Pemerintahan
Home » Berita » PMI Lombok Barat Latih Warga Sekotong Siap Siaga Hadapi Bencana

PMI Lombok Barat Latih Warga Sekotong Siap Siaga Hadapi Bencana

PMI Lombok Barat memberikan pelatihan siaga bencana berbasis masyarakat kepada warga Sekotong. (dok: ist)

Mataram – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Lombok Barat memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana melalui Pelatihan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) di Kecamatan Sekotong.

Program ini menjadi bagian dari upaya membangun desa yang lebih tangguh terhadap ancaman bencana, khususnya banjir belakang ini sering terjadi tiap tahunnya.

Pelatihan diikuti 50 peserta yang terdiri atas 30 perwakilan masyarakat dari tiga desa sasaran dan satu desa persiapan di Kecamatan Sekotong, serta 20 anggota Korps Sukarela (KSR) PMI Lombok Barat.

Selama 48 Jam Pelajaran (JPL), peserta dibekali materi pengurangan risiko bencana, kepalangmerahan, analisis ancaman dan kerentanan, pemetaan risiko, penyusunan rencana aksi masyarakat, sistem peringatan dini, koordinasi tanggap darurat, hingga simulasi penanganan bencana.

Ketua PMI Kabupaten Lombok Barat, Haris Karnain, mengatakan pendekatan penanggulangan bencana harus lebih menitikberatkan pada upaya pencegahan dibanding hanya merespons setelah bencana terjadi.

Presiden Resmikan Bendungan Meninting Besok, Iqbal Titip Pentingnya Irigasi di Lobar dan Loteng

“Fokus kami sekarang adalah aksi antisipasi. Masyarakat harus memiliki kapasitas untuk bertindak sebelum bencana terjadi, bukan hanya saat bencana berlangsung,” ujar Haris.

Menurutnya, pemahaman masyarakat terhadap risiko di wilayahnya menjadi kunci untuk menekan dampak bencana.

“Ketika masyarakat memahami risiko dan tahu apa yang harus dilakukan berdasarkan informasi peringatan dini, potensi korban jiwa maupun kerugian bisa ditekan secara signifikan,” katanya.

Haris menjelaskan, Kecamatan Sekotong menjadi salah satu wilayah prioritas karena memiliki daerah aliran sungai (DAS) yang rawan banjir saat curah hujan tinggi. Untuk mendukung upaya mitigasi, sejumlah titik telah dipasang Early Warning System (EWS) sebagai sistem peringatan dini banjir.

Namun, menurutnya, keberadaan teknologi tersebut harus dibarengi dengan kesiapan masyarakat dalam merespons informasi yang diterima.

Najmul Tolak Pipa Bawah Laut Atasi Krisis Air di Gili Meno, Malah Pilih Beach Well

“Early Warning System tidak cukup hanya dipasang. Masyarakat juga harus memahami bagaimana merespons informasi itu agar sistem benar-benar mampu menyelamatkan warga melalui tindakan yang cepat, tepat, dan terkoordinasi,” jelasnya.

Pelatihan SIBAT merupakan bagian dari rangkaian Program SIAP SIAGA yang sebelumnya telah melaksanakan berbagai tahapan penguatan kesiapsiagaan di Lombok Barat.

Di antaranya penyusunan Early Action Protocol (EAP) banjir berbasis masyarakat, pembentukan kelompok kerja tingkat kabupaten, penilaian sekolah aman bencana, penyempurnaan EAP agar lebih inklusif bagi kelompok rentan, hingga simulasi penerapan prosedur penanganan bencana.

Pelatihan tersebut dipandu oleh Tim Pelatih Kesiapsiagaan Berbasis Masyarakat (KBBM) PMI Lombok Barat yang telah bersertifikat nasional. Selain pembelajaran di kelas, peserta juga mengikuti diskusi kelompok, studi kasus, latihan lapangan, dan simulasi agar mampu merespons kondisi darurat secara cepat dan tepat.

Kegiatan itu juga terselenggara melalui dukungan Palang Merah Australia dalam Program SIAP SIAGA yang bekerja sama dengan PMI untuk memperkuat kapasitas masyarakat menghadapi bencana.

Pakai Putusan 1960, Kades Kuripan Kerahkan Ratusan Warga Kuasai 4 Ha Lahan Warga Babussalam

Melalui pelatihan ini, PMI Lombok Barat berharap para peserta dapat menjadi penggerak kesiapsiagaan di desa masing-masing, menyebarluaskan pengetahuan kepada masyarakat, sekaligus membangun budaya sadar risiko untuk memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi bencana. (ril)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan