Ekonomi Pemerintahan
Home » Berita » Ekonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen Triwulan I 2026, Industri Pengolahan Penyumbang Tertinggi

Ekonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen Triwulan I 2026, Industri Pengolahan Penyumbang Tertinggi

Kepala BPS NTB, Wahyudin saat menyampaikan rilis resmi terkait pertumbuhan ekonomi di NTB sepanjang tahun 2025 pada Kamis, 5 Februari 2026.

Mataram – Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I 2026 mencapai 13,64 persen dibanding Triwulan I 2025 secara tahunan atau year on year (y on y).

Kepala BPS NTB, Wahyudin, mengatakan pertumbuhan tersebut terjadi di seluruh lapangan usaha, dengan sektor industri pengolahan menjadi penyumbang tertinggi dengan angka 60,25 persen. Seiring dengan meningkatnya aktivitas smelter milik PT Amman Mineral di Kabupaten Sumbawa Barat.

“Lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah Industri Pengolahan tumbuh sebesar 60,25 persen. Pertambangan dan Penggalian tumbuh sebesar 31,80 persen,” ujarnya dalam rilis resmi BPS NTB, Selasa malam (5/5/2026).

Selain itu, sektor penyediaan akomodasi atau transportasi dan makan minum tumbuh 10,84 persen serta pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 10,31 persen.

Sejumlah sektor lain juga mencatat pertumbuhan positif, menandakan pemulihan ekonomi yang merata.

Regulasi Izin Tambak Berubah, Beberapa Investor Tunda Investasi di NTB

Secara struktur, perekonomian NTB masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi 22,23 persen, disusul pertambangan dan penggalian sebesar 19,71 persen serta perdagangan sebesar 14,10 persen.

“Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat didominasi oleh lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 22,23 persen,” kata Wahyudin.

Meski tumbuh tinggi secara tahunan, ekonomi NTB pada Triwulan I 2026 tercatat mengalami kontraksi sebesar 1,30 persen jika dibandingkan dengan Triwulan IV 2025 atau quarter to quarter (q-to-q).

“Ekonomi Nusa Tenggara Barat Triwulan I-2026 dibanding Triwulan IV-2025 mengalami kontraksi sebesar 1,30 persen. Lapangan usaha yang mengalami kontraksi diantaranya Industri Pengolahan mengalami kontraksi sebesar 31,02 persen,” jelasnya.

Namun demikian, beberapa sektor masih mencatat pertumbuhan triwulanan, seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan yang tumbuh 21,33 persen serta pertambangan dan penggalian sebesar 1,91 persen.

Pak Gubernur, Tali Asih 518 Honorer PHK Tak Kunjung Cair

Secara regional, kinerja NTB turut mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan Bali dan Nusa Tenggara yang mencapai 7,93 persen, tertinggi secara nasional.

Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut lonjakan ini didorong oleh ekspor luar negeri NTB yang meningkat signifikan.

“Dimana ekspor luar negeri tumbuh sebesar 8,27 persen dimana ini menopang pertumbuhan ekonomi NTB yang saat ini datang di triwulan 1 2026 mencapai 13,64 persen,” kata Amalia.

Ia menambahkan, peningkatan ekspor tersebut tidak lepas dari kinerja sektor pertambangan dan industri pengolahan logam yang tumbuh pesat.

“Dimana lapangan usaha pertambangan tumbuh 31,80 persen secara year-on-year dan industri pengolahan juga tumbuh secara tahunan sebesar 60,25 pertambangan,” ujarnya.

Tok! Eks Kepala UPTD Gili Tramena dan Dirut PT Ombak Divonis 1,6 Tahun

Menurutnya, kebijakan relaksasi ekspor konsentrat sejak Oktober 2025 turut menjadi faktor pendorong meningkatnya ekspor hasil olahan logam dari NTB. (ril)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan