut Sekertaris MHA ini, menjadi magnet yang menarik orang dari berbagai penjuru dunia. Tidak hanya untuk berwisata, tetapi juga untuk berinvestasi.
Menurutnya, semua orang kini berlomba-lomba mendapatkan “sebidang hati” di Mandalika dalam bentuk tanah, properti, hingga usaha.
“Semua orang tertarik untuk mendapatkan hati Mandalika. Sekarang semua ingin investasi, ingin mendapatkan ruang di Mandalika,” jelasnya.
Fenomena itu, kata Rata, terlihat dari menjamurnya vila, restoran, hingga bangunan-bangunan yang dirancang seindah mungkin. Ia menyebutnya sebagai “seserahan” kepada Mandalika persembahan agar bisa menjadi yang terbaik di kawasan itu.
“Semua orang memberikan seserahan, menciptakan pigura terbaik dalam bentuk properti, vila unik, restoran keren, semuanya dipersembahkan ke Mandalika untuk mendapatkan hati,” sambungnya.
Tak hanya pada sektor properti, Rata juga mengaitkan fenomena ini dengan ajang MotoGP yang digelar di Sirkuit Mandalika. Ia melihat adanya kemiripan simbolik antara cerita lama dengan realitas hari ini.
“Kalau kita cocokologi sedikit, semua orang di MotoGP itu kontes untuk jadi nomor satu. Seperti pangeran yang ingin menjuarai Mandalika,” ujarnya.
Namun di balik kemegahan itu, Rata menyimpan kegelisahan. Ia mengaitkan simbol Nyale cacing laut yang muncul mewarnai laut sebagai peringatan.
Baginya, jika pembangunan di Mandalika berlangsung tanpa keadilan, tanpa mempertimbangkan masyarakat yang terdampak, maka “pengorbanan” seperti dalam kisah Putri Mandalika bisa kembali terulang dalam bentuk lain, seperti beberapa waktu lalu ancaman tsunami megathrust yang menghantui laut selatan beberapa saat lalu, dan hingga saat ini.
“Pesannya, kalau pembangunan di Mandalika tidak berkeadilan, maka dia akan menceburkan diri ke lautan. Ancaman besar seperti itu sangat nyata,” katanya.
Ia menutup dengan penegasan bahwa kisah Putri Mandalika bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan refleksi yang hidup dalam realitas hari ini.
“Mandalika akan menceburkan diri ke laut hingga semuanya adil, tidak ada lagi ribut-ribut. Cerita ini nyata sekali dengan kondisi Mandalika sekarang,” pungkasnya.
Sehingga, antara cerita dan realitas kini seolah saling bertemu membuktikan bahwa legenda bisa menjadi peringatan, bahkan ramalan, bagi masa depan.
“Bahwa memang cerita ini sangat sarat dengan nilai ajar,” tutupnya. (Zal)


Komentar