Mataram – Komitmen nyata ditunjukkan PT Bank CIMB Niaga Tbk bersama Berdaya Bareng dalam mendongkrak kelas para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Indonesia Timur, Sabtu (27/6/2026), bertempat di Kota Mataram.
Acara ini digelar bertajuk Graduation Program Community Link #JadiBerkelanjutan Musim 4. Acara ini menandai tuntasnya seluruh rangkaian pelatihan dan pendampingan intensif bagi para pelaku usaha lokal.
Menariknya, program ini tidak sekadar memberikan teori atau pelatihan di kelas. CIMB Niaga dan Berdaya Bareng juga membuka karpet merah bagi UMKM potensial untuk mengakses pembiayaan tanpa bunga.
Direktur Compliance, Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga, Fransiska Oei mengungkapkan, program ini merupakan wujud tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Fokus utamanya adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat, membidik kaum perempuan dan kelompok rentan yang selama ini kesulitan menyentuh layanan keuangan formal.
“Melalui program ini, kami membekali UMKM dengan pelatihan, pendampingan, dan akses pembiayaan agar mereka bisa naik kelas, memperluas pasar, dan tumbuh secara berkelanjutan. Harapan kami, bisnis mereka maju dan bisa berdampak positif bagi lingkungan sekitarnya,” kata Fransiska.
Sejak digulirkan pertama kali pada tahun 2022, program ini terus melebarkan sayapnya. Mulai dari Mamminasata, Toraja, Manado, Samarinda, Balikpapan, Kupang, hingga pada musim keempat ini merambah ke Banjarmasin, Pontianak, Kendari, termasuk Bumi Gora, Lombok.
Catatan panitia, total ada 979 pelaku UMKM yang telah tersentuh pelatihan, dan 150 di antaranya sukses mengantongi akses permodalan. Selama empat musim berjalan, total dana yang dikucurkan CIMB Niaga menembus angka Rp1,3 miliar lebih.
Khusus untuk musim keempat ini, ada 284 UMKM yang ikut serta. Hasilnya, 57 UMKM lolos mendapat sokongan pembiayaan tanpa bunga maupun bantuan nonfinansial.
Peluang emas ini berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku usaha lokal. Tercatat ada sekitar 15 UMKM asal NTB yang sukses menerima bantuan. Selama empat kali pelaksanaan program, total bantuan finansial yang mengalir ke NTB mencapai kisaran Rp 270 juta, ditambah dukungan nonfinansial senilai lebih dari Rp 200 juta.
Co-founder Berdaya Bareng, Pratiwi Hamdana menjelaskan, proses seleksi berjalan sangat ketat. Indikator penilaian dilihat dari komitmen kehadiran, penyelesaian tugas, perubahan model bisnis, hingga kelihaian saat mempresentasikan proposal bisnis.
“Mayoritas peserta kami adalah kaum ibu-ibu atau pelaku usaha perempuan, persentasenya mencapai 90 persen,” sebut Pratiwi.
Pendampingan pun dilakukan secara total, mengombinasikan kelas daring (online) dan luring (offline), hingga survei langsung ke lapangan. Skema bantuannya pun adaptif.
Bagi pemula, modal awal dikucurkan Rp5 juta hingga Rp7 juta. Jika pinjaman tanpa bunga ini lunas, mereka bisa naik plafon hingga Rp20 juta sampai Rp25 juta.
“Ada juga peserta yang memang murni hanya butuh bimbingan usaha dan upgrade ilmu, bukan modal. Jadi, bantuannya benar-benar kami sesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” imbuhnya.
Pratiwi tak menampik, tantangan terbesar pelaku usaha mikro saat ini adalah sistem kerja yang masih one-man show karena semua diurus sendiri mulai dari dapur hingga jualan. Dampaknya, mereka buta terhadap target pasar. Namun, lewat pendampingan ini, strategi pemasaran mereka dirombak menjadi jauh lebih efektif.
Cerita sukses datang dari salah satu peserta asal NTB, Yosi Eka Kurniawati. Pemilik Ombak Food asal Desa Wisata Bonjeruk, Lombok Tengah ini mengaku merasakan dampak instan setelah digembleng dalam program ini.
Usaha yang dirintis Yosi sejak 2017 ini memproduksi ginger roll (jahe gulung), camilan herbal alternatif jamu yang ramah kesehatan karena bebas gluten dan kolesterol, serta diolah tanpa minyak.
Kini, produk Ombak Food sudah nangkring di pusat oleh-oleh papan atas Lombok seperti Sasaku, Omah Lombok, hingga NTB Mall. Hebatnya lagi, produk lokal Lombok Tengah ini sudah mencicipi pasar ekspor ke Singapura, Malaysia, hingga Selandia Baru dengan pengiriman mencapai 200 kotak pada momen tertentu.
Yosi mengakui, sebelum ikut program ini, ia hanya asal jualan tanpa paham segmentasi pasar.
“Dulu yang penting laku. Sekarang setelah dibina, usaha kami jauh lebih terarah. Kami paham siapa target market kami, jadi menentukan brandingdan strategi promosi tidak lagi meraba-raba,” aku Yosi sembari memuji materi pelatihan yang mengupas tuntas dari A sampai Z, mulai dari urusan kemasan, keuangan, hingga akses modal. (ril)


Komentar