Pemerintahan
Home » Berita » ‎Pemkot Mataram Prioritaskan Angkut Sampah Basah Gegara Pembatasan Ritase TPA

‎Pemkot Mataram Prioritaskan Angkut Sampah Basah Gegara Pembatasan Ritase TPA

Mataram – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram, menerapkan skala prioritas dalam pengangkutan sampah basah dari saluran, sungai, dan laut. Kebijakan ini diambil menyusul pembatasan ritase pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat, yang hanya memperbolehkan satu ritase per hari.

‎Kepala Dinas PUPR Kota Mataram, Lale Widiahning, mengatakan pembatasan tersebut berdampak langsung pada keterlambatan armada pengangkut sampah masuk ke TPA, sehingga pihaknya harus mencari alternatif penanganan sementara.

‎”Kebijakan satu ritase ke TPA membuat armada kami tertahan. Karena itu, pengangkutan dilakukan dengan skala prioritas,” ujar Lale, Rabu (17/12/2025).

‎Sebagai solusi sementara, PUPR memanfaatkan Tempat Penampungan Sementara (TPS) Sandubaya sebagai lokasi pembuangan alternatif. TPS tersebut saat ini menjadi satu-satunya pilihan untuk menampung sampah hasil pengerukan saluran, sungai, dan drainase.

‎Akibat keterbatasan tersebut, layanan pengangkutan sampah di lapangan tidak bisa dilakukan secara maksimal. PUPR pun telah menyampaikan kepada para petugas bahwa tidak semua sampah dapat diangkut dengan cepat.

‎”Prioritas kami adalah sampah basah atau yang mengandung bahan busuk karena berpotensi mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat,” jelasnya.

‎Lale mengungkapkan, volume sampah yang harus diangkut setiap hari jauh melebihi kapasitas armada yang dimiliki. Idealnya, Kota Mataram membutuhkan 20 hingga 25 unit dump truck untuk menangani seluruh sampah harian, terutama dari hasil pengerukan sungai dan saluran.

‎Namun saat ini, Pemkot Mataram hanya memiliki tujuh unit dump truck. Dengan kondisi operasional normal, armada tersebut maksimal hanya mampu melayani sekitar 14 ritase per hari atau dua ritase per truk.

‎”Setiap dump truck hanya bisa mengangkut sekitar empat meter kubik sampah. Itu pun masih banyak yang belum terangkut,” katanya.

‎Selain sampah, hasil normalisasi sungai dan saluran juga didominasi oleh sedimen atau tanah. Material tersebut nantinya akan dimanfaatkan untuk kebutuhan pengurukan di lokasi-lokasi tertentu.

‎”Yang kami angkut bukan hanya sampah, tapi juga sedimen tanah,” ujarnya. (buk)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan