Mataram – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ingin mencoba terobosan baru dengan memperkuat ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif melalui optimalisasi pembiayaan berbasis syariah.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar NTB untuk menjadi pusat ekonomi syariah nasional, yang terintegrasi dengan pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf).
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan, arah pembangunan pariwisata NTB kini berfokus pada konsep pariwisata berdaya, yakni pariwisata yang bertumpu pada kualitas dan keberlanjutan. Tidak lagi hanya sekadar kuantitas atau jumlah kunjungan wisatawan.
“Kita ingin membangun pariwisata yang berkualitas, bukan sekadar ramai. Pariwisata yang datang menghormati kita, menghormati budaya dan alam kita,” ujarnya dalam Forum Economic Talk bertajuk ‘Pariwisata Berdaya: Pembiayaan Syariah untuk Desa Wisata dan Ekonomi Kreatif NTB’ yang digelar di Aula Bank NTB Syariah, Mataram, Senin (23/2/2026).
Menurutnya, pariwisata tidak lagi semata-mata diukur dari tingginya angka kunjungan wisatawan, melainkan dari kesadaran dan sikap wisatawan dalam menghargai nilai-nilai lokal, budaya, serta menjaga kelestarian lingkungan sekitar.
“Pariwisata bukan hanya soal jumlah kunjungan. Yang lebih penting adalah bagaimana wisatawan memiliki kesadaran untuk menghargai budaya kita dan menjaga lingkungan kita,” katanya.
Iqbal juga menekankan pentingnya konektivitas antara ekosistem pariwisata dan budaya agar keduanya tumbuh selaras dan saling menguatkan. Pemprov NTB lanjutnya, terus mempercepat pembenahan destinasi wisata untuk memastikan kenyamanan dan keamanan wisatawan.
Kemudian dari sisi aksesibilitas, mantan Dubes RI untuk Turki itu mengatakan bahwa NTB bersiap membuka konektivitas internasional baru sebagai langkah strategis dalam memperluas pasar global. Iqbal mencontohkan bahwa dalam waktu Bandara Lombok akan memiliki penerbangan langsung ke Darwin, Australian dan Bangkok, Thailand.
“Dalam waktu dekat kita akan memiliki enam penerbangan baru langsung, termasuk rute menuju Darwin dan Bangkok. Ini bagian dari upaya membuka akses global bagi NTB,” jelasnya.
Maka dari itu, ia optimis penguatan konektivitas tersebut akan memperkokoh posisi NTB sebagai destinasi unggulan yang mampu bersaing secara global tanpa harus kehilangan identitas lokalnya.
Di tempat yang sama, Direktur Pembiayaan Bank NTB Syariah, Agus Suhendro menegaskan peran pihaknya sebagai motor penggerak ekonomi daerah. Fokus utama diarahkan pada penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta pembiayaan produktif bagi pelaku UMKM, khususnya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Ia menyampaikan bahwa penguatan ekosistem desa wisata menjadi prioritas utama pihaknya tahun ini.
“Fokus utama tahun ini adalah memperkuat ekosistem desa wisata dan pelaku ekonomi kreatif melalui skema pembiayaan yang inklusif dan kompetitif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam pengembangan desa wisata, perbankan tidak hanya berperan sebagai lembaga pembiayaan, tetapi juga sebagai pengelola sistem transaksi yang terintegrasi di dalam kawasan wisata. Yakni menggunakan layanan perbankan dalam melakukan pembayaran.
“Seluruh aktivitas ekonomi di desa wisata kita arahkan melalui sistem perbankan. Mulai dari penjualan tiket masuk, pembayaran homestay, pembelian suvenir, layanan restoran, hingga jasa pemandu wisata,” paparnya.
Digitalisasi melalui tiket elektronik dan sistem pembayaran non-tunai menjadi instrumen utama. Langkah ini diharapkan mampu menjaga perputaran ekonomi tetap berada di dalam desa.
“Tujuannya agar transaksi tidak bocor ke luar desa, melainkan tetap berputar dalam satu ekosistem keuangan yang terkontrol,” tegasnya.
Meski demikian, ia mengakui penguatan ekosistem desa wisata masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait akses permodalan, kapasitas manajerial, serta literasi keuangan dan digital para pelaku UMKM.
Karena itu, sinergi antar stakeholder dinilai menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan dan berdampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat desa.
Sebagai langkah konkret, Bank NTB Syariah berencana membentuk UMKM Center di kawasan desa wisata. Fasilitas ini akan difungsikan sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus ruang promosi produk lokal, terutama saat festival desa, kegiatan budaya, dan agenda pariwisata lainnya.
“UMKM Center ini tidak hanya menjadi ruang promosi, tetapi juga tempat pendampingan usaha, peningkatan literasi keuangan, dan penguatan digitalisasi pembayaran,” tandasnya. (ril)


Komentar