Kesehatan
Home » Berita » Petani Tembakau Rentan Katarak, Dinkes NTB Catat 15 Ribu Kasus

Petani Tembakau Rentan Katarak, Dinkes NTB Catat 15 Ribu Kasus

Kepala Dinas Kesehatan NTB, Lalu Hamzi Fikri (dok: ril)

Mataram – Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB mencatat sekitar 15.000 kasus katarak yang ditangani secara bertahap di Nusa Tenggara Barat. Jumlah tersebut berpotensi bertambah setiap tahun, seiring faktor usia dan paparan sinar ultraviolet yang meningkatkan risiko gangguan penglihatan.

Kepala Dinkes NTB, Lalu Hamzi Fikri, mengatakan petani tembakau menjadi salah satu kelompok yang rentan mengalami katarak karena kerap bekerja di bawah terik matahari.

Ia mengimbau petani dan masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan menggunakan pelindung kepala seperti caping serta kacamata hitam untuk mengurangi paparan sinar matahari.

“Jika katarak sudah terjadi, operasi adalah satu-satunya solusi medis. Dengan teknologi modern, proses operasi kini hanya berlangsung 10 hingga 15 menit saja,” kata Fikri, Selasa (27/10/2026).

Menurut Fikri, masyarakat dapat memanfaatkan BPJS Kesehatan untuk menjalani operasi katarak setelah melalui pemeriksaan atau skrining di puskesmas. Namun, pelaksanaan operasi masih menghadapi keterbatasan kuota yang disediakan BPJS Kesehatan dan Kementerian Kesehatan.

Iqbal Sebut Tim Medis RSUD NTB Dapat Super License dari Dorna

Untuk memperluas akses layanan, Pemprov NTB menggencarkan bakti sosial operasi katarak di sejumlah daerah. Salah satunya di Kabupaten Dompu, ketika tim medis provinsi turun langsung ke wilayah yang kekurangan dokter spesialis mata dan berhasil mengoperasi sekitar 350 pasien.

Berdasarkan data Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) 2004 yang disampaikan Fikri, prevalensi katarak di NTB mencapai 4 persen. Angka tersebut menempatkan NTB di urutan kedua nasional setelah Jawa Timur yang tercatat sebesar 4,6 persen.

Meski data tersebut perlu diperbarui, pemerintah tetap memperkuat penanganan katarak melalui kerja sama dengan Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dan lembaga donor Fred Hollows Foundation.

Selain katarak, Dinkes NTB juga menyoroti gangguan penglihatan pada anak yang dikaitkan dengan paparan layar gawai.
Menurut Fikri, kondisi tersebut mulai ditemukan pada anak usia taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah dasar (SD) dan dapat berdampak pada prestasi belajar.

“Selain pada orang dewasa, gangguan penglihatan akibat radiasi gawai ini juga mulai merambah ke anak-anak usia TK dan SD,” ujar Fikri.

UNRAM Kenalkan Peran Mikrobiom untuk Tingkatkan Literasi Kesehatan

Untuk mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini, pemerintah telah melatih guru, kader kesehatan, dan tenaga medis puskesmas agar dapat melakukan pemeriksaan dasar pada anak.

Bagi warga yang mengalami gangguan penglihatan selain katarak, Pemprov NTB juga menyediakan layanan pemeriksaan dan pembagian kacamata gratis melalui program Vision Center.

Fikri menyebutkan, Vision Center telah tersedia di 15 lokasi di NTB, termasuk di Lombok Utara, Lombok Timur, dan Puskesmas Bagu di Lombok Tengah yang menjadi salah satu lokasi percontohan.
Warga dapat memanfaatkan layanan skrining dan kacamata melalui fasilitas tersebut dengan ketentuan kepesertaan BPJS Kesehatan aktif. (ril)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan