Pemerintahan
Home » Berita » Disperindag NTB Telusuri Dugaan Penimbunan Gas Melon

Disperindag NTB Telusuri Dugaan Penimbunan Gas Melon

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi NTB, Lalu Wiranata saat ditemui di Gedung Sangkareang Kantor Gubernur NTB. (dok: ril)

Mataram – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi NTB memastikan stok gas elpiji 3 kilogram atau gas melon dalam kondisi aman, meski di lapangan masyarakat mengeluhkan sulitnya mendapatkan gas subsidi tersebut.

Kendati demikian, pemerintah menelusuri kemungkinan adanya penimbunan atau hambatan dalam proses distribusi.

Kepala Disperindag NTB, Lalu Wiranata, mengatakan secara pasokan tidak ada masalah. Distribusi dari Pertamina disebut berjalan sesuai kuota dan telah disalurkan ke pihak-pihak yang menjadi distributor resmi.

“Tidak ada kelangkaan. Semua yang memiliki hak untuk mendistribusikan sudah mengambil sesuai dengan kuota yang diberikan,” ujarnya saat ditemui, Selasa (21/4/2026).

Namun ia mengakui, kondisi di tingkat masyarakat menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara data distribusi dan ketersediaan barang di lapangan. Karena itu, Disperindag tengah menelusuri titik persoalan dalam rantai distribusi.

Utang RSUD NTB Sisa Rp 41 Miliar, dr. Asrul: Lunas Dalam Sebulan

“Secara stok tidak ada masalah. Tapi kalau di masyarakat barangnya sulit ditemukan, berarti ada masalah di distribusi yang sedang kami cari,” tuturnya.

Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah dugaan penimbunan gas di lokasi tertentu. Wiranata menyebut sebelumnya Disperindag menemukan kasus penimbunan di kandang ayam, yang diduga menjadi salah satu penyebab distribusi tidak berjalan normal.

“Kami masih mengecek di mana letak kemacetannya. Kemarin ditemukan kasus penimbunan di kandang ayam. Bisa jadi ada kejadian serupa di tempat lain, dan ini sedang kami telusuri,” ucapnya.

Untuk memastikan alur distribusi, Disperindag juga meminta data rinci dari Pertamina terkait penyaluran gas ke NTB. Data tersebut diharapkan dapat membantu mengidentifikasi potensi penyimpangan, baik di tingkat agen maupun pangkalan.

“Insya Allah datanya segera kami terima. Kami harap dalam satu dua hari ini sudah bisa jelas, karena ini menyangkut kebutuhan pokok masyarakat,” katanya.

Inspektorat Bentuk Tim Audit Pabrik Pakan Mangkrak di BRIDA NTB

Pengawasan terhadap distribusi dan harga juga mulai diperketat. Wiranata menegaskan akan mengambil langkah tegas jika ditemukan praktik penimbunan atau penyaluran yang tidak sesuai aturan.

Menurutnya, keberadaan gas elpiji 3 kilogram sangat vital bagi masyarakat, terutama untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Jika distribusi terganggu, dampaknya bisa langsung dirasakan oleh rumah tangga.

“Kalau tidak ada gas, masyarakat bisa kesulitan memasak. Tidak mungkin kembali ke kayu, itu juga berdampak ke lingkungan,” tandasnya. (ril)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan