Mataram – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada April 2026 berada di angka 128,00 atau mengalami penurunan sebesar 1,48 persen, dibandingkan periode April 2025 yang masih menyentuh 129,93.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, menjelaskan penurunan ini dipicu oleh turunnya harga hasil pertanian yang diterima petani, sementara biaya yang harus dikeluarkan justru meningkat sebesar 0,37 persen.
Kenaikan indeks harga yang dibayar petani ini mencerminkan meningkatnya biaya konsumsi rumah tangga dan biaya produksi pertanian di kawasan perdesaan.
“Penurunan NTP ini dikarenakan Indeks Harga yang diterima petani (It) turun sebesar 1,12 persen, sementara Indeks Harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,37 persen,” ujarnya melalui rilis resmi BPS NTB, Senin (4/5/2026).
Ia merinci, penurunan NTP dipengaruhi oleh melemahnya kinerja di sebagian besar subsektor pertanian, diantaranya subsektor tanaman oangan turun sebesar 1,07 persen, subsektor hortikultura turun 4,46 persen, kemudian subsektor perkebunan rakyat turun 1,94 persen, dan subsektor perikanan turun sebesar 2,54 persen.
Sementara itu, hanya subsektor peternakan yang mencatatkan kenaikan NTP sebesar 0,77 persen.
Tak sampai di situ, NTP April 2026 juga turun jika dibandingkan dengan Maret 2026. Penurunannya mencapai 1,12 persen, yakni dari 164,59 menjadi 162,74.
“Pada bulan April 2026, It mengalami penurunan sebesar 1,12 persen dibanding It bulan Maret 2026, yaitu dari 164,59 menjadi 162,74,” jelas Wahyudin.
Secara umum, penurunan NTP ini juga menunjukkan daya tukar petani di NTB mengalami tekanan. Kondisi ini menjadi sinyal perlunya perhatian terhadap stabilitas harga hasil pertanian serta pengendalian biaya produksi agar kesejahteraan petani tetap terjaga.
“Pada bulan April 2026, Ib naik sebesar 0,37 persen, yaitu dari 126,68 menjadi 127,14,” tandasnya. (ril)


Komentar